Buku karangan Ralph Schoeman yang berjudul “Sisi Gelap Zionisme” mengingatkan kepada saya tentang sisi gelap zaman orde baru.,
dimana ketika itu Imperialisme dan kolonialisme para penguasa negeri ini telah membutakan dan membungkam segala aspek kehidupan kita, terlihat seakan pembangunan di negeri ini mengalami kemajuan tetapi di balik itu semua kita sebenarnya mengalami degradasi ekonomi.
Harapan rakyat yang dibungkam dan yang ingin mencari kebenaran ketika itu hanyalah tertumpu pada media massa yang secara lihai dalam melaporkan setiap kebenaran yang ada. Majalah Tempo adalah salah satu media yang berani membeberkan sisi gelap pemerintahan Soeharto.
Negeri ini bukanlah pecundang, hanya saja negeri ini belum terbiasa menjadi pemenang. Ada suatu ketika saya mencoba untuk melihat sisi baiknya hidup tapi kebaikan itu sungguh berat untuk dicari dalam hidup, golongan kapitalis menindas mereka yang miskin, yang miskin memberontak, dan yang kaya membinasakan dan memperbudak yang membangkang, berpikir nasib mereka hidup ditakdirkan memang untuk mengalami degradasi produktivitas, dan yang lebih parah Sistem hukum yang ada seakan hanyalah untuk mempermainkan hidup mereka.
Menurut Max Lane permasalahan di Indonesia terdapat pada penguasa sendiri yang membuat perpecahan kelas semakin tidak bisa lagi dikontrol di negeri ini. Perpecahan kelas tidak mungkin lagi ditutupi dengan konsep persatuan dan kesatuan penguasa. Karena persatuan dan kesatuan yang mereka terapkan berlangsung bersamaan dengan penindasan yang mereka lakukan, demi kepentingan segelintir elit. Kekuatan militer di Indonesia telah lama kita ketahui sebagai pelindung kekuatan perusahaan – perusahan yang merusak kepentingan rakyat secara nasional: Perusahaan yang merusak lingkungan, yang menindas terhadap penduduk asli setempat, beroperasi diatas upah buruh yang murah adalah ciri – ciri sistem aliran kanan. Para – para elit yang berkuasa membentuk suatu jaringan korporasi guna melancarkan upaya mereka untuk menghisap darah rakyat sipil.
Ketika Pemimpin yang tua sudah kehilangan akal dalam meneruskan perjuangan dan pembangunan bangsa ini, maka sebagai yang muda kita harus berani mengambil ahlinya dengan diplomasi dua gelas anggur yang di tengahnya sebuah pistol yang berpeluru satu. Setidakya Che – Guevara pernah menyatakan “Siapa yang melawan kezaliman, dia adalah sahabatku”. Bangsa ini sudah terzalimi, dan kita bersama harus melawannya, sampai ketika kita membuka lembaran baru…revolusi. Let mercy come and wash away