.
"Era Baru" menuju One World Government I
Pengarang
: WOA
-
Summary rating: 5 stars
(1 Tinjauan)
-
Kunjungan : 103
-
kata:900
-
Comments
:
0
#800000; font-family: verdana,sans-serif;">
Dunia
Memasuki Era Baru
Konferensi
Tingkat Tingkat (KTT) G-20 di London berakhir sudah. Hasilnya
luar biasa. Pernyataan yang dikeluarkan banyak merupakan langkah
berani, sesuatu yang sulit dibayangkan terjadi 10 tahun yang lalu.
Dalam pidato penutupannya PM Inggris Gordon Brown selaku tuan rumah
mengatakan bahwa Washington
Consensus
sudah berakhir. Konsensus yang pertama kali disebutkan oleh ekonom AS
John Williamson pada tahun 1989 ini merujuk kepada konsep reformasi
dan liberalisasi yang diinginkan AS dan dipaksakan lewat IMF dan Bank
Dunia pada saat kedua lembaga ini memberikan bantuan dana kepada
negara yang terpukul krisis ekonomi. Lalu apa masalahnya, bukankah
tujuannya untuk membantu?
Dani
Rodrik
dari Harvard University berkomentar dalam bukunya “Goodbye
Washington Consensus, Hello Washington Confusion?”
Banyak pihak menuduh bahwa konsep yang mempunyai tiga mantra
(stabilisasi, privatisasi dan liberalisasi) itu justru lebih banyak
menguntungkan negara-negara maju. Kebijakan ini membuat
negara-negara berkembang terbuka untuk dieksploitasi. Kekayaan alam
negara berkembang dapat pindah ke negara maju (padahal orangnya tidak
bisa pindah karena terganjal urusan visa, dan tetap tinggal miskin di
negaranya masing-masing) yang membuat orang kaya di negara maju
semakin kaya.
Kantor
berita Reuters menuliskan, “G-20
menandai berakhirnya kejayaan kapitalisme Anglo-Saxon.”
Hal ini merujuk pada liberalisasi lepas yang didukung oleh Inggris
di mana AS sebagai pionirnya. Kapitalisme Anglo-Saxon mencuat ketika
AS dipimpin oleh Presiden AS Ronald Reagan dan Inggris dipimpin oleh
PM Margaret Thatcher pada dekade 1980-an. – Kompas,
4 April 2009.
Ketidakadilan
yang dirasakan oleh negara-negara berkembang akibat kebijakan di atas
rawan untuk dieksploitasi oleh Cina dan Rusia yang belakangan semakin
akrab dengan Amerika Latin dan Afrika. Tetapi pada saat yang sama
kehancuran perekonomian dunia saat ini sangat dirasakan oleh
orang-orang kaya yang kehilangan investasinya. Hal ini sesungguhnya
merupakan teguran dari Tuhan bagi mereka yang menimbun harta di
dunia.
Situasi
yang dapat berkembang menjadi tidak terkendali di atas membuat para
pemimpin dunia banting stir merubah arah yang ditempuh. Kalau masih
meneruskan jalan yang selama ini ditempuh, di ujung sana ternyata ada
jurang yang siap mengakhiri perjalanan masyarakat dunia. Itu
sebabnya Steven Schrage, ekonom dari Center
for Strategic and International Studies di
Washington mengatakan: “Ada
kemajuan yang berarti; selama ini G-8 terkenal dengan
pernyataan-pernyataan yang bombantis tetapi tak bergigi; G-20 kali
ini memang berbeda.”
Apanya yang berbeda dan mengapa berbeda?
G-8
terdiri dari negara G-7 ditambah Rusia (yang digandeng supaya jangan
menciptakan blok baru). G-20 sudah mengikutsertakan Cina dan India,
dua negara berpenduduk terbesar di dunia yang perekonomiannya lagi
naik daun. Cina khususnya, harus diajak ikut bertanggung jawab
memperbaiki kemelut perekonomian dunia karena perdagangannya yang
sudah merambah dunia dan mempunyai cadangan devisa hampir
USD2triliun. Cina, sebagaimana Rusia, harus diajak supaya jangan
bikin blok baru. Lebih baik masuk dalam kelompok yang sama sehingga
bisa dikontrol dan sepak terjangnya bisa diawasi. Cina saat ini
menghadapi buah simalakama. Karena dari cadangan devisanya yang
besar, lebih USD1triliun disimpan dalam bentuk US
Treasury
bonds
(obligasi yang dikeluarkan pemerintah AS). Dengan
demikian Cina berkepentingan agar dolar AS tidak jatuh. Karena kalau
AS bangkrut obligasi pemerintah AS tidak ada artinya. Demikian juga,
kalau Cina melepas atau menjual obligasi tersebut, harganya juga akan
jatuh.
Yang
lucunya adalah peningkatan cadangan devisa Cina sebanyak
USD1.5triliun dalam 5 tahun terakhir ini tidak terlepas dari surplus
perdagangannya yang luar biasa dengan AS setiap tahunnya. AS yang
begitu konsumtif terlalu banyak mengimpor dari Cina barang-barang
yang harganya lebih murah, sedangkan barang produksi AS kurang laku
di Cina karena harganya mahal. Iklim kapitalisme dan konsumtif di
akhir zaman telah membuat perekonomian AS lebih besar pasak dari
tiang. Dalam sistem kapitalis tidak dikenal penghematan dan
pengetatan ikat pinggang. AS menuduh Cina menjual barang murahan
(padahal konsumen AS sangat menyukai produk Cina yang murah itu dan
pemerintah tidak dapat melarang hal itu karena terikat dengan prinsip
perdagangan bebas menurut WTO – World
Trade Organization).
Tidak heran kalau Paul
Krugman,
ekonom AS pemenang hadiah Nobel yang suka mengkritik pemerintah
secara bercanda mengatakan tentang perdagangan AS dengan Cina: “They
give us poisoned produc