Anarkisme kerap muncul karena perbedaan pilihan, apa pun itu, termasuk pilihan
politik kita. Karena itu, banyak orang menganggap
politik itu kotor dan keras. Anggapan ini tidak berlaku bagi Ade (7) dan Maya (12), peserta lomba mewarnai
partai politik di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan.
Sedari pagi hingga sore, mereka mengenali dunia yang katanya orang keras itu melalui goresan pensil warna mereka. Dua anak ini bergabung bersama tiga ratus anak lain mengikuti acara yang sama. Tidak banyak bersuara, anak-anak itu mengembara dalam dunia warna. Seluruh peserta duduk di lantai dan mewarnai gambar di meja kayu ruang terbuka dan pelataran ruang pamer Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU).
Namanya anak, pengetahuan mereka tidak seluas orangtuanya. Mereka mewarnai gambar sesuai dengan apa yang pernah mereka lihat di televisi, baliho, ataupun poster calon anggota legislatif (caleg). Maya, misalnya, siswi SMP Panca Budi, Medan, tahu betul warna partai bernomor urut 8, 23, 28, dan 31. Partai-partai ini, katanya, sering dia lihat di TV maupun di jalan. Untuk partai lain, terutama partai kecil, dia belum banyak tahu.
”Saya suka partai ini,” katanya sembari menunjuk salah satu partai besar berwarna kuning. Pilihan partai Maya berbeda dengan pilihan Ade. Siswi kelas I SD ini lebih menyukai partai berwarna biru seperti pilihan orangtuanya. Maya dan Ade duduk berhadap-hadapan di lomba ini. Mereka tidak saling mengejek meskipun pilihan kedua anak ini berbeda.
Tidak semua warna partai mereka gambar dengan benar. Baik Maya maupun Ade mengandalkan daya ingat mereka, selebihnya menggantungkan kekuatan imajinasi. Kesalahan mereka bisa dipahami karena jumlah partai di Indonesia ada 44, termasuk enam partai lokal di Nanggroe Aceh Darussalam. Ade dan Maya adalah pelukis kecil yang sudah puluhan kali mengikuti lomba lukis. Sebagian dari karya mereka dipamerkan di ruang pamer TBSU.
Ketua panitia lomba mewarnai, Makmur Digdaya (42), mengatakan, lomba ini bertujuan untuk mengenalkan
demokrasi kepada anak. Pengenalan demokrasi, katanya, tidak selalu harus melalui media formal yang kaku, tetapi juga bisa melalui seni. Untuk merangsang gairah anak-anak, panitia menyediakan hadiah berupa trofi penghargaan. Panitia sengaja tidak memberi hadiah uang karena uang bukanlah satu-satunya yang membuat anak bangga.
”Mereka yang paling banyak mewarnai dengan benar akan jadi pemenang,” tutur Makmur. Dia hanya merangsang mereka melalui teknik melukis. Selanjutnya, dia membiarkan mereka menggunakan imajinasi untuk mencipta untuk semua hal, termasuk imajinasi mereka mewarnai gambar partai politik.
Ade dan Maya adalah anak didik Makmur dalam les melukis. Keduanya bersahabat meski pilihan mereka berbeda. Mengapa tidak?