Entah mengapa iklan partai Demokrat menggunakan latar belakang yang didominasi oleh foto langit berawan. Demikian pula, entah
apa yang dipikirkan oleh penulis naskah iklan, dengan kata-kata sloganistik seperti “Berjuang Untuk Rakyat” yang berulang tiga kali dalam dua halaman iklan tersebut. Seringkali untuk menyampaikna sesuatu yang tidak nyata, atau sesuatu yang tidak diyakininya, seseorang merasa harus untuk mengucapkan atau menyatakannya berulang kali. Cobalah para juru kampanye
Partai Demokrat menyatakan slogan “berjuang untuk rakyat” itu di hadapan ribuan warga korban lumpur Lapindo yang terpaksa mengungsi. Sementara SBY tidak sekalipun pernah menegur – apalagi memberhentikan sementara - Menko Kesra Aburizal Bakrie yang sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan berbau conflict of interest, antara dirinya sebagai pejabat publik atau dirinya sebagai pemegang saham Lapindo Brantas Inc.
Dalam menafsir sebuah rangkaian tanda visual berbentuk iklan, akan muncul banyak makna. Makna pertama gambar langit berawan dapat menggambarkan bahwa bendera Indonesia akan berkibar tinggi dan jaya di langit. Namun makna lainnya adalah bahwa iklan ini menunjukkan sesuatu yang mengawang-awang dan tidak membumi. Atau bahkan SBY sebagai pemimpin adalah sosok yang eksklusif, tidak merakyat. Namun hal tersebut masih belum seberapa bermasalah dibandingkan halaman belakangnya yang berisi
testimoni para kader Partai Demokrat.
Testimoni Kader Pada halaman testimonial pernyataan para pendukung partai Demokrat yang mengungkap hal-hal yang meragukan serta bukan menjadi keahlian dirinya. Roy Suryo misalnya, publik yang terbiasa mendengar dia membahas masalah telematika, akan sulit memahami kaitan pakar telematika bergelar bangsawan Yogyakarta itu dengan masalah hutang luar negeri Indonesia. Sementara kita juga tahu bahwa pernyataan Angelina Sondakh tentang menurunnya angka pengangguran dan kemiskinan adalah sesuatu yang meragukan, ketika kita tahu bahwa demikian banyak orang miskin dan pengangguran diberbagai pelosok negeri ini. Berapa besaran penghasilan seseorang sehingga dia dapat disebut berada di atas garis kemiskinan, adalah sesuatu yang sering diperdebatkan oleh para ahli ekonomi. Dalam iklan ini Angelina Sondakh menyatakannya secara ringan tanpa dukungan atau catatan data apapun. Sementara kita juga tahu bahwa keputusan menaikkan anggaran pendidikan menjadi 20 persen dari APBN harus melalui perdebatan sengit, dan bukan sesuatu yang direncanakan dari awal sebagai kebijakan SBY – JK. Masih banyak lagi permasalahan negeri ini yang tidak terungkap secara jujur dalam iklan ini.
Demikian banyak biaya iklan dihamburkan oleh partai-partai politik. Mereka semua berbicara dengan bahasa sloganistik yang merdu di telinga: “memberantas kemiskinan”, “berjuang untuk (bukan “bersama” dan “untuk”) rakyat”, ataupun “hidup adalah perbuatan”. Kesemuanya adalah pernyataan propaganda yang seperti gelembung, sebuah bubble communication – merdu namun tanpa isi. Pertanyaannya adalah bagaimana mereka akan mencapai hal tersebut, tidaklah pernah dapat dijelaskan secara terang benderang.
Sesungguhnya iklan partai Demokrat ini dapat tampil lebih jujur dan tulus. Seandainya saja iklan ini berbicara sangat sederhana serta terang-benderang bahwa demikian banyak problem negeri ini, namun salah satu problem terbesar yaitu korupsi, mulai dapat diatasi dengan baik oleh pemerintahan SBY. Nampaknya kita harus mengakui bahwa pemberantasan korupsi adalah salah satu pencapaian terbesar pemerintahan SBY. Artinya belajarlah untuk menghargai satu pencapaian dan manfaatkan itu seoptimal mungkin, daripada mengakui dan menyatakan banyak hal sebagai hasil kerja namun tidak didukung oleh kenyataan atau petanda yang sesungguhnya – sebuah kemasan atau penanda (
signifier) tanpa isi atau petanda (
signified).