Jawa Timur ibarat aula raksasa tempat
pameran foto, poster,
dan gambar. Para punggawa Jatim pamer gambar
diri mereka berhias “ayat-ayat” indah.
di tepi jalan raya. Di sudut kota. Di
sandaran kursi becak. Di batang pohon. Di gerobak dorong penjual
makanan dan minuman. Mereka menawarkan cita rasa tentang perubahan.
Menjajakan diri sebagai figur yang patut “ngantor” di Grahadi.
Di tepi jalan raya yang panas, atau
banjir yang menyempul di atas kubangan jalan rusak, dalam deru deram
lalu lintas yang macet, kita lihat poster-poster jumbo bergambar
Pak Tjipto, Pak Pak Narjo, Pak Karwo, dan Pak Achmady. Mereka menebar
janji. Mengubah Jawa Timur menjadi lebih bermartabat.
“Saatnya pemimpin jujur menjadi
gubernur,” Pak Tjip menjajakan diri di salah satu benernya. Meski
tak bisa lagi melawan usia, raut wajah yang mulai terlihat sepuh, foto
dalam poster Pak Tjip tetap mengekspresikan semangatnya yang tak pernah
layu sebagai seorang nasionalis.
Pak Karwo menawarkan diri sebagai
pribadi yang tekun. Lincah. Tak kenal lelah. Dia menjanjikan APBD untuk
kemakmuran rakyat. Foto-fotonya dalam banyak poster, kain rentang, dan
baliho di banyak tempat memberikan pesan sebagai pribadi yang
optimistis. Inovatif menawarkan perubahan.
Pak Narjo memperkenalkan sejumlah item
perubahan yang tanpa mengguncang harmoni. Dalam salah satu papan nama
yang dilengkapi fotonya, dia mengeluarkan ajakan membangun Jatim dengan
pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja, pemerataan pendidikan, dan
kebersamaan untuk melangkah ke depan yang lebih maju.
Tidak menggebu-gebu. Dia menyosokkan diri sebagai pribadi sarat pengalaman panjang dalam birokrasi.
Achmady adalah pendatang baru dalam
pusaran persaingan “masuk” Grahadi. Meski hanya seorang bupati
Mojokerto, dia pantang mundur. Menjanjikan kemakmuran. Dalam salah satu
kain rentang yang berpadu dengan foto dirinya, dia menyampaikan pesan
bahwa pemimpin adil akan meneteskan kemakmuran.
Dalam mengenalkan diri, Achmady tak
kalah ulet dengan calon lain punggawa Grahadi. Di luar Surabaya, poster
dan baliho gambar dirinya tak kalah banyak dan masal.
***
Semua mengincar Grahadi. Gedung tua warisan Belanda itu pusat pusaran
kekuasaan orang nomor satu di Jatim. Gubernur. Bos penguasa salah satu
provinsi paling berjubel orangnya di negeri ini.
Mengincar Grahadi? Apanya yang diincar?
Untuk apa? Apa yang diinginkan dari bilik gedung sepuh itu ketika
secara simbolis seorang gubernur Jatim berkuasa?
“Kekuasaan itu ibarat roti,” kata Moshe
Dayan, si mata satu, mantan menteri pertahanan Israel yang legendaris
dalam perang Arab 1967. Tak semua orang suka roti. Tetapi, yang
terbayangkan atau dibayangkan tentang roti ialah cita rasa yang
menggoda lidah. Yang suka dan yang tidak suka (roti) bisa berbaur.
Dibayangkan yang enak-enak meski kemudian yang tak suka enggan
mencicipi.
Banyak orang tahu kekuasaan itu ada yang
harus berdarah-darah. Bahkan, tewas bersimbah darah. Namun, ibarat
roti, ada kalanya banyak orang harus berebut untuk sekadar mencicipi.
Yang enak keenakan. Yang merasa tak enak meninggalkan dengan segenap
umpatan.
“Berburu” Grahadi mungkin tak selalu
enak. Berliku. Belum tentu menang dalam pemburuan. Modal miliaran
menghilang ibarat asap ditelan awan. Mungkin bisa masuk barisan OMB
(orang miskin baru).
Yang menang pemburuan, modal miliaran
mungkin saja datang terbilang di hari depan yang menjelang. Tapi, jika
nasib tak mujur lepas berkuasa, hidup jadi hancur lebur. Telah banyak
contoh gubernur dan pejabat negara masuk penjara ketika kekuasannya
telah menghilang.
Ibnu Khaldun, salah satu “bapak”
sosiologi, pernah berkata, “Kekuasaan itu instrumen dan amanah.” Hanya
dengan kekuasaan, si penguasa dapat mengabdikan diri untuk kemaslahatan
umum.
***
Dalam banyak kontestasi politik di negeri ini, termasuk para punggawa
yang kini tengah “bermandi keringat” untuk menggantikan Pak Imam Utomo
di Grahadi, ranah kekuasaan made in Ibnu Khaldun itu mungkin bisa
menjelaskan. “Ayat-ayat” politik yang ditawarkan Pak Tjip, Pak Narjo,
Pak Karwo, dan Pak Achmady adalah janji untuk berkuasa dengan amanah.
Memajukan Jatim. Mengajak berubah. Memakmurkan Jatim.
Namun, kekuasaan sebagai instrumen dan
sarana bisa saja tak berdaya. Kekuasaan bisa bermetamorfosis menjadi
tujuan manakala tak dapat mengimpotensi libido kepentingan-kepentingan
ekononi politiknya.
Gagal mengamanahkan kekuasaan. Lalai
mengontrol kewenangan. Atau praktik lain yang jumud tak senantiasa
berakar dari niat jahat. Banyak terjadi hanya karena gagal membentengi
diri dari jarahan orang-orang dekat. Tim sukses. Anak, istri, kerabat,
atau kolega karib.
Di kala seperti ini, maka musuh pertama
penguasa baru ialah diri sendiri. Kedua, musuhnya adalah tim sukses dan
tim kampanye. Ketiga, keluarga dekat. Keempat, kerabat dan kolega.
Dan, manakala tak mampu keluar dari
impitan nepotisme seperti ini, maka langgam kekuasaan yang terwujud
mungkin seperti “petuah” Lord Action: “Kekuasaan cenderung korup
Abstrak lain tentang Ayat-Ayat Indah Bacagub