Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Hukum & Politik>Hukum Umum>Menyusun Puzzle Pelanggaran HAM 1965: Sebuah Upaya Pendokumentasian

Menyusun Puzzle Pelanggaran HAM 1965: Sebuah Upaya Pendokumentasian

oleh: AsmanSahaluddin     Pengarang: Haris Azhar; Andy Irfan; Asman Sahaluddin; Yati Andriyani; Indria Fernida; Syamsul Alam Agus; Nancy Sunarno; Putri Kanesia
ª
 
Kejahatan kemanusiaan di tahun 1965 merupakan sejarah kelam bangsa Indoensia. Dari berbagai serpihan cerita yang terserak dari para korban, saksi dan pelaku terlukis gambaran peristiwa tersebut. Konflik politik dan kekuasaan melahirkan jatuhnya korban di kalangan masyarakat sipil yang dibunuh di luar proses hukum, ditangkap dan ditahan sewenang-wenang tanpa proses peradilan, disiksa, diperkosa hingga kehilangan harta benda. Ribuan orang dipisahkan secara paksa dari keluarganya dan harus hidup membisu akibat ketakutan dan trauma, termasuk dalam relasi sendi sosial kehidupannya. Hak ini dkuatkan pula dalam peraturan-peraturan diskriminatif serta kebijakan negara yang menstigmatisasi korban. Hampir 50 tahun berlalu, belum terkuak kebenaran formil terhadap peristiwa ini. Sementara korban yang semakin tua masih saja memperjuangkan hak untuk keadilan dan rehabilitasi.

Laporan ini merupakan catatan atas serpihan ingatan yang masih tersisa diantara para korban dari peristiwa yang digambarkan di atas. Catatan ini merupakan berita tak ternilai untuk menyusun Puzzle (serpihan) peristiwa pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat pada masa itu. Komisi untuk Orang Hilang dan korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan International Centre for Transitional Justice (ICTJ) sebagai bagian dari jaringan pendokumentasian bersama dan koalisi keadilan dan pengungkapan kebenaran memandang bahwa penguatan sistem pendokumentasian untuk mengumpulkan semua informasi dan dokumentasi di masa lalu merupakan salah satu langkah awal pengungkapan kebenaran bagi sejarah negeri ini.

Untuk itu, KontraS dan ICTJ bersama KontraS Surabaya dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Buton Raya melakukan pendokumentasian peristiwa 1965 dengan membangun database berbasis peristiwa dan mengolah data korban dari berbagai wilayah di Indonesia. Juga secara aktif melakukan wawancara pada korban di dua wilayah, Blitar (Jawa Timur) dan Buton (Sulawesi Tenggara). Dalam proses penyelidikan Pro Justitia, Komnas HAM juga telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi korban di kedua wilayah ini.

Blitar dipilih karena wilayah ini pernah dianggap sebagai salah satu basis kaum komunis. Negara - dalam hal ini militer - membuat operasi khusus untuk menumpas mereka yang diidentikkan kader atau simpatisan komunis di tahun 1969. Selain tindakan pembunuhan, penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, juga terdapat dugaan kuat adanya kuburan massal yang tersebar di beberapa tempat di Blitar. Sementara itu, Buton dipilih karena hingga saat ini belum pernah ada inisiatif pendokumentasian korban peristiwa pelanggaran HAM 1965. Ada beberapa tulisan yang mengulas dampak dari peristiwa 1965 di Sampolawa (Buton), Namun mayoritas menitikberatkan pada peristiwa yang terjadi pasca 1969, meski terdapat berbagai pelanggaran HAM yang terjadi serentak pada tahun 1965.
Diterbitkan di: 14 Juli, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    pembunuhan ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    pelanggaran ham berat masa lalu 21 Januari 2013
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.