Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Kasus Pembobolan SDB BII

oleh: Robinz     Pengarang : Robinson Immanuel
ª
 
BAB 3

3.1 Hubungan Kriminologi dengan Pembobolan SDB BII

Ilmu Kriminologi fungsinya disini mencoba untuk menjawab, “Apakah Kasus Pembobolan SDB BII ada hubungannya dengan Faktor Ekonomi, Sosial, atau Politik ?”. Maka Perlu pendekatan secara kausal yang mencari interprestasi tentang fakta yang digunakan untuk mencari sebab musabab kejahatan baik secara umum maupun kasus individual.

Kasus pembobolan SDB bank BII merupakan kejahatan umum yang berdampak pada kerugian individual dalam hal pencurian yang mengakibatkan kerugian bagi nasabah SDB BII. Pernyataan BII dari segi benefit dalam penggunaan fasilitas SDB tidak terpenuhi dengan baik karena telah 3 kali terjadi pembobolan SDB BII, hal ini berarti BII tidak sepenuhnya memberikan keuntungan dalam penggunaan SDB.

Secara Objek Studi Kriminologi terhadap Kasus Pembobolan SDB BII ini terdapat Penjahat (Siapa?), Kejahatan (Perbuatan Apa?), dan reaksi masyarakat sendiri (Bagaimana?) yang akan ditelusuri lebih lanjut. Dari hal pertama yaitu “Penjahat” dalam kasus pembobolan SDB BII sesuai dengan sumber yang diperoleh pelaku adalah pegawai rendahan bernama Edi Setiawan (30 Tahun), dan Ferry R (29 Tahun), hidup mereka menurut sumber hanyalah pas-pasan, hanya sekedar untuk bisa makan dan bayar sewa kamar.

Tapi tiba – tiba saja hidup mereka berubah drastis alias kaya mendadak, hal ini dapat dilihat mereka bisa berkunjung ke berbagai PUB di Jakarta Barat dengan menghamburkan jutaan rupiah.

Hal kedua tentang “Kejahatan” yang merupakan perbuatan pencurian dengan kekerasan yang efeknya merugikan nasabah SDB BII dengan jumlah yang sangat besar. Edy dan Ferry mengakuinya kepada polisi bahwa aksi mereka itu dijalankan pada bulan Agustus 2008, modusnya dengan berpura – pura menjadi nasabah di bank BII, setelah membuka rekening dengan non-platinum, tersangka lalu mencatatkan diri sebagai pengguna fasilitas SDB dengan nomor 1755, yang dengan begitu memuluskan rencana tersangka untuk mencuri.

Layaknya nasabah lain, tersangka dapat sebebasnya keluar – masuk kamar SDB, saat berpura – pura menggunakan SDB tersebut tersangka langsung mencongkel SDB milik nasabah lain. Bila SDB tersangka dibuka dengan kunci, maka SDB nasabah lain yang seruangan dicongkel paksa dengan obeng. Hal ini sudah dibuktikan polisi lewat rekontruksinya dengan menggunakan obeng tersebut pelaku bisa merusak gembok SDB dalam waktu 2 detik. Dengan ini Ferry dan Edi Setiawan karena perbuatannya bisa dijerat dengan pasal 363 ayat 2 dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.

Dalam hal yang ketiga tentang reaksi masyarakat terhadap kasus pembobolan SDB BII tersebut Diketahui terdapat tiga belas lebih nasabah yang mengalami kerugian akibat aksi kejahatan ini, reaksinya ada yang langsung complain dengan pihak BII, dan ada pula yang melaporkan ke Polres Jakarta Pusat.

3.2 Gugatan Terhadap BII

Dengan tertangkapnya dua pelaku kriminal pembobolan SDB BII semakin menguatkan gugatan Jhon Azis selaku pengacara Ivon, yang menepis pernyataan pihak BII yang dari awal memastikan tidak adanya kesalahan prosedur dan pencurian SDB.

Sidang gugatan baru sampai pada pembacaan kesimpulan dari penggugat, yang menyatakan masih tetap pada isi gugatan semula, adanya pelaku ditangkap itu membuktikan bahwa sistem SDB di BII lemah dan tak nyaman.

Kuasa hukum BII, Denny Kailimang, menyatakan bahwa BII hanya akan mengikuti alur di pengadilan dan menunggu keluarnya hukum pidana yang masih dalam proses di kepolisian. Untuk kasus perdatanya, kata Denny, pihak BII tetap mendasarkan pada surat perjanjian antara nasabah dan bank yang diteken sejak awal membuka fasilitas SDB.

Karena itu Pihak BII tidak akan menanggung kerugian akibat hilangnya barang – barang berharga milik nasabah pengguna fasilitas SDB, kecuali bila pelaku adalah karyawan atau orang BII, maka BII akan memberikan ganti kerugian.

BAB 4
KESIMPULAN

Kriminologi kaitannya dengan ilmu yang mempelajari kejahatan terhadap kasus pembobolan SDB BII, mencoba mengungkapkan adanya gejala sosial dan ekonomi yang terlibat dalam aksi kejahatan ini.

Hal ini dapat dipelajari dengan melihat Hidup kedua pelaku kejahatan yang serba pas-pasan, belum lagi kehidupan sosial di Jakarta yang serba high class dimana uang adalah raja. Ketika hasrat kedua pelaku tidak bisa dibendung lagi untuk menikmati kehidupan elit tersebut, akhirnya merakapun melakukan pencurian dengan membobol SDB BII, berharap bahwa dengan cara negative tersebut mereka bisa mendapatkan banyak uang dan bisa menikmati kehidupan yang lebih elit.

BII sendiri telah lalai dalam menjaga ruangan SDB BII, yang jelas bukan suatu hal yang menguntungkan bagi nasabah pengguna SDB BII, buktinya tiga kali SDB BII berhasil dibobol oleh pelaku kejahatan, ini berarti sistem pengamanan SDB BII belum bisa dipercaya dalam melindungi barang – barang yang dianggap berharga oleh nasabah.

Aksi kriminal dengan berbagai modus yang lihai seharusnya bisa dengan cepat ditanggapi dengan teknologi high-tech, sesuai Ilmu Kriminologi bahwa disini semua pihak harus lebih memahami pentingnya suatu ANTISIPASI.

Perkembangan ekonomi, sosial dan politik tidak menutup kemungkinan adanya hal - hal yang berupa awal dari perkembangan suatu ilmu kriminal yang baru dengan modus yang lebih canggih diikutsertakan dengan informasi dan teknologi mutakhir.

Diterbitkan di: 03 Juli, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.