Sepantasnya kita ikut prihatin. Saudara-saudara kita di Bengkalis, Riau, para petani Dusun Suluk Bongkal mendapat musibah.
Aksi
kekerasan yang tidak kita kehendaki, toh masih terjadi disana sampai dengan hari ini.
Menurut Riau-Berdikari online (20/12/08), dusun Suluk Bongkal dihajar dengan bom napalm dari dua pesawat heli. Itu jenis bom yang pernah digunakan pasukan AS untuk membumihanguskan Vietnam. Kepolisian POLDA Riau masih menambah kekuatan sebanyak 8 bus pasukan, 8 truk pasukan dalmas, tiga unit alat berat (bulldozer), ditambah beberapa ekor anjing pelacak. Polisi masih berupaya keras mengejar sejumlah warga yang bersembunyi di lapangan, termasuk mengejar beberapa orang aktifis dari Serikat Tani Riau, organisasi petani yang berdiri membela hak-hak kaum tani.
Menurut pantauan reporter Berdikari Online, setiap radius 10 meter dijaga oleh polisi. Sedangkan masyarakat dilarang memasuki lokasi, termasuk mengevakuasi jenasah anak kecil bernama Fitri yang tewas kemarin (18/12). Polisi tidak segan-segan memukuli, menangkapi, dan menganiaya warga yang berada di sekitar lokasi lahan warga. Akibatnya, 3 warga dianiaya oleh aparat kepolisian. Seorang ibu hamil mengalami pendarahan, tidak bisa dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit karena dihalang-halangi oleh pihak kepolisian. Sekitar 200 warga ditahan di Polsek Mandau, sedangkan 400-an warga lari ke hutan dan dikepung ratusan polisi plus preman.
Dusun Suluk Bongkal itu wilayah yang jelas-jelas sah. Keabsahannya tertuang dalam lembaran Pemerintahan Kabupaten Bengkalis no. 0817-22 0817-31.0618-54 0616 63, ditandatangani oleh Bupati Bengkalis pada 12 Maret 2007, dan mencakup lahan seluas 4.856 ha.
Dusun itu menjadi wilayah sengketa, karena diklaim sebagai milik PT Arara Abadi yang hanya diberi kewenangan atas pengelolaan kawasan hutan seluas 5 ribu hektar. Anak perusahaan Sinar Mas Group ini pun bertindak sewenang-wenang untuk mengusir warga, termasuk berkali-kali mengerahkan preman.
Slogan Polri yang berbunyi "pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat" tidak sulit dibaca dalam peristiwa tersebut. Amat disayangkan. Seolah sudah tidak ada jalan lain kecuali kekerasan. Kekuatan dan senjata seolah sudah pantas digunakan untuk menyelesaikan urusan dengan para petani.
Bangsa kita bukanlah bangsa yang menyukai kekerasan. Bangsa kita masih sebagai bangsa yang santun. Sebagai Negara hukum pun tentu sistemnya dapat menyelesaikan secara damai. Katanya damai itu indah.