Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Hukum & Politik>Hukum Umum>DIVONIS MEMBUNUH, KORBAN MASIH HIDUP

DIVONIS MEMBUNUH, KORBAN MASIH HIDUP

oleh: foreno     Pengarang : m1
ª
 
DIVONIS MEMBUNUH, KORBAN MASIH HIDUP Hukum di Indonesia kembali tercoreng. Profesionilsme aparat hukum yang menjadi penentu kehidupan hukum dan kemanusiaan masyarakat Indonesia semakin menunjukkan kekacauan. Betapa tidak, kasus pembunuhan yang terjadi di Kendari Propinsi Sulawesi Tenggara yang membawa terdakwa Adis alias Adi bin Tuda divonis hakim bersalah telah melakukan pembunuhan terhadap Arni (wanita), ternyata tidak benar. Sang korban hingga saat ini ternyata masih hidup, sehat wal afiat dan, tinggal di Malaysia sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Fakta ini membuktikan bahwa polisi bukan saja keliru mengidentifikasi mayat yang ditemukan pada awal Januari 2004 itu dan menetapkan tersangkanya, tetapi juga menimbulkan penderitaan yang sangat mendalam bagi Adis alias Adi bin Tuda yang “konon” dianaiaya agar dipaksa mengaku dan sudah terlanjur menjalani hukuman penjara selama 2,7 tahun dari 8 tahun waktu yang ditetapkan hakim. Di samping itu, Aparat kejaksaan pun sebagai penyidik ternyata hanya menjadi “yes man” karena tetap melanjutkan proses persidangan itu dan memuluskan “gelar” ketidakprofesionalan mereka. Tak ketinggalan, hakim di pengadilan pun turut “membuktikan” dirinya sebagai “pengambil keputusan bagi manusia tak bersalah” (dalam kasus ini). Kasus itu sendiri berawal dari penemuan sesosok mayat wanita di kawasan Asrama Haji, Lepo-lepo, Baruga, Kota Kendari pada hari sabtu (10/1) 2004 sekitar pukul 15.00 Wita oleh warga setempat. Setelah dua hari diselildiki, polisi menyimpulkan identitas mayat tersebut adalah Arni berusia 20 tahun, karyawan sebuah tempat hiburan malam. Selang beberapa hari kemudian, pelakunya ditangkap yakni seorang pria bernama Adis alias Adi. Kesimpulan tersebut diyakini oleh Kapolsekta pada saat itu setelah diidentifikasi dan melalui penelusuran informasi dari berbagai pihak, utamanya dari orang-orang yang melaporkan kehilangan keluarganya. Berkas perkara dari kepolisian Polsekta Baruga dianggap lengkap oleh Jaksa pada tanggal 16 Maret 2004 dengan nomor register 49 perkara tahap dua (II) Penuntutan pidana umum (Pidum) tahun 2004. Kurang lebih dua minggu setelah itu, Aldi dituntut hukuman 15 tahun penjara. Namun, karena pertimbangan lain, pelaku divonis oleh Pengadilan Negeri (PN) Kendari 8 tahun penjara. Sedangkan sang korban, Arni, yang disebut-sebut sudah tewas terbunuh dan mayatnya ditemukan membusuk, kini sedang bekerja di Malaysia sebagai TKW. Ia mengaku kaget mendengar kabar bahwa dirinya sudah meninggal. Masih hidupnya Arni hingga kini juga diakui oleh ibu kandung Arni sendiri, Kisna Jaya. Dugaan Lain Sementara itu, setelah dilakukan penelusuran oleh wartawan Kendari Pos, diduga mayat yang menjadi korban pembunuhan itu adalah wanita yang bernama Ratni. Ia adalah keponakan sorang warga kota Kendari yang bernama Lapanene. Lapanene yakin bahwa mayat itu adalah keponakannya, Ratni. Alasannya, baju mayat perempuan tersebut mirip dengan baju dan celana yang dikenakan Ratni saat pergi meninggalkan rumah. Lapanene mengisahkan, pada awal Januari 2004 lalu Ratni bersama calon suaminya, Makmur (yang juga anggota polisi), pergi meninggalkan rumah dan sampai kini tak pernah kembali baik dalam bentuk jasadnya maupun kabar beritanya. Lapanene dan keluarganya pernah melakukan pencarian dan melaporkan hilangnya Ratni kepada pihak Polresta Kendari agar membantu mencari, namun hingga kini belum jmuga ditemukan. Lapanene mengaku pernah bertemu dengan Makmur dan menanyakan tentang Ratni, tetap jawaban yang didapatnya adalah: “Jika ada Ratni tolong kasih tahu, nanti saya kawini”. Lapenene menyayangkan sikap Makmur sebagai calon suami Ratni yang saat itu sedang mengandung tiga bulan karena tidak ikut mencari keberadaan Ratni, apalagi Makmur adalah seorang polisi. Kecurigaan Lapanene terhadap Makmur semakin tinggi setelah mengetahui Makmur telah menikah dengan wanita lain yang bernamaErnawati yang pada bulan Juni 2006 lalu ditemukan tewas di Kecamatan Poasia Kota Kendari. “Polisi seharusnya bisa mengambil kesimpulan dengan dua kasus kematian wanita tersebut”. Jelas Lapanene. Terlepas dari kasus diatas, aparat hukum dituntut untuk bersikap profesional mengingat mereka adalah penegak hukum yang menjadi panutan masyarakat. Sangat disayangkan jika aparat hukum tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan kaidah-kaidah, prosedur, etika, maupun tuntutan profesionalisme mereka. Lebih disayangkan lagi jika mereka menghukum manusia tanpa melalui prosedur hukum yang jelas dan membiarkan pelaku pembunuhan sesungguhnya berkeliaran dan menteror korban berikutnya. (Disadur dari harian Kendari Pos Edisi senin, 23 Juli 2007)
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.