Kabel diplomatik ini di kirim oleh dubes AS untuk Malaysia, Christopher J Lafeur pada tanggal 19 Spetember 2006 ke Washington DC mengenai dampak dan tindak lanjut dari pernyataan mentor Singapura Lee Kuan Yeaw mengenai masyarakat kaum Tionghoa yang terpinggirkan di Indonesia dan Malaysia.
Para elit politik Malaysia tampaknya tersingung akibat pernyataan Lee dan menuntut permintaan maaf secara terbuka karena penyataan tuduhan tersebut tidak tepat. Bahkan kaum Tionghoa yang berada dalam partai Barisan Nasional Malaysia turut mendukung pemerintahnya sendiri atas pernyataan mentor Lee. Intinya tidak benar jika kaum tionghoa di Malaysia terpinggirkan terutama secara politik. Ong Tee Keat yang menjabat sebagai wakil Asosiasi Cina-Malaysia (MSA) yang juga menjabat sebagai menteri pendidikan dengan jelas-jelas memprotes dan menyangkal pernyataan Lee saat itu. Namun pernyataan selanjutnya, Ong secara tidak langsung juga mengiyakan pernyataan Lee. Menurutnya “kadang tutup mulut merupakan satu-satunya reaksi kita”. Ia tidak menyangkal bahwa “kaum tionghoa jelas terpinggrikan, dari pengusaha besar hingga pengusaha kelontong pun mengetahui hal itu tetapi MCA tidak bisa mengakuinya”. Sehingga ketika media menggembor-gemborkan tuduhan Lee, Ong hanya berujar sebuah peribahasa kuno , “ Entah air yang berada dalam cangkir teh itu panas ataupun dingin, hanya peminumnya tahu yang terbaik’
Ong sendiri membeberkan secara rinci bagaimana para kelompok orang tionghoa di Malaysia terpinggirkan dalam rincian memo kabel diplomatik yang di kirimkan. Dalam politik pemilihan umum, MCA bahkan pernah hampir kehilangan kursi dalam partai UMNO/Barisan Nasional. Hal itu tercermin dalam pemungutan suara di negeri bagian Sarawak. Jika MCA tidak memprotes bahwa ada ketimpangan, kemungkinan kaum tionghoa dalam kancah ruang politik Malaysia menghilang begitu saja. Ong sendiri juga menggambarkan contoh dramatis dalam pembangunan sekolah.
Sebagai contoh, saat itu pemerintah Malaysia berencana hendak membangun 180 sekolah dasar dan lanjutan, namun tidak ada satupun di dirikan untuk komunitas Tionghoa dan India. Hanya setelah adanya permohonan dari komunitas tionghoa, 2 dari 180 sekolah tersebut di dirikan untuk komunitas tionghoa di dirikan. Ini terlihat sebagai contoh bagaimana MCA pun tidak dapat memastikan suara yang sejajar dengan kaum mayoritas. Minoritas India pun terlihat mengalami masalah yang serupa. Namun tampaknya kaum mayoritas juga tidak mau kalah suara dalam pertikaian saling menuduh ini. Adalah perdana menteri Malaysia, Ahmad Badawi saat itu menyebutkan bahwa menantunya, Khairy Jamaluddin secara terbuka menuduh kepala menteri Penang, Dr. Koh Tsu Koon karena telah meminggirkan kaum mayoritas Malay di sana.Hal itu bisa terjadi karena P. Penang adalah satu-satunya negara bagian yang di tinggali oleh mayoritas kaum tionghoa. Dan hal ini mengundang reaksi keras dari sekutu BN yakni gerakan untuk menyelesaikan masalah ini. Badawi meminta Koh untuk segera memenuhi kebutuhan kepada kaum minoritas Malay di sana sehingga menjadi sejajar dengan kaum tionghoa. Koh saat di undang untuk pertemuan dengan para menteri sepertinya tidak terlalu siap memberikan reaksi semestinya dengan tuduhan bertubi-tubi ini.
Belakangan, konsuler eksekutif negara bagian Penang, Dr. Toh Kin Woon mengakui bahwa PM Badawi mempermalukan Koh di depan publik walaupun negara bagian Penang ini memiliki pendapatan perkapita tertinggi di bandingkan dengan negara bagian lain(tidak di rinci angkanya). Anggota Partai Pusat Gerakan, Lee Kah Choon membenarkan bahwa Koh di lihat oleh seluruh komunitas Tionghoa memiliki kepribadian terlalu lemah. Lebih uniknya lagi, Koh selain menjabat sebagai Kepala menteri Penang, ia juga menjabat sebagai deputi presiden dari partai gerakan. Koh di harapkan bisa menggantikan Dr. Lim Keng Yaik, presiden partai gerakan yang selesai masa jabatannya pada April 2007. Jika Koh menjadi presiden partai maka ada kemungkinan posisi kepala menteri negara bagian Penang akan kosong. “joki” dalam memperebutkan posisi yang di tinggalkan sepertinya akan tinggi. Toh Kin Woon, secara tidak langsung mengalamatkan PM Abdullah Badawi sebagai pemimpin negara terlalu lemah. Ia menyebutkan Malaysia membutuhkan pemimpin yang kuat dan tahu kapan harusbertindak tegas. Ia mencontohkan bahwa Mahatir adalah pemimpin yang tegas namun ia kehilangan kehormatannya setelah bertindak kejam. Abdullah di sebut tidaklah kejam, namun ia kurang tegas ketika di butuhkan(tidak pada waktu dan tempatnya). Ia terlalu lemah sehingga ia mengumandangkan masalah rasisme ke permukaan untuk membela kaum mayoritas Malay. Koh dalam hal ini di lihat Toh bahwa ia tidak memihak kepada Abdullah yang membuka posisi partai oposisi untuk menyerang di masa depan. Kesimpulannya jelas bahwa etnik Tionghoa Malaysia yang berjumlah 25 persen dari keseluruhan total penduduk Malaysia akan segera kehilangan kursi di Bumi putera. Hal ini di karena perkembangan Islam di negara tersebut mendominasi populasi Malaysia juga mengambil andil. Bahkan etnik tionghoa pun akan kehilangan popularitasnya di antara kaum minoritas lain di Malaysia. Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Kabel diplomatik selengkapnya dapat di baca http://wikileaks.org/cable/2006/10/06KUALALUMPUR1975.html