Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Amerika Memulai Perang Mata Uang

oleh: Restian    
ª
 
Ada hal menarik diungkapkan oleh DR. Rizal Ramli seputar strategi Amerika Serikat dalam menyelamatkan ekonomi dalam negerinya yang nyaris bangkrut akibat krisis ekonomi 2008, karena defisit yang sangat besar (US$ 1,4 triliun) dan peningkatan ekonomi spekulatif yang ugal-ugalan, hanya dapat diselamatkan dengan pinjaman dari 10 negara besar Asia yang memiliki cadangan devisa sangat besar (US$ 5,1 triliun). Banyak negara-negara Asia, China, India, Korea (kecuali Indonesia) menjadi “pabrik dunia” yang menghasilkan berbagai barang konsumsi dan modal yang dijual keseluruh dunia.

Diungkapkan oleh DR. Rizal Ramli, dalam rangka mempercepat pemulihan ekonomi Amerika, Bank Sentral Amerika mencetak uang senilai US$ 600 milyar. Amerika adalah contoh pembiayaan defisit yang dibiayai dengan pencetakan uang yang sangat besar, hal yang diharamkan di kuliah-kuliah fakultas ekonomi di seluruh Indonesia. Dengan pencetakan dollar jor-joran tersebut, sebagian diantaranya masuk menjadi “uang panas” yang membanjiri negara-negara berkembang sehingga mata uang mereka menjadi sangat kuat dan indeks saham melonjak tinggi. Pencetakan dollar tersebut juga akan memicu kenaikan harga komoditi termasuk energi dan pangan. Inilah yang menjelaskan mengapa indikator finansial Indonesia melonjak selama setahun terakhir, tetapi indikator ekonomi yang menyangkut lapangan kerja, daya beli dan kesejahteraan rakyat tidak berubah banyak.

Gubernur Bank Sentral Amerika Ben Bernanke mengatakan bahwa “mereka akan fokus pada perbaikan ekonomi Amerika, bukan pada ekonomi negara lain”. Dengan kata lain, Bernanke tidak peduli dampak dari kebijakan cetak dollar jor-joran terhadap mata uang negara lain yang menjadi terlalu kuat, ekspor mandek atau ekonomi mereka menjadi roller-coaster (naik turun tajam). Inilah contoh dari nasionalisme ala Amerika, sementara kalangan intelektual Indonesia sering meremehkan nasionalisme sebagai tidak relevan. Pencetakan dollar Amerika jor-joran akan membuat nilai dollar terus melemah, dan membuat barang-barang Amerika menjadi lebih murah diseluruh dunia.

Inilah strategi Amerika untuk menyelamatkan perekonomian negeri mereka. Sesungguhnya, Amerika telah memulai perang mata uang (currency war) tetapi melalui IMF, Bank Dunia, dll meminta dengan sangat agar negara-negara lain jangan ikut-ikutan perang mata uang. Padahal banyak negara sangat khawatir dengan mata uang mereka yang terlalu kuat. Menteri Keuangan Brazil Guido Mantega mengkritik kebijakan Bernanke tersebut sehingga dia mengusulkan agar dunia mulai mengurangi penggunaan US$ sebagai cadangan devisa. Korea merencanakan pajak sebesar 14% untuk surat utang sejenis SBI dan SUN yang dibeli oleh orang asing. Jerman dan Prancis juga mengecam pencetakan dollar jor-joran karena akan berdampak pada kenaikan nilai EURO dan penurunan ekspor Eropa.

Strategi pelemahan dollar yang dilakukan Amerika saat ini, sebetulnya pernah dilakukan Jepang antara tahun 1950 – 1985. Strategi Yen lemah itulah yang membuat barang-barang Jepang sangat murah, merajai pasar dunia sehingga ekonomi Jepang tumbuh diatas 10% dan mengejar ketinggalannya dari Barat. Amerika dan Eropa yang kalah bersaing kemudian menekan Jepang untuk menandatangani Plaza Accord yaitu kesepakatan untuk memperkuat mata uang Yen dan memperlemah dollar. Setelah perjanjian itu, ekonomi Jepang menjadi kurang kompetitif dan pertumbuhan ekonominya anjlok dibawah 2%. Strategi mata uang lemah itulah yang diikuti oleh China sehingga barang-barangnya menjadi sangat murah diseluruh dunia dan salah satu faktor mengapa ekonomi China bisa tumbuh diatas 10% dua dekade terakhir. Sayangnya media dan fakultas ekonomi diseluruh Indonesia selalu mengajarkan bahwa mata uang kuat adalah indikator keberhasilan suatu negara. Paradigma itu adalah sebuah fallacy dan sangat tidak tepat karena nilai tukar hanyalah sasaran antara. Sasaran akhir dan indikator paling penting adalah peningkatan kesejahteraan rakyat dan kesediaan lapangan pekerjaan.

Dalam forum-forum Internasional, termasuk G-20, negara-negara yang berkembang yang ekonominya kuat seperti China, Brazil dan India mulai berani mengambil sikap yang berbeda dengan negara adidaya. Keberanian untuk bersikap mandiri dalam bidang ekonomi dan politik global merupakan refleksi dari ketahanan dan kemandirian ekonomi nasional mereka. Negara yang lemah ketahanan dan kemandirian ekonominya hanya akan jadi “good boy” atau anak manis dalam pertemuan-pertemuan internasional seperti G-20. Nah apakah Indonesia dibawah pemerintahan SBY-Boediono termasuk “good boy”?

Diterbitkan di: 02 April, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.