Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

www.flightinternational.com

oleh: supermaster    
ª
 
Tidak terjadi kisruh namun menjadi sebuah pertanyaan tersendiri. Pertanyaan ini di mulai ketika Perancis menjual rudal-rudal udara ke darat Storm Shadow/SCALP-EG(yang sekarang di gunakan oleh NATO untuk menekan rezim khadaffi di Libya) kepada Uni Emirate Arab yang mendapat protes keras dari Amerika Serikat terkait dengan pelanggaran MTCR(Missile Technology Control Regime). Memang pada akhirnya Perancis tetap menjualnya kepada UEA, namun AS tetap menginginkan pengendalian yang ketat untuk menghindari jenis “pengalihan teknologi” seperti ini di masa yang mendatang.

Namun apa yang terjadi ketika tahun 2010 kemarin, Inggris kembali menjualnya kepada Arab Saudi yang di sertakan dalam program TCSP(Tornado Sustainment Program) yakni untuk meremajakan hampir 100 unit jet tempur buatan Eropa yaitu, Tornado.

Sayangnya AS kali ini tidak mengajukan protes maupun keberatan dengan pengalihan teknologi rudal ini ke Arab Saudi. Lalu apa sih yang membuat rudal ini begitu spesial dan di takuti? Jawabannya adalah pada jarak jangkau rudal ini yang varian paling anyarnya dapat mencapai 500 km(300 mil) dan Rudal ini juga sulit terdeteksi oleh radar. Perancis menjualnya kepada UEA dengan nama “Black Shahine” dengan kemampuan jarak jangkau 400 km(250 mil) dan memiliki sebuah hulu ledak seberat 500 kg. Rudal jenis ini hanya di buat khusus di luncurkan dari pesawat terbang dengan sasaran tidak bergerak ataupun bergerak lambat di darat. Rudal ini adalah hasil pengembangan lanjutan dari rudal jelajah udara ke darat, Apache oleh Inggris(BAE) dan Perancis(MBDA). Namun MBDA memangkas kompartemen ruang bahan bakar rudal untuk membuat jarak jangkauannya menurun.

Pada tahun 2002, AS mendesak agar MTCR di ratifikasi. Para anggota di dalamnya setuju dan menerbitkan standar-standar baru dalam memperhitungkan dan menetapkan jarak jangkauan rudal jelajah balistik yakni satu kali jarak terjauh yang dapat di capai oleh rudal jelajah.
Perancis dan Inggris sendiri memiliki pandangan berbeda mengenai rudal jelajah balistik yang boleh di ekspor.

Lalu Arab Saudi? Arab Saudi sudah sejak medio tahun 2006 sepakat dengan Inggris untuk menjalankan program peremajaan pesawat tempur Tornado yang di sebut dengan TSP(Tornado Sustainment Program). Program peremajaan pesawat-pesawat tempur Tornado IDS ini juga termasuk pembelian hampir 90 unit EF-2000 Typhoon senilai £ 20 milyar dari BAE(British Aerospace) Inggris.
Untuk mencegah protes dari AS maka pada bulan Oktober 2006, pejabat Inggris secara khusus bertemu dengan pejabat AS untuk menginformasikan bahwa kesepakatan program TSP tersebut termasuk dalam penjualan rudal-rudal jenis storm shadow kepada Arab Saudi yang serupa dengan yang di tawarkan kepada UEA. Pertemuan kedua untuk membahas transfer rudal berjarak jangkau 250 mil ini berlangsung kembali pada bulan Mei 2007 antara pejabat Inggris dan Amerika. Walaupun begitu, Amerika tampaknya juga tidak mengatakan setuju ataupun tidak terhadap kesepakatan penjualan ini yang jelas-jelas melanggar MTCR, namun di sebutkan pejabat Inggris yang bertemu mengatakan bahwa mereka membutuhkan persetujuan dari pemerintah tingkat tinggi yakni perdana menteri Inggris yang berkuasa.

Tidak di ketahui secara jelas apakah AS setuju ataukah tidak, seorang photographer aviasi berhasil memotret pesawat tempur Arab Saudi menggotong rudal-rudal Storm Shadow yang di duga merupakan bagian dari program TSP. Pada saat latihan udara gabungan Arab Saudi – Inggris pada bulan September 2007 , letkol Abdulaziz Al Qdairi mengatakan kepada majalah aviasi flight international bahwa Arab Saudi berniat membeli rudal Storm Shadow tersebut dari Inggris untuk melengkapi kekuatan AU di masa depan.
Kesepakatan penjualan rudal-rudal Storm Shadow tersebut di perkirakan di sepakati oleh kedua belah pihak yakni Inggris dan Arab Saudi sekitar akhir tahun 2009 yang di perkirakan senilai £ 1,2 milyar. Kedua negara ini tidak pernah memberikan pernyataan resmi mengenai kesepakatan transaksi ini, namun sebuah majalah Air Force pada bulan desember tahun 2010 menyebutkan penjualan tersebut sudah termasuk rudal-rudal storm shadow. Arab Saudi menyatakan pembelian rudal-rudal Storm Shadow ini untuk melindungi kedaulatan negeri itu dari kekuatan nuklir negeri tetangganya, Iran. Sehingga pada dasarnya ada kemungkinan barat mengompori negeri ini akan ancaman nyata di masa depan dengan Iran dan membuat negeri ini merasa membutuhkan senjata ini.

Pernahkah anda berpikir bahwa Russia tidak pernah mengembangkan rudal jelajah Brahmos nya dengan negara lain selain India? Russia mengatakan bahwa senjata ini memiliki jarak jangkauan di bawah garis yang di standarkan oleh MTCR yakni hanya 150 mil, namun menyatakan bahwa rudal ini sangatlah mematikan yang jika di miliki oleh negara-negara lain bahkan sekutu sekalipun di khawatirkan bisa di gunakan untuk menghantam negara-negara tidak “berdosa” baik tetangga hingga di seberang samudra pasifik. Kenapa India? Russia hanya menyebutkan bahwa India merupakan sekutu kunci yang strategis dan tidak “mendorongkan” ancaman-ancaman militer terhadap Russia, namun menyebutkan bahwa senjata tersebut tidak akan di jual kepada Cina maupun negara sekutu lainnya. Russia memiliki pengalaman buruk dengan Cina dalam masalah transfer teknologi militer(baca di sini). Rudal Brahmos (Brahmana dan Moskwa) ini di sebut dapat di modifikasi dengan mudah untuk meningkatkan jarak jangkauannya menjadi 300 km. Tercatat bahwa beberapa negara yang berminat untuk membeli rudal brahmos ini yakni: Indonesia, Malaysia, Vietnam, Thailand, Mesir, Oman, Brunei Darusalam, dan beberapa negera di Afrika serta timur tengah.

Pertanyaan yang sekarang adalah apakah yang melandasi Inggris menyetujui penjualan rudal storm shadow kepada Arab Saudi yang jelas-jelas melanggar protokol MTCR? Masih belum ada jawabannya sampai sekarang.
Diterbitkan di: 03 Juni, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.