Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Hukum & Politik>Hukum Keluarga>Asas-asas Hukum Kewarisan Islam

Asas-asas Hukum Kewarisan Islam

oleh: irzu     Pengarang : husnul
ª
 
Dari ayat-ayat al-Qur’a>n dan h}adi>th-h}adi>th Nabi saw,
terdapat lima asas yang berkaitan dengan sifat peralihan harta warisan,
cara pemilikan harta oleh yang menerima, kadar jumlah harta yang
diterima, dan waktu terjadinya peralihan harta tersebut, yaitu:
a) Asas ijba>ri>. Asas ijba>ri> (paksaan) dalam hukum waris Islam
mengandung arti bahwa peralihan harta dari seseorang yang telah
meninggal kepada ahli warisnya berlaku dengan sendirinya menurut
kehendak Allah tanpa tergantung kepada kehendak dari pewaris
atau permintaan dari ahli warisnya. Hal ini berbeda dengan hukum
BW di mana pewaris dapat menunjuk ahli waris melalui wasiat.
b) Asas bilateral. Asas ini mengandung arti bahwa harta warisan
beralih kepada atau melalui dua arah. Setiap orang menerima hak
kewarisan dari kedua belah pihak garis kerabat, yaitu seorang lakilaki
berhak mendapatkan warisan dari pihak ayahnya dan juga dari
pihak ibunya, dan begitu juga sebaliknya.
c) Asas individual. Hukum Islam mengajarkan asas kewarisan secara
individual, dengan arti bahwa harta warisan dapat dibagi-bagi untuk
dimiliki secara perorangan.10 Masing-masing ahli waris menerima
bagiannya secara tersendiri, tanpa terikat dengan ahli waris yang
lain. Keseluruhan harta warisan dinyatakan dalam nilai tertentu
yang mungkin dibagi-bagi, kemudian jumlah tersebut dibagikan
kepada setiap ahli waris yang berhak menurut kadar bagian masingmasing.
d) Asas keadilan berimbang. Keadilan berimbang dalam hukum waris
Islam adalah keseimbangan antara hak dan kewajiban, dan
keseimbangan antara yang diperoleh dengan keperluan dan
kegunaan. Secara mendasar dapat dikatakan bahwa perbedaan
gender tidak menentukan hak kewarisan dalam Islam. Baik laki-laki
maupun perempuan mendapatkan hak yang sama kuat untuk
mendapatkan warisan, walaupun dari segi jumlah yang diperoleh
memang tidak sama. Meskipun demikian, hal tersebut bukan berarti
tidak adil. Karena keadilan dalam pandangan Islam tidak hanya
diukur dengan jumlah yang didapat saat menerima hak waris tetapi
juga dikaitkan dengan kegunaan dan kebutuhan. Secara umum dapat
dikatakan bahwa laki-laki membutuhkan lebih banyak materi
dibandingkan perempuan. Hal tersebut dikarenakan laki-laki dalam
Islam memikul kewajiban ganda yaitu untuk dirinya sendiri dan
terhadap istri (keluarganya), berdasarkan QS al-Nisa>’: 34.
e) Asas semata akibat kematian. Hukum kewarisan Islam hanya
mengenal satu bentuk kewarisan yaitu kewarisan akibat kematian
semata. Harta seseorang tidak dapat beralih kepada orang lain
dengan nama waris selama yang mempunyai harta masih hidup.
Segala bentuk peralihan harta seseorang yang masih hidup baik
secara langsung, maupun terlaksana setelah dia mati tidak termasuk
ke dalam istilah kewarisan menurut hukum Islam.
Diterbitkan di: 26 Desember, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.