Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Hukum & Politik>Hukum Keluarga>Analisa Perkawinan Sesama Jenis

Analisa Perkawinan Sesama Jenis

oleh: jkpoli    
ª
 
Menurut undang-undang no 1 tahun 1974, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.


Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pernikahan itu dilakukan oleh seorang pria dengan seorang wanita dengan berbagai macam tujuan, baik dari dilihat motivasi biologis, sosiologis, religious, psikologis, ekonomis, genetic, bahkan sampai tujuan politik.

Pengertian perkawinan sejenis dapat diartikan sebagai ikatan yang dilakukan antar 2 manusia dengan jenis kelamin yang sama, baik sesama laki-laki maupun sesama perempuan.

Perkawinan antarwaria atau perkawinan sesama jenis sungguh sangat bertolak belakang dengan pengertian dari perkawinan menurut undang-undang, yang menyebabkan perkawinan itu ditolak di Indonesia. Mungkin diihat dari sudut tujuan biologisperkawinan ini dapat diterima, karena mereka mempunyai kelainan seks yang hanya dapat terpuaskan dengan berhubungan sesama jenis. Tapi bagaimana dengan tujuan dan motivasi yang lain? Manusia bukanlah binatang yang melakukan perkawinan hanya untuk kepuasan biologis semata, bahkan binatang melakukan perkawinan dengan pasangan jantan dan betina.

Sebagai contoh, motivasi genetic sangat tidak masuk akal bila perkawinan ini ada, karena tidak mungkin pasangan perkawinan ini memiliki keturunan.

Tujuan perkawinan yang paling inti adalah membentuk keluarga (walaupun tidak semua perkawian), Keluarga yang ideal adalah keluarga yang terdiri dari Ayah (laki-laki), Ibu (perempuan), dan anak. Jika ada perkawinan antarwaria/ sesama jenis , itu bukanlah bertujuan untuk membentuk suatu keluarga, karena dilihat dari aspek yang hanya terdiri dari laki-laki atau perempuan saja bagai mana akan ada ayah, ibu atau yang paling mustahil akan adanya anak.

Perkawinan sesama jenis juga tidak memenuhi syarat-syarat perkawinan menurut undang-undang maupun agama. Dalam Kompilasi Hukum Islam buku I tentang perkawinan pasal 14, untuk melaksanakan perkawinan harus ada: Calon suami, calon istri, Wali nikah, Dua orang saksi, ijab dan qobul.

Dari sudut agama islam dalam surat Ar-Rum: 21 disebutkan “ Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah diciptakanNya untukmu dari jenis mu supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya , dan dijadikanNya diantara kasih dan saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. “. Dari surat diatas dapat disimpulkan bahwa manusia secara kodratnya telah mempunyai pasangan hidup masing-masing yang berbeda jenis (kelamin) agar dapat saling mengisi.


Dilihat dari sudut pandang kesehatan, pernikahan sesama jenis juga hanya akan menimbulkan mudarat (kejelekan). Secara biologis, baik laki-laki maupun perempuan telah memiliki alat yang mempunyai fungsi dan tugas masing-masing. Para pakar kesehatan mengatakan bahwa para pelaku seks sesama jenis lebih besarterkena resiko penyakit kelamin ,karena kebanyakan dari mereka melakukan seks secara “anal”(pada lubang dubur).

Kesimpulan

Perkawinan sejenis adalah perkawinan yang dilakukan oleh manusia yang mempunyai jenis kelamin sama, baik sesama laki-laki maupun sesama perempuan.

Undang-undang menolak perkawinan perkawian ini karena tidak sesuai baik dari sudut pengertian dari perkawinan itu sendiri maupun syarat-syarat perkawinan.

Dari sudut pandang lain , agama dan system kepercayaan yang ada di Indonesia tidak ada yang dapat menerima perkawinan ini. Perkawinan ini dianggap lebih banyak mendatangkan mudarat daripada manfaat.

Dilihat dari analisa diatas, maka langkah pemerintah dalam menolak pernikahan sesama jenis sangatlah masuk akal dan merupakan langkah yang bijak dalam menjaga harkat dan martabat sebagai bangsa yang bermoral.

Saran

Sebaiknya para pelaku lebih didekatkan pada unsur agama, dan pemerintah membuatkan lembaga yang menampung para pelaku yang ingin bertobat.

Diterbitkan di: 05 Juli, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.