Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Hukum & Politik>Bukti>Kewalahan Di Medan Tempur

Kewalahan Di Medan Tempur

oleh: supermaster    
ª
 
Memasuki 100 hari lebih operasi NATO di Libya untuk mensupresi Presiden berkuasa Moamara Qadaffy lengser keprabon benar-benar masih belum membuahkan hasil. Sementara itu, pengeluaran untuk biaya perang telah menaik berkali-kali lipat dan hampir membuat bangkrut kedua negara pemimpin operasi serangan udara ini, Inggris dan Perancis.

Sebuah laporan yang mengejutkan di muat dalam situs aviation week hari ini mengenai kewalahan kedua negara ini dalam medan perang. Mereka menyebutnya sebagai sesuatu yang sangat mendorong(memberi semangat) sekaligus memalukan. Mendorong dalam artian mencoba memberikan kemenangan atas demokrasi sementara memalukan ada beberapa arti. Peralatan militer Inggris yang di gunakan untuk kampanye perang udara ini telah memasuki masa pensiun tepat sebulan setelah operasi di mulai. Perancis sendiri mengaku salah menggunakan senjata dalam membabat pasukan simpatisan Qadaffy sehingga mengakibatkan jatuhnya penduduk sipil.

Pesawat terbang pengintai Inggris, Nimrod R-1 memasuki pensiun di akhir maret tahun ini dan segera di gantikan dengan RC-135W "Air Seekers". lha bukannya lebih baru lebih bagus? ini masalahnya, banyak para awaknya masih belum familiar dalam mengoperasikan secara maksimal pesawat ini di udara kala di butuhkan. Untuk itu, AU Inggris hanya dapat memaksimalkan penggunaan pesawat pengintai E-3D Sentry dan Sentinel R-1. Sentinel membawa peralatan yang di sebut dengan Astor (airborne stand-off radar) yang di mana memungkinkan para awak untuk memindah motode pencarian jejak dari SAR(Synthetic Arpeture Radar) ke GMTI(Ground Moving Target Indicator). Dengan begitu para awak selain dapat mendeteksi kontur permukaan tanah, alat ini memungkinkan sekaligus pendeteksian benda bergerak di atas tanah dalam radius yang sangat luas.

Namun masalah baru yang lebih pelik yang harus di hadapi oleh angkatan udara Inggris yakni pensiun pesawat tempur bersayap lipat, Tornado pada akhir bulan maret juga. Angkatan Udara Inggris menggantikan jet tempur Tornado berkemampuan serang darat dengan pesawat tempur EF-2000 yang berkemampuan serang udara. Intinya menggunakan pesawat tempur berkemampuan serang darat terbatas untuk melaksanakan operasi serang darat total. Namun pilot yang di latih AU Inggris dan benar-benar siap mengoperasikan jet tempur bersayap delta ini hanya berjumlah 8 orang saja saat itu. Dan lebih parahnya lagi, mereka cuma siap untuk memaksimalkan serangan darat dengan menerbangkan jet tempur itu. Jika harus perang udara, para pilot tersebut mungkin akan kewalahan karena masih belum teradapatasi 100 persen dengan peralatan tempur. Inggris mau tidak mau tidak dapat mengoperasikan jet tempur ini secara mandiri dalam operasi ini. AU Inggris menerbangkan jet tempur ini berpasangan dengan pesawat tempur Tornado ECR GR4. ECR(Electronic Combat Reconnaissance) ini berfungsi menandakan target agar Typhoon tersebut dapat mengunci dan menembak sasaran secara presisi.

Para pilot Typhoon tersebut di kirim ke Italy untuk mendapatkan pelatihan terbang jet tempur ini. Kunjungan pelatihan pun di buat lebih pendek yakni 8 minggu dari sekitar 6 bulan. Hasilnya sekarang sudah ada 20 pilot yang siap terbang dengan jet tempur Typhoon ini secara mandiri ke udara Libya. Inggris mempersingkat pelatihan lengkap dalam menerbangkan jet tempur ini yakni: pelatihan terbang malam dan pengisian bahan bakar di udara.

Berbeda dengan Inggris, AU Perancis tidak ada masalah dengan pengoperasian jet tempurnya di medan perang. Namun Perancis menyadari kesalahan penggunaan senjata dalam menekan pasukan simpatisan Qadaffy. Rudal udara ke darat Sagem AASM (Armement Air-Sol Modulaire) memiliki hulu ledak 250 kg(550 pon) terkesan terlalu besar dan tidak cocok untuk menghantam sasaran dalam ukuran jumlah kecil karena daya dan radius ledaknya luas. Alhasil, banyak sasaran sipil yang menjadi korban. Tidak seperti rudal brimstone yang di gunakan oleh AU Inggris, Perancis mencari dalam inventory-nya sendiri jenis rudal darat ke udara yang bisa di gunakan. Akhirnya Perancis menggunakan Safran/MBDA AASM yang bentuk lebih kecil, ramping dengan hulu ledak yang lebih kecil. Bom ini menggunakan sistem kendali GPS. Bom ini dapat menghancurkan kendaraan lapis baja dengan kecepatan 300m/detik, namun tidak berimbas pada kerusakan dalam jarak 200 m. Bom ini dapat di programkan untuk melacak dan menghancurkan sasaran dengan menggunakan penuntun Laser ataupun infra merah. Jet tempur Rafale Perancis berhasil menghancurkan kolom kendaraan lapis baja Libya dengan Rudal AASM. Selain itu keberhasilan lainnya yakni menghancurkan sistem peluncur rudal darat ke udara Libya SAM SA-3 Goa pada tanggal 19 Maret. Setelah itu, pada tanggal 24 Maret, rudal sejenis berhasil menghancurkan sebuah jet latih buatan Yugoslavia, Galeb sesegera setelah pesawat tersebut mendarat. Pesawat tersebut terdeteksi pesawat AWACS NATO karena melanggar zona larangan terbang.

Dalam Perancis dan Inggris harus sama-sama berusaha menunjukkan keunggulan jet tempur ini di medan perang mengingat kedua jet berbeda tipe ini sedang bersaing untuk mendapatkan kontrak pertahanan dari AB India. Ini juga menjadi alasan tersendiri.

(sumber: Aviation Week)

Diterbitkan di: 02 Juli, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.