Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Hukum & Politik>Bukti>Terminal Bubulak Meradang

Terminal Bubulak Meradang

oleh: Rahadian     Pengarang : Asep DW
ª
 

Dirangkum dari hasil pantauan wartawan KP di lokasi terminal angkutan umum (angkot) Bubulak selama lebih kurang dua bulan, terdapat berbagai ungkapan aspirasi yang mayoritas berupa keluhan dan berujung ketidak jelasan. Terminal yang mulai beroperasi di penghujung tahun 2002 ini, kini nasibnya sangat memprihatinkan.

Kondisi pisik infrastruktur dan tata ruangnya sangat carut marut sebagian   bangunan sudah rusak sejak lama dan tidak terawat, bahkan ada yang untuk koridor “ngetem” angkot sudah diganti dengan bangunan bertiangkan bambu dengan atap terpal dan spanduk bekas. Bau “PESING” akibat ulah orang-orang yang sembarangan buang air kecil tercium menyengat hidung di setiap penjuru terminal tersebut. Sirkulasi keluar masuknya kendaraan pun semakin semrawut, ini berimbas dengan ngaret nya timer (jam tunggu) Sopir-sopir angkot yang menunggu mobilnya penuh dengan sewa (penumpang : red) di dalam terminal, karena konsentrasi turun naiknya penumpang yang terpecah dengan terminal lain (Laladon) di wilayah Kabupaten Bogor sebagai kompetitor utama, selain karena para calon penumpang lebih memilih turun di luar terminal mencari angkot-angkot yang “nyodok” dengan alasan nguber waktu walaupun harus kucing-kucingan dengan petugas.

Kalau sudah seperti ini harus bagaimana ? Siapa yang bersalah dan bagaimana tanggung jawab memperbaikinya ? rakyat sebagai pelaku usaha dan penjual jasa angkutan di terminal Bubulak, serta para pengguna jasa angkutan hanya mampu mengeluh berkepanjangan. Lalu kenapa petugas yang berwenang belum juga menemukan solusi untuk jalan keluarnya yang terbaik ? Setidaknya itulah ungkapan dari “Abah, Jimmi dan puluhan orang rekan mereka saat diwawancarai KP selama kurang lebih dua bulan (dalam setiap minggunya).

Dirangkum dari hasil pantauan wartawan KP di lokasi terminal angkutan umum (angkot) Bubulak selama lebih kurang dua bulan, terdapat berbagai ungkapan aspirasi yang mayoritas berupa keluhan dan berujung ketidak jelasan. Terminal yang mulai beroperasi di penghujung tahun 2002 ini, kini nasibnya sangat memprihatinkan.
Kondisi pisik infrastruktur dan tata ruangnya sangat carut marut sebagian bangunan sudah rusak sejak lama dan tidak terawat, bahkan ada yang untuk koridor “ngetem” angkot sudah diganti dengan bangunan bertiangkan bambu dengan atap terpal dan spanduk bekas. Bau “PESING” akibat ulah orang-orang yang sembarangan buang air kecil tercium menyengat hidung di setiap penjuru terminal tersebut. Sirkulasi keluar masuknya kendaraan pun semakin semrawut, ini berimbas dengan ngaret nya timer (jam tunggu) Sopir-sopir angkot yang menunggu mobilnya penuh dengan sewa (penumpang : red) di dalam terminal, karena konsentrasi turun naiknya penumpang yang terpecah dengan terminal lain (Laladon) di wilayah Kabupaten Bogor sebagai kompetitor utama, selain karena para calon penumpang lebih memilih turun di luar terminal mencari angkot-angkot yang “nyodok” dengan alasan nguber waktu walaupun harus kucing-kucingan dengan petugas.
Kalau sudah seperti ini harus bagaimana ? Siapa yang bersalah dan bagaimana tanggung jawab memperbaikinya ? rakyat sebagai pelaku usaha dan penjual jasa angkutan di terminal Bubulak, serta para pengguna jasa angkutan hanya mampu mengeluh berkepanjangan. Lalu kenapa petugas yang berwenang belum juga menemukan solusi untuk jalan keluarnya yang terbaik ? Setidaknya itulah ungkapan dari “Abah, Jimmi dan puluhan orang rekan mereka saat diwawancarai KP selama kurang lebih dua bulan (dalam setiap minggunya).
Diterbitkan di: 24 Mei, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.