Dubes AS untuk Cina, Clark T. Randt Jr. yang
menjabat antara tahun 2001 hingga 2009. Dalam memo yang di kirim
dari kedubes AS di China kepada Washington mencatat sebetapa berbahayanya reaktor-reaktor
pembangkit listrik tenaga nuklir di Cina. Walaupun dalam memo tersebut tidak
menyinggung bahwa buruknya kualitas dan penanganan bisa mengakibatkan reaktor
nuklir Cina bisa bernasib sama dengan reaktor nuklir Daiichi di prefektur
Fukushima, Jepang yang meledak setelah gempa bumi dan tsunami di Jepang awal
tahun ini.
Beberapa tahun belakangan ini pemerintah komunis Cina
ketahuan membangun reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir dengan teknologi
murah untuk penggunaan selama satu abad ke depan(100 tahun).Awal tahun ini pemerintah Cina di peringati
akan bahayanya reaktorpembangkit
listrik tenaga nuklir dan melakukan insdak setelah krisis nuklir di Jepang pada
bulan maret.
Kabel diplomatik yang di lepaskan oleh Wikileaks awal minggu
ini menunjukkan sebetapa cerobohnya pemerintah Cina yang mengedepankan biaya
murah di atas keamanan reaktor. Masalahnya adalah Cina kembali membangun
puluhan reaktor nuklir baru dengan berbasis pada rancangan reaktor nuklir lama
dan bahan yang ‘kuno’.
Pada Agustus 2008, Cina mengumumkan secara terbatas mengenai
proses pembangunan 50 hingga 60 reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir baru
yang siap beroperasi pada tahun 2020. Cina lebih tertarik pembangunan dengan menggunakan
teknologi Perancis dan Russia ketimbang AS. AS sendiri melunak dengan mendorong
Cina untuk menggunakan reaktor nuklir buatan Westinghouse, AP-1000. Kenapa AS
bersikeras? Karena reaktor ini memiliki mekanisme penghentian operasional
secara otomatis tanpa campur tangan orang.
Namun rupanya yang lebih menghawatirkan lagi adalah Cina
hendak membangun reaktor nuklirnya sendiri ketimbang membeli dari negara-negara
yang telah berpengalaman dalam bidang pengembangan dan pembuatan reaktor
nuklir. CPR-1000 adalah reaktor nuklir lama buatan Westinghouse, AS tahun 60 an yang hendak di kopi dan di bangun
ulang menjadi reaktor baru. Reaktor nuklir tersebut sekarang beroperasi di
wilayah Teluk Daya dan Ling Ao.
Sebenarnya Cina pernah membuka tender bagi perusahaan-perusahaan asing untuk membangun rektor-reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir untuk memenuhi kebutuhan listrik di dalam negerinya. Mereka yang ikut dalam tender proyek ini adalah Westinghouse(AS), Areva(perancis) dan AtomStroyExport(Russia). · Westinghouse menawarkan APR-1000 · Areva menawarkan EPR · AtomStroyExport menawarkan VVER-1000 sejenis yang di operasikan di Tianwan Pada akhirnya semua mendapatkan proyek ini untuk membangun reaktor nuklir.
Westinghouse di Sanyang dan Haiyan masing-masing sebanyak 2 unit reaktor nulir. Areva dengan 2 unit EPR, 20 tahun bahan bakar dan bantuan lain tidak di spesifikasikan dalam mengolah ulang bahan bakar. Sementara itu AtomStroyExport mendapatkan proyek membangun 2 reaktor nuklir VVER-1000 untuk di bangun di Tianwan. Total reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir yang di bangun menjadi kurang lebih 30 unit dengan rincian, 4 reaktor jenis AP-1000, 2 reaktor jenis EPR, 2 reaktor jenis VVER dan sekitar 2 lusin reaktor CPR-1000 yang di tiru dari reaktor Framatome di Teluk Daya. Pada tahun 2009, kantor berita Xinhua pernah menyebutkan bahwa Cina tidak semua reaktor nuklir Cina berjenis CPR-1000. Hanya 2 dari 22 unit reaktor nuklir yang menggunakan teknologi CPR-1000. Cina di sebut meniadakan teknologi keamanan pasif yang berada dalam teknologi AP-1000, negeri tirai bambu ini hanya menambahkan sederet resiko pada “armada” nuklirnya.Westinghouse mengklaim teknologi barunya jauh 100 kali lebih aman dari yang ada sekarang. Seperti yang di sebutkan di awal, bahwa teknologi yang terkandung dalam AP-1000 memungkinkan non aktif secara otomatis tanpa campur tangan manusia di dalamnya. Hal ini sangat berguna ketika adanya ancaman bencana alam maupun kesalahan manusia. China dalam hal ini mengatakan bahwa mereka telah memperbaharui teknologi pengamanan reaktor nuklir CPR-1000 yang di tiru. Namun Cina tetap mengatakan bahwa teknologinya tidak sebagus teknologi yang di kembangkan oleh Westinghouse. Pemerintah Cina juga mengatakan bahwa mereka sedang menggodok undang-undang baru administrasi keamanan penggunaan pembangkit listrik energi nuklir ini sehingga dapat menyamakan standar keamanan reaktor PLTN generasi ke III seperti teknologi AP-1000 ataupun Thritorium. Lucunya lagi,4 reaktor PLTN generasi kedua ini mendapatkan persetujuan dari konsul negara hanya berselang satu hari sebelum meledaknya reaktor nuklir Daiichi, Fukushima – Jepang. Bahkan di sebut-sebut kekuatan ledakan reaktor nuklir tersebut setara dengan yang meledak di Chernobryl, Russia. Akibatnya Jepang, Jerman dan Italia mulai mempertimbangkan perlunya PLTN dalam menyuplai listrik bagi kebutuhan dalam negerinya. Namun Cina sejauh ini tetap akan membangun reakor nuklir sesuai dengan rencana awal. Reaktor terbaru di Ling Ao baru selesai awal bulan ini. Cina menargetkan bahwa pada tahun 2020, kapasitas energi listrik negara ini mencapai 50 hingga 60 GW(giga watt) dari 40 GW dengan jumlah reaktor yang ada.
Rincian memo kabel diplomatiknya dapat di baca di sini: http://www.wikileaks.org/cable/2008/08/08BEIJING3362.html