Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Kejahatan Kerah Putih

oleh: jkpoli    
ª
 
Istilah kejahatan kerah putih mengacu pada suatu kategori yang menggambarkan perilaku tidak sah yang sangat mendasar, dibedakan dari kejahatan “jalanan” atau “tradisional” seperti perampokan, pencurian, penyergapan, dan pembunuhan. Tidak ada pelanggaran KUU Pidana yang secara khusus memberi judul “kejahatan kerah putih,” selain penunjukan yang mencakup pelanggaran hukum yang berbeda, terutama delik pengaturan. Bentuk kejahatan kerah putih adalah perdagangan saham oleh orang dalam, konspirasi antitrust dalam pembatasan perdagangan, mengetahui pemeliharaan dari kondisi tempat kerja yang membahayakan kesehatan, dan penipuan oleh dokter terhadap program pemanfaatan medis. Ukuran yang digunakan untuk membedakan seseorang melakukan kejahatan kerah putih dari kejahatan lainnya adalah, bahwa tindakan yang dilaksanakan merupakan bagian dari peran jabatan yang dilanggar; suatu peran yang biasanya menempati dunia bisnis, politik, atau profesi (Green, 1990).

Istilah kejahatan kerah putih dikatakan oleh Edwin H. Sutherland, seorang profesor sosiologi di Indiana University, dalam posisinya sebagai ketua American Sociological Association Pada tahun 1939 (Sutherland, 1940). Monografi Sutherland, White Collar Crime, diterbitkan 10 tahun kemudian, memperoleh sedikit penghargaan internasional yang sejajar dengan sedikit acuan mengenai ilmu kejahatan lain. Hermann Mannheim (1965:170) menyatakan bahwa bila ada suatu hadiah Nobel untuk ilmu pidana, Sutherland niscaya mendapatkannya. White Collar Crime merupakan suatu pembeberan keras dan tegas, yang mendokumentasikan pelaku hukum oleh korporasi dan orang dalam eselon masyarakat bagian atas. Buku itu meremehkan teori populer perilaku jahat; seperti menyalahkan rumah tangga yang berantakan untuk kenakalannya, dengan menunjukkan bahwa penjahat kerah putih telah memperoleh pendidikan terbaik serta kemewahan dan perlakuan khusus. Mereka tidak menderita penyakit yang komplek atau pelatihan toilet penuh tekanan. Meskipun begitu, tidak diragukan bahwa mereka adalah pelaku kejahatan.

Telah dicatat bahwa tindak pidana biasa mempunyai kecenderungan untuk mempersatukan masyarakat. “Orang-orang yang “baik” dan “pantas” datang bersama-sama untuk menghukum penjahat yang umum. Mereka menguatkan kesanggupan mereka sendiri untuk penyesuaian diri, di samping belajar bahwa tindakan seperti itu dapat mendorong kearah hukuman penjara dan sakit. Penjahat kerah putih, pada sisi lain, mengancam integritas suatu masyarakat sebab mereka menyangsikan hak kekuasaan kehendak masyarakat sosial, dan mereka mengikis kepercayaan dan kesadaran hukum. Di samping mereka lebih mengakibatkan kejahatan dan kematian warga dibanding kejahatan jalanan. Pengelapan uang oleh petugas bank lebih banyak dibandingkan pencurian oleh perampok bank, banyak orang dibunuh oleh pembedahan yang tak perlu dibanding dibunuh oleh para pembunuh tradisional.

Diterbitkan di: 05 Juli, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.