Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Hukum & Politik>Hukum Pidana>Pengertian dan Tujuan Sanksi Pidana (Hukuman)

Pengertian dan Tujuan Sanksi Pidana (Hukuman)

oleh: rajauntung     Pengarang : umar setia
ª
 

Hukuman dalam bahasa Arab disebut ‘uqubah. Lafaz ‘uqubah menurut
bahasa berasal dari kata: ( عَقَبَ ) yang sinonimnya: ( خَلَفَهُ وَجَاءَ بِعَقَبِهِ ), artinya:
mengiringnya dan datang dibelakangnya. Dalam pengertian yang agak mirip dan
mendekati pengertian istilah, barangkali lafaz tersebut bisa diambil dari lafaz:
عَاقَبَ) ) yang sinonimnya: ( جَزَاهُ سَوَاءً بِمَا فَعَلَ ), artinya: membalasnya sesuai dengan
apa yang dilakukannya.
Jadi menurut bahasa, hukuman berarti siksaan atau pembalasan kejahatan
(kesalahan dosa). Abd Al-Qadir ‘Audah memberikan definisi Hukuman sebagai
berikut:
Artinya:
العُقُوْبَة هِىَ الْجَزَاءُ الْمُقَرَّرُ لِمَصْلَحَةِ الْجَمَاعَةِ عَلىَ عِصْيَانِ أَمْرِ الشَّارِعِ.
“Hukuman adalah pembalasan atas pelanggaran perintah syara’ yang
ditetapkan untuk kemaslahatan masyarakat”.
Dari definisi tersebut, bahwa Hukuman merupakan balasan yang setimpal
atas perbuatan pelaku kejahatan yang mengakibatkan orang lain menjadi korban akibat perbuatannya. Dalam ungkapan lain, Hukuman merupakan penimpaan
derita dan kesengsaraan bagi pelaku kejahatan sebagai balasan dari apa yang
telah diperbuatnya kepada orang lain atau balasan yang diterima si pelaku akibat
pelanggaran (maksiat) perintah syara’.
Hukuman itu harus mempunyai dasar, baik dari al-Qur’an, hadis, atau
lembaga legislatif yang mempunyai kewenangan menetapkan hukuman untuk
kasus Ta‘zir. Selain itu hukuman harus bersifat pribadi, artinya hanya dijatuhkan
kepada yang melakukan kejahatan saja. Hal ini sesuai dengan prinsip bahwa:
“Seseorang tidak menanggung dosanya orang lain”. Hukuman itu juga harus
bersifat umum, artinya berlaku bagi semua orang, karena semua manusia sama
dihadapan hukum.
Tujuan pokok dalam penjatuhan hukuman dalam syari’at islam ialah
pertama, pencegahan dan balasan (Al-rad’u wa al-Zajru) dan kedua, perbaikan
dan pendidikan (Al-Is}lahu wa al-Tahz\ib).
1. Pencegahan dan Balasan ( ( الردع والزجر
Pengertian pencegahan ialah menahan pelaku agar tidak mengulangi
perbuatan jarimahnya atau agar ia tidak terus-menerus memperbuatnya. Di
samping pencegahan terhadap pelaku, pencegahan juga terhadap orang lain agar ia tidak ikut-ikutan memperbuat jarimah6, sebab ia bisa mengetahui bahwa
hukuman yang dikenakan terhadap orang yang memperbuat pula perbuatan yang
sama. Oleh karena tujuan hukuman adalah pencegahan, maka besarnya hukuman
harus sedemikian rupa yang cukup mewujudkan tujuan tersebut, tidak boleh
kurang atau lebih dari batas yang diperlukan dan dengan demikian maka terdapat
prinsip keadilan dalam menjatuhkan hukuman.
2. Perbaikan dan Pendidikan ( ( الإصلاح والتهذيب
Tujuan yang kedua dari penjatuhan hukuman adalah untuk mengusahakan
kebaikan dan pengajaran bagi pelaku jarimah. Dengan tujuan lain, pelaku jarimah
diarahkan dan dididik untuk melakukan perbuatan baik serta meninggalkan
perbuatan jahat. Pada awalnya si pelaku jarimah merasakannya sebagai
pemaksaan terhadap dirinya untuk melakukan sesuatu yang tidak disenanginya,
namun pada tahap berikutnya timbul kesadaran bahwa perbuatan tersebut
memang harus dia kerjakan atau harus dia tinggalkan bukan karena ancaman
hukuman. Pada tahap ini, pelaku suatu tindak pidana atau jarimah tersebut akan
memandang perbuatan tindak pidana sebagai sesuatu yang tidak dia sukai,
sesuatu yang menurut agamanya terlarang. Penghentiannya terhadap suatu
perbuatan pidana tidak hanya karena ketakutan terhadap sanksi duniawi, namun
kesadaran dirinya bahwa kelak di akherat dia akan mempertanggung jawabkan
perbuatannya dihadapan Yang Maha Kuasa.Dalam aplikasinya, hukuman dapat dijabarkan menjadi beberapa tujuan,
sebagai berikut:
Pertama, untuk memelihara masyarakat. Dalam kaitan ini pentingnya
hukuman bagi pelaku jarimah sebagai upaya penyelamatan masyarakat dari
perbuatannya. Pelaku sendiri sebenarnya bagian dari masyarakat, tetapi demi
kebaikan masyarakat yang banyak, maka kepentingan perseorangan dapat
dikorbankan. Kejahatan itu sendiri merupakan penyakit yang ada pada anggota
masyarakat, maka untuk menghindarkan penyebaran penyakit adalah melakukan
upaya untuk mengobati penyakit itu dan menjauhkannya dari masyarakat.
Dengan demikian, hukuman itu pada hakikatnya adalah obat untuk
menyembuhkan penyakit yang diderita si pelaku kejahatan agar masyarakat
terhindar dari penyebarannya. Walaupun pada kenyataannya, hukuman itu
merupakan penderitaan bagi yang berbuat kejahatan, ketiadaan hukuman bagi
pelaku kejahatan menyebabkan penderitaan tersebut berpindah pada orang yang
lebih banyak.
Kedua, sebagai upaya pencegahan. Apabila seseorang melakukan tindak
pidana, dia akan menerima balasan yang sesuai dengan perbuatannya. Dengan
balasan tersebut, pemberi hukuman berharap terjadinya dua hal. (1) Pelaku
diharapkan menjadi jera karena rasa sakit dan penderitaan lainnya, sehingga ia
tidak akan mengulangi perbuatan yang sama di masa datang. (2) Orang lain tidak meniru perbuatan si pelaku sebab akibat yang sama juga akan dikenakan kepada
peniru.
Ketiga, sebagai upaya pendidikan dan pengajaran (ta’dib wat Tahz\ib).
Hukuman bagi pelaku pada dasarnya juga sebagai upaya mendidiknya agar
menjadi orang baik dan anggota masyarakat yang baik pula. Dia diajarkan bahwa
perbuatan yang dilakukannya telah mengganggu hak orang lain, baik materil
ataupun moril dan merupakan perkosaan atas hak orang lain. Dari segi ini,
pemberian hukuman tersebut adalah sebagai upaya mendidik pelaku jarimah
mengetahui akan kewajiban dan hak orang lain.
Keempat, hukuman sebagai balasan atas perbuatan. Pelaku jarimah akan
mendapat balasan atas perbuatan yang dilakukannya. Menjadi suatu kepantasan
setiap perbuatan dibalas dengan perbuatan lain yang sepadan, baik dibalas
dengan perbuatan baik dan jahat dibalas dengan kejahatan pula dan itu sesuatu
yang adil.
Kalau tujuan-tujuan pemjatuhan hukuman di atas tidak dapat tercapai,
maka upaya terakhir dari Hukum Pidana Islam yaitu kalau dengan cara ta’dib
(pendidikan) tidak menjerakan si pelaku jarimah dan malah menjadi sangat
membahayakan masyarakat, hukuman ta’zir bisa diberikan dalam bentuk
hukuman mati atau penjara tidak terbatas.
Dari aplikasi-aplikasi tujuan-tujuan hukum, tujuan pokoknya adalah
menyadarkan semua anggota masyarakat untuk berbuat baik dan menjahui perbuatan jelek, mengetahui perbuatan dirinya dan menghargai hak orang lain
sehingga apa yang diperbuatnya di kemudian hari berdasarkan kesadaran tadi,
tidak selalu dikaitkan dengan ancaman hukuman
Diterbitkan di: 08 Juni, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.