Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Hukum & Politik>Teori Modern>Pengetahuan Tentang Hukum Adat dan Budaya, Bagian 2

Pengetahuan Tentang Hukum Adat dan Budaya, Bagian 2

oleh: muhlis     Pengarang : anonymous
ª
 
kenyataannya pembagiaan wilayah hukum adat ini menunjukkan tiap-tiap daerah memiliki adat dan hukum adat sendiri yang terpelihara, dipupuk dan dibina oleh masyarakatnya dan mendapat pengayoman dari pemerintah.

jadi tidaklah benar kalau adat hanya terdapat di bali saja, sehingga adat-adat itu harus ditinggalkan karena sudah tidak sesuai dengan tatanan kehidupan modern, kolot atau ketinggalan jaman. memang benar ada beberapa adat yang harus ditinggalkan atau disesuaikan dengan kehidupan sekarang, namun tidak berarti semua adat harus dihapuskan.

salah satu contoh, yaitu penghapusan peradilan adat berdasarkan undang-undang darurat no. 1 tahun 1951, bukan berarti penghapusan adat, tetapi lembaga peradilan adatnya yang dihapus.

beberapa anggapan keliru tentang adat di masyarakat, misalnya :

* adat harus ditinggalkan karena menghambat jalannya pembangunan
* upacara-upacara adat harus ditiadakan secara bertahap karena tidak sesuai dengan kemajuan jaman dan menghabiskan biaya terlalu besar
* bila ada perbedaan antara adat dengan ajaran agama, maka ketentuan-ketentuan adat harus diabaikan atau dihapuskan
* adat menghambat penegakkan hukum nasional
* adat sudah tidak cocok dikembangkan atau dipertahankan, bila kita ingin mencapai

kemajuan dibidang ekonomi, sosial budaya, dan kehidupan ketatanegaraan
pandangan demikian sesungguhnya sangat keliru, dan dapat mendorong masyarakat untuk meninggalkan adat-istiadat warisan nilai-nilai leluhurnya, berarti menggiring pula masyarakat meninggalkan kepribadiannya yang berlandaskan keluhuran budi pekerti.

tidaklah mungkin terdapat suatu peradaban yang tinggi pada suatu masyarakat yang tidak memiliki adat-istiadat sebagai himpunan tata nilai yang dijadikan patokan norma dalam prikehidupan masyarakatnya.

hal ini dapat dikatakan bahwa tata cara penyelenggaraan upacara yang dilaksanakan oleh umat hindu di seluruh indonesia, yang dinamakan panca yadnya, bervariasi menurut adat setempat atau disesuaikan dengan desa kala patra. sehingga upacara kelahiran bayi, upacara meningkat dewasa, perkawinan, kematian, ngaben (pembakaran jenazah) dan lain-lain, bervariasi dan berlainan menurut adat masing-masing, baik di bali maupun wilayah lain di indonesia.

di bali sendiri, masing-masing daerahnya memiliki adat istiadat tersendiri dalam melaksanakan kegiatan upacara agama hindu. dari sudut kenyataan, kita mengerti bahwa pelaksanaan upacara agama hindu menurut adat istiadat setempat, tidaklah bertentangan dengan inti sari ajaran agama hindu, diperbolehkan dan mendapat perlindungan hukum sesuai pasal 29 ayat 1 dan 2 uud 1945.

adat, berasal dari kata arab yang artinya kebiasaan. sedangkan ajaran-ajaran agama hindu pada umumnya ditulis dalam bahasa sansekerta, jawa kuno (kawi) atau bahasa bali dan tidak ada yang ditulis dalam bahasa arab. hal ini berarti kemungkinan istilah adat tidak dikenal oleh masyarakat bali sebelum pemerintahan kolonial belanda berkuasa di indonesia (termasuk bali).

masyarakat bali ketika itu telah mempunyai istilah-istilah sendiri untuk menyebutkan adat istiadat yaitu dresta (catur dresta), sima, lokacara dan sebagainya. dresta berasal dari bahasa sansekerta yang artinya tingkah laku nyata dari masyarakat, yang dapat disaksikan dalam hubungan dengan pelaksanaan tata cara upacara agama hindu.

adat dan hukum adat adalah berbeda, sehingga adat tidak dapat dilihat hanya dari sudut aspek hukumnya saja. terlebih lagi adat di bali bersumber pada ajaran agama hindu, sehingga adat perlu dikaji dari sudut aspek agama hindu, sosial budaya dan berbagai aspek kehidupan masyarakat di bali dalam ruang lingkup pengamalan dharma agama dan dharma negara.


BUDAYA


secara amnya, budaya (culture) bermaksud cara hidup manusia. ia merupakan perkembangan lanjut tubuh badan, akal dan semangat manusia. perkara ini dapat dilihat melalui etimologi perkataan "budaya" yang bermaksud " budi + daya "; yakni budi sebagai aspek dalaman manusia manakala daya sebagai aspek lahiriah manusia. maka pada kesimpulannya, budaya boleh dipahamkan sebagai segala penghasilan masyarakat manusia.

konsep budaya merupakan satu konsep yang penting untuk membandingkan perbedaan antara suatu masyarakat dengan suatu masyarakat yang lain.

ciri-ciri budaya

• budaya merupakan pengkonsian suatu masyarakat
• budaya tidak dapat berpisah dengan bahasa.
• budaya diperolehi melalui proses pembelajaran.
Diterbitkan di: 01 Agustus, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.