Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Hukum & Politik>Hukum Konstitusional>Curi Sandal Polisi, Pelajar Terancam 5 Tahun Bui, KPAI: Ini Lebay

Curi Sandal Polisi, Pelajar Terancam 5 Tahun Bui, KPAI: Ini Lebay

oleh: PurnaKumala     Pengarang : Andi Saputra
ª
 
IRONINYA HUKUM INDONESIA

Alangkah lucunya negeriku ini adalah salah satu judul film dari beberapa judul film yang sudah dirilis oleh seorang Dedy Mizwar yang dengan cerdas mampu mengkritisi fenomena yang ada di negeri seribu pulau ini. Dari sisi perlakuan hukum pada rakyatnya, para pemimpin Negeriku tercinta ini terlihat aneh dan ironi, mungkin karena terlalu banyak beranekdot dan menggampangkan permasalahan yang besar dan membesarkan masalah yang kecil.

Lagi-lagi satu kejadian yang lucu dan membuat miris hati bagi yang mengikuti kasus ini. Dimana seorang anak Pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Tanjung Santigi, Palu Selatan, Sulawesi Tengah, dituduh telah mencuri sendal jepit milik seorang Polisi yang ada di depan kostnya. Namun sial nasib anak malang berusia 15 tahun yang berinisial AAL ini, tertangkap basah dan di gelandang ke kantor polisi.

Kasusnya pun masuk ke pengadilan dan Jaksa dalam dakwaannya tak tanggung-tanggung menuntut terdakwa di kenakan vonis hukuman selama 5 tahun penjara dengan berpatokan pada KUHP Pidana tentang pencurian pasal 362. Dan terang saja, vonis Jaksa ini banyak menuai pro dan kontra. Terutama dari Sekjen Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) M. Ihksan yang menyatakan keprihatinannya yang sangat mendalam pada kasus ini dan seharusnya sebagai seorang polisi, Briptu Ahmad Rusdi Harahap menghormati surat edaran Kapolri tentang restorasi justice.

Dimana isi dari restorasi justice itu menyatakan bahwa dalam penanganan kasus pidana yang melibatkan anak, penegakan hukum harus melihat kepentingan perkembangan anak. Bukan menegakan hukum formal semata. Dan seharusnya pihak kepolisian memanggil orang tua dari terdakwa ini ke kantor polisi agar bisa diselesaikan secara kekeluargaan bukan di bawa ke pengadilan karena membawa anak ke pengadilan akan menimbulkan trauma tersendiri, jelas M. Ikhsan lagi.

Ironi memang, seorang koruptor kakap yang sudah merugikan uang negara hinga triyunan rupiah hanya di tuntut penjara 2 bulan saja. Dan kejadian-kejadian seperti bukan hanya kali ini saja tetapi sudah berulangkali terjadi di Negeriku tercinta ini. Ketika hukum menimpa rakyat biasa, seolah hukum berdiri tegak dan sangat tegas. Semua proses dilakukan dengan cepat tanpa ada jedah. Tetapi, ketika yang tertimpa hukum orang-orang berduit, pejabat-pejabat besar seolah hukum tak mampu lagi berdiri tegak. semuanya serba kompromi dan bisa atur.

Sampai kapan hal seperti ini akan terulang lagi dan terulang lagi, apakah harus menunggu kemarahan rakyat kecil yang seringkali diperlakukan semena-mena. Tentu, hal ini tidak boleh terjadi. Negeri Tercinta ini terlalu mahal dan suci untuk dikorbankan hanya untuk orang-orang hipokrit seperti itu. Semoga pencerahan itu datang, hati nurani menjadi acuan dalam bertindak dalam mengambil keputusan bagi pemimpin-pemimpin kita.

Mudah-mudah kejadian IRONI seperti ini tidak terjadi lagi di negeriku tercinta...Semoga..
Diterbitkan di: 26 Desember, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
  1. 1. M.KHOIRUL ANAM

    keprihatinan terhadap pemenrintahan kita

    saya turut prihatin tehadap hukum di negara kita karna hanya sendal yang tidak seberapa harganya hingga di hukum selama 5 thn. saya war lampung-KOTA METRO ingin ingin beraspirasi menyumbangkan sandal untuk membantu membebaskan AAL dari hukuman selama 5 thn.

    0 Nilai 29 Desember 2011
X

.