Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Hukum & Politik>Mataram KUNO (MEDANG) RUNTUH KARENA KONFLIK TAKHTA ATAU LETUSAN GUNUNG

Mataram KUNO (MEDANG) RUNTUH KARENA KONFLIK TAKHTA ATAU LETUSAN GUNUNG

oleh: Makslawu     Pengarang : Januar Triwahjudi
ª
 
MATARAM KUNO (MEDANG) RUNTUH KARENA KONFLIK TAKHTA ATAU LETUSAN GUNUNG MERAPI


Runtuhnya kekuasaan seorang raja saat itu, sepertinya sudah menjadi tradisi jika bersumber dari konflik rebutan takhta. Saling mengkalim siapa yang lebih berhak, adu kesaktian ( adu kuat dalam duel ), hingga prajurit terkuatlah yang menjadi pemimpin. Tapi dalam sejarah Kerajaan Medang atau Mataram Kuno ini, terdapat versi lain,yaitu runtuhnya Dinasti Sanjaya, di sebabkan letusan gunung Merapi. Karena setelah bencana alam itu, pusat kerajaan bergeser ke Jawa Timur. Dan Dinasti Sanjayawangsa di lanjutkan keluarga baru yang bukan dari turunannya, yaitu Dinasti Isanawangsa, yang merujuk pada gelar Abhiseka Mpu Sindok yaitu Sri Isana Wikramadharmottungga.


PENDUDUK Medang sejak periode Bhumi Mataram sampai periode Wwatan, pad umumnya bekerja sebagai petani. Kerajaan Medang memang terkenal sebagai Negara agraris, sedangkan saingannya yaitu Kerajaan Sriwijaya yang merupakan Negara maritim. Agama resmi Kerajaan Medang pada masa pemerintahan Sanjaya adalah Hindu aliran Siwa.
Ketika Sailendrawangsa berkuasa, agama resmi kerajaan berganti menjadi Buddha aliran Mahayana. Kemudian pada saat Rakai Pikatan dari Sanjayawangsa berkuasa, agama Hindu dan Buddha tetap hidup berdampingan dengan penuh toleransi.

Konflik Takhta Periode Jawa Tengah

Pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi putra Rakai Pikatan ( sekitar 856-880 an ), di temukan beberapa prasasti atas nama raja-raja lain, yaitu Maharaja Rakai Gurunwangi dan Maharaja Rakai Limus Dyah Dewendra. Hal ini menunjukkan kalau pada saat itu Rakai Kayuwangi bukanlah satu-satunya Maharaja di Pulau Jawa. Sedangkan menurut prasasti Mantyasih, raja sesudah Rakai Kayuwangi adalah Rakai Watuhumalang.
Dyah Balitung yang di duga merupakan menantu Rakai Watuhumalang berhasil mempersatukan kembali kekuasaan seluruh Pulau Jawa, bahkan sampai Bali. Mungkin karena kepahlawanannya itu, ia dapat mewarisi takhta mertuanya.
Pemerintahan Balitung di perkirakan berakhir karena terjadinya kudeta oleh Mpu Daksa yang mengaku sebagai keturunan asli Sanjaya. Dia sendiri kemudian di gantikan oleh menantunya bernama Dyah Tulodhong. Tidak di ketahui dengan pasti apakah proses suksesi ini berjalan damai ataukah melalui kudeta berdarah pula. Tulodhong akhirnya tersingkir oleh pemberontakan Dyah Wawa yang sebelumnya menjabat sebagai pegawai pengadilan.

Teori Van Bammelen (sejarawan Belanda)

Menurut sejarawan Belanda , perpindahan istana Medang dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur di sebabkan oleh letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat. Konon sebagian puncak Merapi hancur. Kemudian lapisan tanah bergeser ke arah barat daya hingga terjadi lipatan. Bahkan antara lain membentuk Gunung Gendol dan lempengan Pegununggan Menoreh. Letusan tersebut di sertai gempa bumi dan hujan material vulkanik berupa abu dan batu.
Istana Medang yang di perkirakan saat itu berada di Bhumi Mataram hancur. Tidak di ketahui dengan pasti apakah Dyah Wawa tewas dalam bencana alam tersebut ataukah sudah wafat sebelum peristiwa itu terjadi, karena raja selanjutnya yang bertakhta di Jawa Timur bernama Mpu Sindok.
Mpu Sindok yang menjabat Mapatih Hino mendirikan istana baru di daerah Tamwlang. Prasasti tertuanya berangka tahun 929. Dinasti yang berkuasa di Medang periode Jawa Timur bukan lagi Sanjayawangsa, melainkan sebuah keluarga baru bernama Isanawangsa, yang merujuk pada gelar Abhiseka Mpu Sindok yaitu Sri Isana Wikramadharmottungga.

By : Makslawu
Teks Asli Oleh : Januar Triwahjudi
Diterbitkan di: 17 Februari, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.