Bingung dengan apa yang ingin anda lakukan hari ini?Apalagi untuk yang tidak punya pekerjaan tetap.Ya…di zaman yang serba
sulit ini memang banyak sekali persaingan antar individu.Kalo’ zaman dulu cari pekerjaan gampang,sekarang lain cerita.Orang-orang zaman sekarang rata-rata skill individualnya hampir sama.Sekarang banyak sarjana yang nganggur,ijazah yang di cari kadang hanya jadi pajangan di ruang tamu.Orang-orang zaman dulu merasa bangga dengan ijazah sarjananya,sekarang……tanpa pembuktian apa arti dan gunanya.
Namun sebagian besar masyarakat Indonesia masih banyak yang berfikir terbelakang,yaitu dengan masih mengandalkan atau mengukur kemampuan seseorang dari ijazah atau titelnya.Sebenarnya banyak di sekitar kita,hal-hal yang memiliki nilai “lebih” tanpa ada pernyataan tertulis alias ijazah atau title.Namun orang-orang yang berdedikasi tinggi melihat/menuilai kemampuan seseorang dari kaca mata berbeda.Apalagi mereka yang sekarang menjadi “besar” dengan atau tanpa title/ijazah apapun.Orang-orang jenis ini menilai kesuksesan bukan dari ijazah atau pendidikan,tapi dari apa yang memotifasi seseorang itu sendiri.Sukses bukan berarti kita harus banyak uang,kaya,atau mampu membeli barang-barang mewah.Tapi ketika kita bisa mewujudkan apa yang menjadi keinginan kita,dengan niat dan kesungguhan tanpa berfikir kita berhasil atau tidak,bagaiman nanti kalau kita gagal,malu,atau yang lainya.Justru dengan tanpa bekal apapun itu mereka tekun dan iklas dengan hasil yang mereka dapat.
Standar melamar pekerjaan sekarang adalah minimal berpendidikan SMA,lalu bagaimana dengan mereka yang hanya lulus SMP?Pemerintah mencanangkan pendidikan dasar 9 tahun,lalu apa gunanya?Toh ijazah mereka tidak bisa di gunakan untuk melamar pekerjaan.Akhirnya kita kembali pad titik yang sangat dangkal dan jenuh sekali,maksudnya adalah orang-orang dengan ijazah SMP hanya bias bekerja pada tempat yang bisa di bilang “TIDAK RESMI”,contohnya kerja di tempat-tempat yang gajinya tidak mungkin naik dalam kurun waktu satu tahun atau lebih.Atau harus bekerja dengan peraturan yang berbau pemaksaan atau lebih halusnya kekeluargaan(tapi merugikan si pekerja).Gaji yang tidak sepadan dengan apa yang di kerjakan,waktu yang terlalu over,tekanan-tekanan yang tidak manusiawi.
Bahkan bila kita berhenti bekerja atau di berhentikan dari pekerjaan,tak ada uang pesangon,atau bahkan yang lebih parah di berhentikan dengan tidak terhormat.
Disini adalah persimpangan bagi kita semua…..andai saja orang tua kita selalu mampu membiayai sekolah kita,mungkin sekarang kita semua sudah jadi sajana atau paling tidak punya title yang akan mengangkat kita dari tempat yang bisa di bilang “RENDAH”.Menjadikan kita bekerja di tempat yang “PANTAS” sehingga kita bisa merubah keadaan atau paling tidak derajat keturunan kita.Bayangkan kalo waktu di sekolahan anak kita di Tanya,”Bapakmu jadi apa?”
Bangganya kalo anak kita menjawab,”Jadi polisi(guru,tentara,pegawai bank atau yang lainya)”
Coba kalau bisanya jawab saja,”Jadi Petani”,bukan berarti petani adalah pekerjaan hina atau rendah,tapi topik kita adalah tentang “PENDIDIKAN UNTUK KESETARAAN ATAU UNTUK ALA KADAR(orang jawa bilang buat “patu-patut”)
Sering kita mendengar sekolah gratis kejar paket A atau B.Jujur saja dan realistis,orang-orang yang mengurusi system ini masih orang-orang lama dengan pola pikir yang lama pula.Seorang teman bercerita tentang pengalamanya ikut kejar paket C.Sebelumnya saya ingin bertanya,”apakah karena kejar paket C sehingga system yang bekerja mengharuskan kinerja untuk mendapatkan ijazah juga berbeda?”
Dia bilang waktu pertama masuk hanya di pungut biaya pendaftaran sebesar Rp 15.00 saja,SPP Rp 30.000 /bulan.Penyelenggaranya bilang prosesnya hanya 1 tahun langsung ikut ujian nasional.Menarik bukan?Lalu teman saya itu mengajak yang lain untuk bergabung biar dapat ijazah SMA tapi tetep bias sambil bekerja.Betapa senang teman-teman yang lain,apalagi mereka yang orang tuanya tidak mampu menyekolahkan mereka sampai bangku SMA.
Waktunya hampi ujian nasional,tapi ada sesuatu yang membuat kacau dengan keadaan tersebut.Pihak penyelenggara mengumumkan bahwa ujian nasional untuk paket C di tunda sampai tahun depan sesuai dengan paraturan dari Dinas Pendidikan.Usut punya usut ternyata dari pihakDIKNAS sendiri ujian bagi paket C adalah sama seperti bila kita sekolah di SMA pada umumnya.Jadi para siswa harus tetap menempuh 3 tahun untuk bisa mengikuti nasional.Akhirnya semua tetap di jalani dengan semangat dan harapan bahwa suatu saat mereka akan punya ijzah SMA yang bisa gunakan untuk melamar pekerjaan.
Lalu apa yang terjadi 3 tahun kemudian?Satu bulan lagi ujian nsional di laksanakan,pihak penyelenggara sudah siap-siap dengan anggaran untuk para siswa.Para siswa memperkirakan biaya ujian nasional berkisar antara Rp 100.000-150.000,tapi ternyata di luar kepala!!!
“Satu juta rupiah”,begitulah pihak penyelenggara mengharuskan.
Di sinilah akhir dari sebuah harapan orang-orang yang ingin mempunyai nilai “lebih” dengan ijazah yang setara SMA.Untuk apapun ijazah itu,yang penting punya ijazah SMA karena suatu saat pasti di perlukan dan berguna.Namun yang terjadi sebaliknya,tak ada ujian nasional,tak ada ijazah setara SMA.Yang terjadi uang SPP tiap bulan selama 3 tahun melayang bak layang-layang(kayak lagunya koes-ploes saja….) putus dari benangnya.Sungguh ironis sekali bukan…..?
Kembali pada topik paling atas……….
Kenapa jika standar pendidikan nasional kita adalah SMP,setiap perusahaan atau tempat-tempat bekerja yang lainya memberi syarat minimal SMA.Terus mau dikemanakan mereka-mereka yang hanya berijazah SMP?
Sekolah gratis hanya isapan jempol semata,buktinya sekolah yang di gratiskan mutunya jauh dari standar pendidikan negara kita.Sama halnya dengan berobat gratis………mereka yang menggunakan kartu miskin mendapatkan pelayanan yang sangat tidak baik.Kamar di bawah standar dengan alasan dari pihak RS adalah kamar “PENUH”
Sekali lagi orang miskin tetap hanya jadi kambing hitam para politikus dan programnya.