Teknik memperbesar atau memperkecil ketakutan akan kematian inilah bagian dari teror. jadi terorisme itu adalah manajemen
atau politik kematian. Bukan kematian yang menjadi tujuan utamanya, melainkan ketakutan yang intens dan sedemikian rupa di ruang publik.
Para teroris bekerja lewat technology of fear, dramatisasi kematian. Oleh karena itu, terorisme selalu membutuhkan penonton. Hancurnya bangunan hotel JW Marriot dan RITZ Carlton, mayat-mayat yang bergelimpangan, hanyalah adegan-adegan kekerasan yang sengaja dipertontonkan oleh teroris.
Juga ribuan mayat yang bergelimpangan di Afghanistan dan irak akibat serangan tentara AS, hanyalah figur-figur atau adegan-adegan dalam teater kematiannya, bukan tujuan teror itu sendiri. Sasaran mereka adalah manusia-manusia hidup, masyarakat yang diharapkan menjadi penonton "teater" itu.
Para teroris bekerja penuh rahasia, sarat selubung, menggunakan seribu wajah dibelakang ruang publik untuk menciptakan efek-efek diruang publik pula. Oleh karena itu, teror tak pernah diketahui siapa pelaku sejatinya. Teror adalah teror, teror bisa menakutkan siapa saja, tak peduli sekuat apapun dan sebesar apapun supremasinya.