DI Makassar, 24 April 2006, ada kesedihan telah tertoreh, juga menumpahkan kesedihan
yang sangat. Kehidupan calon intelektual muda termangu di atas duka.
Di depan ribuan mata, mereka mengusung keranda rekannya korban represif aparat keamanan. Mayat itu imbalan atas perjuangan tuntutan penurunan tarif angkutan kota. Tak pelak lagi, Tasrif, M. Syaiful Bya, A. Sultan Iskandar,
mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) selaku korban merupakan harga imbalan yang terlampau mahal.
Tentu, kematian tragis itu mengguncang ribuan jiwa mahasiswa Indonesia yang berempati dalam rentetan aksi solidaritas. Mereka menyatu lalu tumpah ke jalan mengabarkan duka yang amat dalam. Mereka membentangkan duka di jalan, menggelar spanduk dan mengumandangkan kesedihan sebagaimana manusia yang berperasaan.
Solidaritas mereka disatukan oleh duka. Duka mereka coretkan di tembok-tembok di jalan-jalan sebagai kecaman kepada mereka yang represif. Mereka marah.
Namun, kepada siapa mereka marah? Kepada siapa mereka mengadu? Bukankah mereka sendiri bingung dengan situasi yang tak jelas kejelasan motif di belakang tragedi itu?
Entah, sebab kemarahan tak selamanya terjawab oleh logika yang tepat maupun argumen yang fasih. Di sana yang bermain adalah perasaan dan jiwa yang mengerti akan kematian yang wajar dan yang tak wajar.
24 April memang hari bersejarah versi mahasiswa. Hari berkabung bagi mereka. Mereka membawa pesan peringatan penguasa, agar penanganan serupa tidak terjadi di negeri ini. Mereka mengabarkan kepada siapa saja, bahwa metode kekerasan tak akan pernah menyelesaikan masalah dengan tuntas, tapi justru akan menambah bobot kerumitan masalah.
Barangkali, hari berkabung itu memiliki hikmah lain, bahwa setiap kasus yang merenggut jiwa manusia mesti dituntaskan, tidak dilupakan apalagi buang muka setelah kesedihan dan kemarahan berakhir. Ia mesti dituntaskan melalui prosedur hukum yang tegas, kebenaran dan rasa keadilan yang menyejukkan, agar menghilangkan nyawa tidak menjadi murah untuk dibeli oleh siapa yang menginginkannya. (
Penerbitan Kampus : Identittas 24 April 1997)
Catatan. Tulisan ini adalah tulisan penulis sendiri, sebagai ungkapan duka atas rekan-rekan Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia di Makassar. Jika ingin baca tulisan terkait
klik ishak_zainal cari judul
Represif