KEMENANGAN Vs KELICIKAN : SUDAH BENAR-BENAR AMAN-KAH ? (Bagian II)
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
19
kata:
600
Diterbitkan di: April 04, 2008
Saya heran dengan orang yang satu ini. Energinya seolah tak pernah habis. Selama ham-pir empat bulan lebih ia wara wiri ke berbagai tempat di seputar wilayah Jawa Barat. Su-atu hari mengunjungi salah satu pesantren, di hari berikutnya sudah ada di ladang persa-wahan menemui para petani gurem. Suatu saat ikut bermain bola bersama Persib mela-wan Persigal Ciamis, di saat lainnya sudah beranjangsono dengan beberapa sesepuh di-berbagai tempat di Jawa Barat. Semua perjalanannya itu tidak semudah yang kita pikir-kan dibalik meja sambil baca koran dan minum secangkir teh hangat. Perjalanan Agum adalah perjalanan yang penuh resiko dan berpeluang membahayakan dirinya. Sebuah ke-ngerian hampir-hampir menimpanya. Ketika ia hendak mendaratkan helicopter-nya di Rancah Ciamis, pesawatnya terjebak dalam putaran angin beliung yang begitu besar. Setelah terseret berkilo-kilo meter jauhnya, ternyata Tuhan Yang Maha Kuasa masih membutuhkan kehadirannya untuk memimpin rakyat, Alhamdulilillah ia selamat tanpa cedera sedikit pun. Memang itu resiko yang sudah ia perhitungkan dengan ikhlas. Segala upayanya itu ia sumbangsihkan demi rasa cintanya pada rakyat di tanah kelahirannya, Rakyat Jabar.
Upaya Agum tak sia-sia. Hampir setiap acara kampanyenya disambut meriah ribuan mas-sa. Disaat hujan deras pun, orasinya disambut dan dijejali massa yang sangat anthusias. Perjalanan saya mencatat Agumisme yang mengharukan. Di Tasikmalaya, di tengah cuaca yang aneh (setiap datang ke kota ini, di sekitar tempat kampanye, selalu terjadi hujan de-ras, sedangkan di tempat lainnya cuaca begitu bagus ?!) bertruk-turk massa dari berbagai pelosok daerah dengan sabar dan semangat mendengarkan seluruh orasinya. Di Sukabu-mi, di Bogor, Karawang, Majalengka, Bandung, dan tempat-tempat lainnya, massa pendu kung berkumpul dalam jumlah yang fantastis. Di Kuningan, saat menyusuri gang-gang pasar yang sempit, rakyat terhenyak bagai mimpi. Ketika Agum menyalami dan memeluk para pedagang, serta mencium anak-anak, terasa begitu lekat rasa kebersamaan antara se-orang pemimpin dengan rakyatnya. Hanya Bung Karno yang pernah melakukan itu. Ini-lah bahasa hati nurani yang sebenarnya. “Wey, aku dipegang tangan sama Agum Gume-lar yang sering di TV itu,” teriak seorang seorang lelaki penjual kelontongan di pasar Ke ramat Mulya itu, seolah tak percaya dengan kejadian yang menimpanya. Selanjutnya ia hanya bisa berteriak :”Hidup Pak Agum !”
Secara komunikasi politik, berdasarkan asumsi Prof. Drs. Deddy Mulyana di atas, bahasa Agum telah berhasil. Pesan politiknya telah diterima khalayak banyak. Walau pun menda pat perlakuan yang tidak senonoh dari rivalnya, ia tetap tidak terpancing emosi. Ketika mendapat bentangan spanduk satire di kota Bandung dan taburan paku di jalanan menuju kampanye di sebuah lapangan di Kuningan, ia tetap bersikap sabar dan bijak. Malah ia berhasil memadamkan amarah para pendukungnya. Ia selalu menganjurkan agar tidak membalas kekurang baikkan pihak lain dengan tindakkan yang sama, apalagi anarkisme. Benar-benar seorang seorang jendral yang bijaksana. Seorang tentara yang berhati nurani rakyat. By the way (minjam istilah anak muda sekarang : btw !), tanpa disadari atau tidak, Agum beserta Nu’man dan dukungan kesolidan ketujuh partainya dengan teramat cantik telah memainkan politik tingkat tinggi : politik yang secara ihklas telah didukung oleh rakyatnya. Keberhasilan dalam menyentuh simpati hati rakyat banyak. Ini memiliki arti bahwa di atas kertas, AMAN akan MENANG.
To be continue …