KEMENANGAN Vs KELICIKAN : SUDAH BENAR-BENAR AMAN-KAH ? (Bagian I)
Summary rating: 2 stars
2 Tinjauan
Kunjungan:
25
kata:
600
Diterbitkan di: April 04, 2008
Dalam wawancara di H.U. Pikiran Rakyat beberapa hari lalu, pakar komunikasi dari Uni-versitas Padjadjaran, Prof. Drs. Deddy Mulyana, mengemukakan bahwa aktivitas kampa-nye dengan cara bertatap muka langsung dengan audiens, dinilai lebih efektif dan menge na sasaran dibandingkan dengan menggunakan media lain. Dalam istilah manajemen ko-munikasi cara ini lebih dikenal sebagai By Passing Communication atau Komunikasi Jem put Bola. Coba saja perhatikan. Selama memperebutkan kepercayaan dari partainya masingmasing baik Hillary Clinton dan Barak Obama dari Partai Demokrat, mau pun John McCain dari Partai Republik, mereka menguji popularitas dan kemampuan wajah politiknya masing-masing melalui kunjungan langsung ke masyarakat terbuka Amerika Serikat. Mereka tan-pa mengenal lelah berusaha mengkomunikasikan keyakinan politiknya ke publik melalui orasi, dialog, serta menyantuni (Human RelationsTouchs) secara langsung kepada publik yang ditujunya. Hasilnya sungguh realistis sekali. Dalam beberapa pekan perjalanan mere ka, publik luas dapat mengkakulasi langsung seberapa kuat dukungan publik terhadap per formance yang ditampilkannya. Bahkan lebih lucu lagi, berbagai lembaga survey yang ada disana, mendapat akurasi hasil surveynya tidak melulu melalui perkiraan kaidah atau standar penelitian semata, penghitungan survey banyak ditunjang pula oleh seberapa ba-nyak audiens yang pro dan kontra melakukan dialog langsung dengan para kandidat terse but. Itu di Amerika Serikat, dimana Demokrasi tampak sudah menjadi sebagian dari imannya. Bapak Demokrasi dunia, John Stuart Mills, pernah berucap : “Born is free, but everywhe re in chains.” Orang Melayu telah mengartikannya sebagai : “Lain padang lain ila-lang, lain lubuk lain ikannya.” Wajah kampanye di Indonesia berlangsung malas. Semua pesan-pesan politik hanya dilakukan melalui iklan media massa, baligo, spanduk, stri-ker, one piece bulletine, atau pun panggung joget dangdut. Kalau toh ada acara kunjung-an langsung, hanya sebatas makan malam sambil nyanyi-nyanyi dikalangan elite saja. Yang jadi EO (Event Organizer)-nya adalah para partai pendukung kandidat yang dija-gokan. Herannya, salah satu lembaga survey yang validitas dan indepedensinya diragu-kan, sudah berani menyatakan keakuratan hasil pendapat publik atas kekuatan masing-ma sing kandidat yang ditampilkan. Dengan pede nya lembaga survey tersebut telah berani menyatakan bahwa kandidat A sekian persen, kandidat B sekian persen, kandidat C se-kian persen pula. Tentunya dengan membesarkan jumlah persentase kandidat yang me-mesannya. Memangnya ini semudah mensurvey pasar mie instant ? Tapi biarlah itu me-mang ladangnya para peramal modern mencari uang. Kata anak muda sekarang : egepe aja deh ! Saya sadar, ketika membaca paragraph di atas, yang paling sewot membantah pertama kali adalah pasti orang-orang dari Aman Media Center. Yang keluar dari mulut para Pub-lic Relations Officers itu dipastikan kata-kata : “Jangan digeneralkan. Pak Agum dan Pak Nu’man tidak lho !” Bukan karena mereka sobat-sobat karib, kemudian bantahan mereka langsung saya setujui. Kesetujuan saya sangat berdasarkan pada kenyataan yang didapat-kan langsung di lapangan. Terutama ketika mengikuti Agum Gumelar berkampanye (Ma-af Pak Nu’man, kebetulan hanya rombongan Pak Agum yang membawa saya tour de campaigne ini). To be Continue …