MELURUSKAN PESAN RAKYAT DENGAN AMAN
Summary rating: 1 stars
2 Tinjauan
Kunjungan:
17
kata:
900
Diterbitkan di: Maret 30, 2008
Vox Populi Vox Dei, Suara Rakyat adalah Suara Tuhan, selama kurun waktu berabad-abad lamanya telah mengalami penerapan yang keliru dalam penafsirannya. Kemungkinan utama penyebabnya adalah perumitan atas sesuatu hal yang sebenarnya sederhana, yaitu Kemanusiaan (Humaniora). Dalam hal ini, eksistensi Humaniora sebagai pengejewantahan dari "keadilan bagi semua umat manusia," diperumit dengan mengikutsertakan eksistensi Tuhan untuk memperkuat peran keadilan yang diharapkannya. Dari Wikipedia kita dapat membaca keterangan agak lengkap tentang asal-usul slogan itu. Di sana dikatakan, dalam konteks aslinya, versi panjang tadi sebenarnya justru bermakna sebaliknya. Flaccus Albinus Alcuinus alias Ealhwine, ketika menasehati Charlemagne, berkata: nec audiendi qui solent dicere vox populi vox Dei quum tumultuositas vulgi semper insaniae proxima sit (Janganlah engkau mendengar orang-orang yang terus menerus berkata: “Suara rakyat adalah suara Tuhan,” karena hiruk-pikuk -kerumunan rakyat banyak. Bahkan dalam Islam sendiri, tidak ada keterangan yang menyebutkan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Yang ada adalah sebuah hadis senada yang menyebutkan bahwa 'Tidak mungkin ummatku bersepakat pada kesesatan atau kesalahan.' (Ibn Majah, Hadis : 3940). Suara rakyat tentu belum pasti sama dengan suara Tuhan. Suara rakyat pun sering out of tune. Tetapi hanya apabila elite yang berkuasa, atas teguran suara-suara dari rakyat, kembali ke akar yang ada di rakyat, Indonesia dapat kembali mengangkat kepala dan membuka hati memberanikan diri untuk bersama-sama menyingsingkan lengan dan mulai dengan pekerjaan raksasa membangun kehidupan bersama yang beradab, adil, damai dan sejahtera ( Franz Magnis Suseno, Sj, 2004). Kalimat kontroversial tersebut, biasanya hadir pada saat poosisi rakyat teraniaya. Menurut John R. Lucas (Democracy and Participation), situasi dan kondisi ini terjadi pada saat terdapatnya kesenjangan antara teori dan praktek demolrasi dalam kehidupan sehari-hari. Lucas menandaskan bahwa rakyat hanya diberi kesempatan pada saat pemilu saja. Padahal itu hanyalah partisipasi minimal saja. Konsekuensi dari pemilu itu hanya sekadar menghasilkan otokrasi efektif yang berdasarkan pemilihan. Kesempatan yang diberikan demokrasi kepada rakyat untuk berpartisipasi dalam pemerintahan hanyalah pada taraf "mentertawakan" saja. Jadi, yang terjadi saat ini adalah kita hanya bisa "mentertawakan" elite politik saja, tanpa mampu meminta pertanggungjawabannya. Jika kekuasaan sudah diraih dan kursi diduduki, maka "selamat tinggal rakyat!" Pada saat itulah Demokrasi sedang sekarat. Jika kondisi ini muncul, apa yang terjadi ? Maka beramai-ramai seluruh komponen rakyat menuntut hak keadilan yang terampas. Kadang-kadang tuntutannya itu tanpa mengindahkan Tuhan-nya. Pada saat terjadi tragedi September 1965, bermunculan gelombang ketidakpuasan massa atas kondisi sosial yang ada. Semua tuntutan selalu mengatasnamakan Rakyat. Contohnya : Tritrura (Tiga Tuntutan Rakyat), Hanura (Hati Nurani Rakyat), atau pun Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Akhirnya, tuntutan rakyat tersebut berhasil menggulingkan kekuasaan yang dianggap tirani saat itu, Presiden Soekarno. Benar tidaknya kekuasaan yang dijalankan Bung Karno saat itu, hanya Tuhan Yang Maha Tahu. Setelah 32 tahun berselang, sang pengemban amanah rakyat tersebut, Presiden Soeharto, berhasil diturunkan oleh gelombang reformasi yang bergerak juga atas nama rakyat. Setelah itu, nasib rakyat hingga kini terus dalam ketidakpastian. Beberapa Presiden penggantinya tampil dengan diiringi euphoria "kebebasan dan keadilan untuk rakyat." Disana-sini rakyat bergerak tanpa terkendali. Para elite politik, semakin sibuk memanfaatkan kesempatan memupuk kekuasaan dan kekayaannya masing-masing. Antar kekuatan saling menyalahkan satu sama lain. Ujung-ujungnya, rakyat semakin hari semakin menderita. Kondisi semacam ini telah menyentuh seorang figur nasional kharismatik. Seorang humanis yang selalu berfikir bahwa kunci keberhasilan suatu pemerintahan yang kuat adalah kesejahteraan rakyat. Sebut saja namanya sebagai Agum Gumelar. Dari pengalamannya memimpin beberapa kegiatan, baik kegiatan atas nama institusi militer atau pun sipil, Agum selalu mengedepankan Bahasa Nurani sebagai solusi mengatasi setiap kendala permasalahan yang terjadi. Dua peristiwa di bawah ini telah membuktikannya : - Saat menjadi Pangdam Wirabuana di Sulawesi (1996-1996), terjadi demontrasi yang menelan korban di IKIP Ujung Pandang, Agum tampil dengan elegan. Melalui pendekatan kesabaran dan persuasif, para mahasiswa yang garang dengan segera dapat dirangkulnya. Bahkan ketika ia mengakhiri jabatannya untuk kembali Pulau Jawa, hampir seluruh mahasiswa Sulawesi mengantarkannya sampai ke bandara. Suatu moment yang mengharukan bagi seorang Ki Sunda di tanah perantauan. - Pada saat kampanye sebagai calon wakil presiden mendampingi Hamzah Haz (1999), dihadapan para hadirin dari golongan etnis Tionghoa di sebuah hotel berbintang di Jakarta, beberapa encek-encek yang sudah tua tampak berlinang air mata. Ketika ditanya mengapa ia sampai terharu mendengar orasi Agum ? Salah satunya menjawab : Dia (Agum Gumelar) berbicara dengan hatinya ! Bersama pasangannya yang juga terkenal sangat care terhadap penderitaan orang-orang kecil, Nu'man Abdul Hakim, Agum menerjemahkan segala tuntutan rakyat dengan pendekatan nuraninya. Dalam arti, demi mereka yang teraniaya, harus ada sesuatu yang dirubah. Tidak hanya melalui janji-janji politis saja, tapi sekuat tenaga harus merubah sesuatu yang tidak baik menjadi sesuatu yang terbaik. Melanjutkan sesuatu yang baik untuk menjadi lebih baik lagi. Dan semua hal yang baik itu, semuanya hanyalah untuk rakyat. Berkaitan dengan pesta demokrasi pemilihan gubernur kali ini, Agum - Nu'man, bertekad bahwa kemenangan yang hendak dicapai, semuanya dipersembahkan untuk kesejahteraan rakayat di tanah kelahirannya tercinta, Jawa Barat. Semuanya Demi Jabar. Vox Populi Vox Dei, bagi Agum dan Nu'man (AMAN) adalah Suara Tuhan untuk supaya Rakyat Bersuara. Bagi AMAN, puncak pencapaian yang terindah dalam hidup dan kehidupan ini adalah kekekuasaan yang bermanfaat untuk merealisasikan pesan-pesan rakyat. AMAN sangat menyadari bahwa meluruskan setiap pesan rakyat, merupakan tugas mulia yang memiliki tanggungjawab dunia dan akhirat. Selamat berjuang Agum - Nu'man. Jawa Barat merindukanmu.