Ketika HTI Mulai Bergerak
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
15
kata:
600
Diterbitkan di: Maret 27, 2008
Demo di bundaran HI pada tanggal (11/3/08). HTI menuntut pemerintah untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok, menghentikan tindakan korupsi, dan memperbaiki infrastruktur dan lingkungan yang rusak (Jawa pos, 12-03-08).
Yang menarik, kali ini fotonya berbeda dengan beberapa foto-foto yang lainnya. Jika yang dulu-dulu foto-fotonya sering menampakkan wanita (akhwat) berjilbab besar. Sekarang fotonya diisi oleh ibu-ibu berjilbab pendek. Dan terlihat bercampur baur antara wanita dan pria. (sekedar mengingatkan salah satu akhwat HTI, saudara saya).
Saya menjadi ingat ketika dulu saya bertanya kepada salah-satu kader HTI “Kenapa HTI nggak demo masalah korupsi, lalu nggak demo masalah kebutuhan pokok yang semakin mencekik harganya?” Jawaban beliau “Karena sesungguhnya semua itu adalah tindakan dan tugas khalifah. Makanya kita harus membentuk khilafah dahulu, baru kerja-kerja yang seperti itu dikerjakan oleh khilafah!” saya saat itu sudah tidak melanjutkan pertanyaan lisan saya, karena takut berdebat. Tetapi dalam hati saya, “kapan itu terjadi? Apakah harus menunggu sampai bertahun-tahun hingga kita benar-benar menderita”
Tetapi, demo kemarin adalah jawaban atas pertanyaan saya yang dahulu. Yaitu, sudah saatnya HTI bergerak, sudah saatnya kita berjuang bersama-sama memerangi segala kezhaliman, sudah saatnya kita bergerak menentang perusakan alam, menentang korupsi, menentang melambungnya harga kebutuhan bahan-bahan pokok. Tanpa harus menunggu lama tegaknya khilafah. Karena ketika kita bergerak, sesungguhnya khilafah lebih mudah menyusul daripada hanya berkoar-koar atau berteriak-teriak di jalan.
Memang harus kita ingat, ketika dakwah sudah masuk keranah publik. Maka sudah saatnya aktivis dakwah mengerti metode dakwah dan cara-caranya yang dapat diterima masyarakat. Tentunya dengan tetap harus memegang kaedah-kaedah syara’. Jadi jika ketika dakwah sudah berada pada ranah publik yang notabenenya adalah masyarakat yang masih belum begitu mengerti tentang kaedah-kaedah syar’i. Mereka masih seneng mendengar lantunan-lantunan dangdut walaupun mereka bukan dangduters (fans berat dangdut). Dengan begitu kita tidak langsung menghakimi, karena tidak mengerti atau paham dengan pemahaman seorang aktivis dakwah.
Jadi sesungguhnya ketika dakwah sudah masuk keranah publik, maka sesungguhnya itulah tantangan yang besar nantinya. Aktivis dakwah dituntut untuk fleksibel tanpa harus mengurangi nilai syara’. Aktivis dakwah dituntut bekerja hanya untuk kepentingan umat. Aktivis dakwah dituntut untuk berfikir dalam mengentaskan masalah-masalah kemasyarakatan. Karena bukan jamannya lagi, aktivis dakwah hanya berteriak-teriak tanpa bergerak dalam memberikan kontribusi yang nyata. Dan bukan jamannya lagi aktivis dakwah hanya berkhalwat dalam jamaahnya sendiri, apalagi sudah merasa nyaman hanya berada pada tataran jamaahnya.
Itulah yang seharusnya dilakukanoleh semua kader-kader dakwah. Kita bergerak bersama, beriringan, bergandengan dan sambil merapatkan barisan. Ada yang bergerak di parlemen, ada yang diluar parlemen. Dan satu sama lainnya saling bekerjasama untuk kemajuan agama, bangsa dan negara. Tanpa harus saling sikut dan merasa paling benar dan paling berjuang atau bahkan paling berjasa. Kita semua, gerakan dakwah harus bersatu!
.