Halaman Utama Shvoong > Hukum & Politik > Menyelesaikan Kasus Soeharto: To Forgive But Not to Forget

.

Menyelesaikan Kasus Soeharto: To Forgive But Not to Forget

Pengarang : Agung Hendarto
Ringkasan oleh : muhamadnur
Kunjungan : 68  kata: 600   Diterbitkan di: Maret 04, 2008
Seorang tokoh ekonomi dan politik terkemuka, Karl
Gunnar Myrdal (1898-1987), pernah menilai negara kita sebagai soft
state, yaitu negara yang pemerintah dan warganya tidak memiliki
ketegaran moral yang jelas, khususnya moral sosial-politik.Bangsa ini umumnya mengidap "kelembekan" dan sikap
"serba memudahkan", sehingga tidak memiliki cukup kepekaan terhadap
masalah penyelewengan dan kejahatan, misalnya korupsi. Betapa tidak, perjalanan kekuasaan Soeharto selama
kurang-lebih 32 tahun diwarnai aneka kejahatan yang bukan hanya dalam
kasus korupsi, melainkan juga yang lebih besar, kejahatan kemanusiaan,
dari penggusuran, penculikan, penyalahgunaan wewenang, korupsi, kolusi,
dan nepotisme, sampai pembunuhan. Apabila Yudhoy Pada tataran ini, Yudhoyono harus mampu meletakkan
diri pada titik koordinat yang tepat di antara komponen Bangsa yang
menghendaki kasus ini dapat diselesaikan.ono benar-benar memberikan surat
pengampunan kepada Soeharto, itu sama artinya bangsa ini benar-benar
tidak memiliki ketegaran moral berhadapan dengan penyelewengan dan
kejahatan. . Syaratnya, Presiden Yudhoyono harus dapat
menempatkan penyelesaian kasus Soeharto sebagai awal untuk menarik
batas tegas antara masa lalu dan masa depan.. Apabila hanya langkah hukum yang menjadi pilihan,
terlalu banyak proses hukum yang harus dilalui Soeharto, mengingat
begitu banyaknya kejahatan yang dilakukannya selama 32 tahun, terutama
korupsi, kolusi, dan nepotisme serta kejahatan hak asasi manusiaJika proses hukum dan proses politik sudah dilakukan
dengan serius dan maksimal, dan akhirnya memberikan vonis Soeharto
bersalah, saat itulah momentum untuk memaafkannya. Tidak memelihara memori kolektif penuh stigma dan trauma sebagai awal menuju masa depan.
Tarik-menarik antara sikap "tidak melupakan" dan "memaafkan" hendaknya
diarahkan kepada tumbuhnya sikap saling mengerti dan saling memahami
yang menuju sikap saling hormat dan saling percaya.. Yudhoyono harus berani mengambil sikap menghentikan
drama permainan yang sedang berlangsung serta segera mendorong
berlangsungnya proses hukum dan politik sampai tuntas, baik mengenai
kasus korupsi yayasan maupun penyelewengan kekuasaan dan kejahatan
Soeharto lainnya.Tapi langkah pilihan itu akan memerlukan kebesaran
jiwa dan kesediaan mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan
pribadi dan golongan sendiri. Tindakan besar
memerlukan tekad yang besar, antara lain tekad untuk berkorban demi
masyarakat, bangsa, dan negara
Upaya penghentian perkara, jika itu memang benar-benar mesti dilakukan,
haruslah mengikuti prosedur yang berlaku dan dilakukan secara cermat.
Prinsip yang harus dilalui adalah to forgive but not to forget. Tidak
seperti selama ini, upaya proses peradilan belum serius dan tidak
maksimal dilaksanakan, tapi pemaafan sudah hendak dikedepankan.
Kalau ini yang terjadi, benar kata Myrdal, bangsa ini memang tidak
memiliki ketegaran moral, yaitu bangsa yang abai akan penyelewengan dan
kejahatan serta lembek dalam komitmen moral.

Abstrak lain tentang Menyelesaikan Kasus Soeharto: To Forgive But Not to Forget
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------