Akhir-akhir ini suasana politik dinegeri ini semakin
hari selalu menampakkan
kebebasan dan keterbukaan
dengan tempratur yang
cukup tinggi, tentunya
pers selalu menikmati kondisi tersebut, sehingga
ada juga yang berjalan pada jalur “ euforianisme ” , sehingga hal
seperti
itu kerapkali mengganggu hubungan pers disatu pihak dan
pemerintah serta golongan-golongan tertentu di lain pihak, tentulah
berangkat
dari eufemisme ketimbang menggunakan bahasa terus-terang atau
terang terangan, tiap hari dapat disaksikan headline-headline dihalaman
media massa memuat isu-isu dan opini politik, sosial, budaya dan agama,
yang kerapkali menjadi bahan polemik yang berkepenjangan bagi publik
sehingga seringkali berbagai pihak mensenyalir bahwa apa yang ditulis
didalam headline-headline diatas dapat mengancam integritas bangsa,
mengancam stabilitas nasional, serta beberapa hal yang senada.
Tak dapat dipungkiri lagi, bahwa ternyata derajat atau tempratur
kebebasan dan keterbukaan yang dihembuskan oleh pemerintah sekarang
ini, para kuli tinta harus mewas diri, karena masih mungkin kran”
keterbukaan dan kebebasan “ akan di sumbat lagi dengan alasan suci
kenegaraan dan bahkan jikalau menyinggung para pembesar negara ini,
dengan berbagai macam cara untuk membungkam para kuli tinta, bahkan
pemukulan hingga membunuhnya, dan lebih tragis lagi yaitu pelarangan
bagi wartawan untuk meliput disuatu instasi pemerintah pada era
reformasi seperti sekarang ini, yang ini semua merupakan gerakan
arogansi dari penguasa itu sendiri sehingga para kuli tinta kini
mempertanyakan kembali tentang makna dari kata “Kebebasan dan
Keterbukaan “ kepada pemerintah sekarang.
Dengan beberapa kasus-kasus yang kiranya untuk meng interpretasi para
pemburu berita , sehingga meraka harus mengalami dan bahkan melakukan
gerakan disforia, yang karena itu juga mereka selalu membahasakan hasil
dari ulasan deep reporting ataupun chek end rechek sudah menghilang kan
jati diri dari pers itu sendiri,
dalam membahasakan realita yang
terjadi, dengan demikian, besar sekali peluang bagi masyarakat dalam
penyimpulan berita yang ada sehingga menjadi simpang siur antara opini
dan berita yang ada.. yang harus menjadi korban sebuah sistem dan dari apa
yang disebutkan diatas, dan masyarakat pun dapat memberi penilaian
serta reaksi atas nasib media- media tersebut pada dekade terakhir ini,
dan kini ketiga media tersebut seringkali menjadi representasi dari
kebebasan pers di Indonesia. Berangkat dari kondisi diatas, hal
itu dapat dilihat dari keberanian pers dalam mengungkapkan masalah yang
kasuistik, yang bernuansa politik dengan transparan.
Pengungkapan kasus yang sesuai dengan kejadian yang sebenarnya akan
membawa sebuah konsekwensi yang besar walaupun disatu sisi media yang
bersangkutan ingin memberikan karakteristik jurnalistik yang khas
dengan meSekali lagi, karena kebebasan pers Indonesia dewasa
ini sedang menuju pada aras pertumbuhan dan perkembangan, akan tetapi
terjadi pasang surut dalam menterjemah makna kebebasan itu sendiri ,
karena hambatan-hambatan seringkali terjadi dalam mengoprasionalkan
pers itu sendiri baik itu datangnya dari pers dan para pekerjanya,
pemerintah dan masyarakat, sebab dapat untuk disadari dalam pembangunan
wacana pers yang sesuai dengan jati diri yang sebnarnya kini dalam
pengkajian untuk ditemukan format baru untuk agar disepakati antara
Pers sendiri, pemerintah dan masyarakat ( publik ).nggunakan bahasa terus terang serta mebiarkan pembaca untuk
menyimpulkannya.Dikarenakan didalam pembelajaran jurnalistik ini,
seolah-olah memiliki moral jurnalis yang tertera didalam kodek etiknya,
yaitu membahasakan kasus dengan bahasa yang sebenarnya, karena ini
merupakan gerakan kecendrungan masyarakat untuk membaca peristiwa dalam
menyingkapi tabir persoalan yang sebenarnya terjadi.Untuk digaris bawahi, kini sudah bayak media massa
yang mengklaim dirinya sebagai media yang independen, tapi masyarakat
dapat untuk menilai bahwa media yang ada kebanyakan media keberpihakan
kepada golongan-golongan tertentu untuk dijadikan sebagai corong missi
mereka. Dengan ini perlu untuk mempertanyakan
kembali makna Independen dari media yang ada, kini para calon cendikia
Indonesia dan bahkan para calon-calon kuli tinta beramai-ramai mencari,
dalam rangka mengwujudkan media Independenen itu sendiri dengan
melakukan gerakan kemunduran diri secara besar-besaran dikarenakan
sulit untuk ber interaksi dengan dunia diluar mereka, karena sifat dari
gerakan mereka adalah gerakan membangun sebuah komunitas untuk
komunitas yang baru, sebagai basis perlawanan dari komunitas yang lama
didalam memaknai sebuah fakta dan sejarah.
Abstrak lain tentang SEBUAH RENUNGAN ATAS “KEBEBASAN DAN KETERBUKAAN” PERS DEWASA INI