Dramatisasi jalan
salib Jumat Agung, 6 April 2007 yang
mudika Katolik lakukan
di Paroki Onekore, Keuskupan Agung Ende telah
menggugah hati umat yang hadir. Jalan salib “hidup” ini dimulai di pendopo SMA Syuradikara
dan berakhir di depan gereja Paroki Onekore. Rekomendasi pertemuan itu mengajak umat Katolik
melakukan pertobatan sosial dan menata kembali struktur-struktur yang
menindas dalam masyarakat demi masa depan bersama yang lebih adil,
manusiawi, tulus dan jernih hati.
Refleksi ini menunjukkan bahwa Gereja Katolik sebagai institusi
keagamaan terpenting di wilayah ini ingin memberikan kontribusi bagi
penataan ke depan, sekaligus menekankan kembali moralitas dan
nilai-nilai kekristenan yang bDosen Kitab Suci Sekolah Tinggi Filsafat Katolik
Ledalero ini membuat satu komparasi situasi sosio-politik,
sosio-religius, sosio-budaya dan sosio-ekonomi antara Palestina abad
pertama atau situasi pada masa Yesus dan situasi
politik pasca
kekuasaan orde baru Soeharto. Ini berarti
refleksi Gereja Katolik mengenai iklim perubahan politik di Indonesia
berinspirasi pada Sabda Allah dan dengan bantuannya umat Katolik dapat
membaca tanda-tanda zaman.
Dalam artikelnya “Inspirasi Sabda Allah dan Pastoral di Zaman yang
Berubah,” (John M Prior dan Amatus Woi (ed), Membaca Tanda Zaman pada
Akhir Sebuah Zaman, Maumere: Puslit Candraditya, hlm 111-139), Guido
menyebutkan bahwa gerakan keagaman Yesus adalah sebuaPertemuan budaya religius Palestina dan budaya
helenisme Yunani menggoyahkan sendi-sendi sosio-religius masyarakat
sederhana dan menimbulkan anomali di dalam masyarakat.
Agama Yahudi sendiri tak mampu memberi respon pada perbenturan dengan budaya helenisme ini.
Sebab agama telah jatuh pada formalisme hukum-hukum yang mengikat dan
menjadi kuk yang dipasang pada manusia atau
hukum tidak lagi untuk
manusia, tetapi manusia untuk hukum. h gerakan
alternatif.
Secara sosio-politis dan sosio-religius, Palestina di masa Yesus memikul beban ganda. Penjajah Roma yang dipersepsi sebagai bangsa kafir dan elite Yahudi loyalis kaum penjajah menarik keuntungan ekonomi politik.isa menjadi bingkai perubahan di wilayah
Nusa Tenggara, terutama di wilayah Flores dan LembataTidak cukup
Kita memiliki pemimpin yang bertindak
sebagai administrator yang baik, tetapi kita lebih membutuhkan pemimpin
yang menawarkan alternatif yang membebaskan. Jika jalan salib menjadi inspirasi dan inti dari tiap pilkada kita, kita akan menemukan kembali identitas kultur politik kita.
Jalan salib sebagai diferensiasi politik akan memberikan kita investasi
politik jangka panjang dalam skala politik regional Flores dan Lembata.Tetapi kerja sama yang erat dengan kekuasaan Roma dan
menjadi loyalis kekuasaan pusat di Roma menjadikan mereka jauh dari
massa rakyat. Kelompok Farisi menentang
penjajah, tetapi pada akhirnya juga bersikap kompromistis dan agama
sekali lagi tidak memberikan inspirasi yang membebaskan, melainkan
jatuh pada formalisme hukum.
Abstrak lain tentang JALAN SALIB DAN POLITIK LOKAL KITA