Halaman Utama Shvoong > Hukum & Politik > Indonesia, di Antara Epidemi HIV dan Penasun

.

Indonesia, di Antara Epidemi HIV dan Penasun

Pengarang : Fadmi Sustiwi
Ringkasan oleh : NasrulAzwar
Kunjungan : 51  kata: 600   Diterbitkan di: Maret 02, 2008
MENINGKAT pesatnya jumlah pengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan kasus Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) yang dikontribusi melalui pengguna narkoba suntik (penasun) sudah menjadi perhatian sejak beberapa tahun lalu.
Meski sudah berhenti total dari narkoba sejak 5 tahun silam, namun Rino harus mendapat kenyataan lain, terinfeksi virus dan dinyatakan HIV positif, dua tahun lalu. Baginya, vonis bila dirinya mengidap HIV positif sebenarnya sudah cukup membuatnya terpukul. Karena itulah, ia sempat shock tak tahu harus bagaimana. Pasalnya, ia bukan hanya tak sanggup bila harus ditinggal perempuan terkasihnya. Namun ia sangat khawatir jika istrinya sampai tertular.
Tak heran peneliti George Martin Sirait yang memaparkan hasil penelitian dalam diskusi publik penanggulangan narkoba dan AIDS di kantor Wali Kota Jakarta Pusat, pertengahan Januari 2008 menyebutkan bila di Jakarta Pusat tercatat ada 2.500 pengguna jarum suntik. Angka ini merupakan separuh dari jumlah pengguna jarum suntik di ibukota yang mencapai 4.316 orang.
Betapa pengaruh narkoba - terutama suntik yang dilakukan dengan jarum yang tidak steril secara berganti - sangat luar biasa dalam mengembangkan penularan HIV. Dan pada 2008, narkoba masih tetap menjadi ancaman dalam kehidupan masyarakat. Meskipun jajaran aparat keamanan bekerja keras dalam memeranginya. Karena itulah aktivis Granat DIY, Heriadi Willy berulang kali menegaskan, bahwa hukuman mati terhadap gembong narkoba ini bukan sesuatu hal yang harus dihindari. "Sebab dampak dari mereka yang menjadi korban para pengedar apalagi produsen narkoba ini adalah masa depan bangsa, apalagi di tengah maraknya kasus HIV/AIDS seperti sekarang," katanya.
Dalam laporan UNGASS (2006) disebutkan, saat ini Indonesia mengalami epidemi ganda: HIV dan penggunaan narkotika suntik yang sejak tahun 1999 telah menjadi pendorong utama peningkatan kasus epidemi HIV/AIDS di beberapa wilayah di Indonesia termasuk di Jakarta, Jawa Barat dan Bali. Infeksi HIV/AIDS juga berkembang dari para pengguna narkotika suntik kepada pasangan mereka yang bukan merupakan pengguna narkotika suntik, termasuk juga kepada para pekerja seks.
Di Yogya, RS Grhasia yang kini menjadi tempat rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba pada tahun 2006 memiliki pasien 31 orang. Angka itu sudah menjadi 107 orang pada tahun 2007 di mana 3 di antaranya mengidap HIV positif. Sementara dalam rapat paripurna DPRD, Gubernur Jawa Tengah Ali Mufidz dalam laporan tertulis yang dibacakan Sekda mengemukakan, meski tidak disebutkan dari faktor risikonya, percepatan angka HIV/AIDS di Jawa Tengah termasuk cepat luar biasa. Jika pada tahun 2003 terdapat 130 HIV dan 19 AIDS, maka di tahun 2004 menjadi 185 HIV dan 58 AIDS serta telah menjadi 287 HIV dan 135 AIDS di tahun 2006.
Persoalan mendasar seperti rendahnya daya jangkau terhadap kelompok risiko tinggi termasuk pengguna narkotika suntik, pekerja seks dan pelanggannya, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki masih tetap berlangsung. Apalagi ketika pengurangan dampak buruk atau harm reduction serta kondom, masih dilihat hitam putih semata. Jika ini masih terjadi, bersiaplah. Akan kian banyak perempuan berstatus ibu atau istri ''baik-baik'' yang akan tertular juga.


Abstrak lain tentang Indonesia, di Antara Epidemi HIV dan Penasun
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------