Protes-
Protes besar berlanjut
di Indonesia kemarin,
dengan para demonstran menuntut pemecatan menteri Hankam
dan kepala ABRI Jendral Wiranto setelah kekerasan militer minggu lalu, yang meminta 14 korban dan mengakibatkan 448 orang terluka.
Ribuan
mahasiswa dan pelajar berkumpul di Bandung di Jawa Barat dan Palu di Sulawesi Tengah. Pada hari Sabtu, puluhan ribu demonstran memenuhi jalan-jalan di
kota-kota seluruh Indonesia untuk melampiaskan kemarahan mereka terhadap ABRI dan rejim Habibie. Di Jakarta, sebuah kerumunan membengkak menjadi kira-kira 50.000 di luar Gedung Parlemen Nasional-fokus protes-protes minggu lalu terhadap Sidang Khusus MPR. Di bagian-bagian lain dari ibukota, kompleks-kompleks pertokoan, bank-bank, ruang-ruang pertunjukan dan toko-toko, termasuk yang dimiliki oleh orang-orang Cina, dirampok dan dibakar.
Di Bandung, 20.000 mahasiswa dan pelajar berkumpul di dua lokasi-di gedung DPRD Jawa Barat dan di Pusat Komando Siliwangi-sebelum berjalan seputar kota. Protes-protes besar juga diadakan di 14 kota besar yang lain, termasuk Bogor, Surabaya, Jogjakarta, Solo, Denpasar, Semarang dan Padang. Presiden BJ Habibie telah menanggapi penyebarluasan protes-protes anti pemerintah dengan memerintahkan militer untuk mengambil tindakan keras terhadap kelompok-kelompok "subversif". Selama hari Sabtu dan Minggu polisi telah mencakup beberapa orang yang telah menandatangani komunike bersama pada hari Kamis lalu yang menuntut dia untuk turun jabatan dan pembentukan sebuah "presidium" populer sebagai pemerintahan transisi untuk mengawasi pemilu.
Sadikin dan Idris adalah anggota Barisan Nasional, kelompok para bekas anggota militer, politisi dan sarjana-sarjana yang kritikal Suharto dan Habibie. Pamungkas, bekas tahanan politik, adalah ketua PUDI. Habibie berusaha membuat para kritik moderat ini kambing-hitam untuk penembakan-penembakan minggu lalu. Dia dan menteri-menteri lain mengajukan bahwa imbauan untuk sebuah "presidium" untuk memerintah negara adalah subversif dan bahwa kelompok ini menggunakan demonstrasi-demonstrasi mahasiswa untuk menggulingkan pemerintah.
Dalam beberapa kejadian, para mahasiswa diikuti dan dibantu oleh para pekerja, penganggur dan warga kota yang miskin lainnya, yang telah mengalami turunnya penghasilan secara drastis selama enam bulan pemerintahan Habibie. Setelah bentrokan-bentrokan keras antara pasukan pengaman dan para demonstran pada hari Kamis, Wiranto mengambil-alih komando 30.000 polisi dan aparat militer di seluruh Jakarta secara langsung. Di pagi hari berikutnya, dia mengeluarkan peringatan umum bahwa "tindakan keras" akan dilakukan terhadap siapa saja yang mengganggu ketertiban dan mengimbau para warga untuk tinggal di rumah. Siang hari itu tentara-tentara secara sengaja menepatkan senapan-senapan mereka dan menembak para demonstran yang berkumpul di sebuah jalan raya di Jakarta. Kejadian-kejadian berdarah ini telah mempersiapkan panggung untuk pendalaman pergolakan politis di Indonesia. Habibie berusaha keras untuk mengamankan posisinya dengan menawarkan dialog dengan para pemimpin pergerakan mahasiswa dan juga mengisyaratkan kemungkinan pemilihan presiden baru setelah pemilu tahun depan di bulan Mei atau Juni, daripada di akhir tahun seperti yang diproposisikan sebelumnya.
Seperti wakil-wakil politis kelas penguasa lainnya, Rais khawatir jika protes-protes ini akan menyulut kerusuhan sosial yang luas di antara pekerja, petani kecil dan kaum miskin yang akan menggoncangkan fondasi kapitalisme Indonesia. Para pelajar dan mahasiswa yang menaruh harapan mereka untuk sebuah reformasi politis dengan tokoh oposisi burjuis seperti Rais sedang dituntun menuju gang buntu politis. Demokrasi yang sungguhan, ekualitas sosial dan mutu kehidupan yang patut hanya bisa dinyatakan dengan mengarahkan diri ke arah para buruh dan pekerja dan mendirikan pergerakan politis massa sepanjang garis-garis sosialis yang mencakup bagian-bagian masyarakat yang miskin.
Abstrak lain tentang Protes berlanjut walaupun militer mengambil tindakan keras di Indonesia