Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, email membawa informasi dari kakak saya.
Dia biasa menyampaikan bahan menarik, sebagai kakak tertua memperhatikan kebutuhan adiknya. Kali ini adiknya sedang butuh angle untuk tulisan di Tempo mengenai pemilihan presiden. Masih lama sih,
2009,
tapi sudah jadi topik hangat sejak Megawati, kemudian Sutiyoso, menyatakan diri sebagai
calon.
Tapi kalau yang tua tidak diganti yang muda, maka pada saat yang muda menggantikan yang tua, dia sudah tua juga, bisa-bisa langsung pensiun. Misalnya saja Pangeran Charles yang sekarang sudah berusia 58 years (lahir 14 November 1948, sebentar lagi ulang tahun tuh), belum saja menggantikan ibunya yang berusia 81 tahun. Memang mereka turunan yang tahan usia lanjut. Ibunya Ratu Elizabeth II yang namanya Ratu Elizabeth I, hidup sehat sampaki 101 tahun.
Yang sudah pernah jadi presiden, mentok
dan menjadi calon presiden lagi. Sebetulnya tidak betul bahwa kita harus mencari calon presiden dari golongan minoritas, atau harus mendahulukan yang muda daripada yang tua. Yang namanya pemilihan itu tidak perlu banyak syarat, yang penting ada pilihan. Jangan semuanya korup, semuanya menjerumuskan rakyat. Harus ada good guy, jangan semuanya bad guy.
Biasanya sistem politik yang berjalan
Di nehara-negara itu kira-kira sejalan dengan budaya politik yang sudah tertanam lama. Di Indonesia, kini mekanisme demokrasi sudah sangat canggih, tapi dasarnya adalah asumsi akan budaya politik mapan. Dalam kenyataan di Indonesia, sebagian besar masyarakat Indonesia hidup dalam kultur politik yang jauh dari penerimaan nilai-nilai demokratis. Akibatnya, walaupun sistem pemilihan kita demokratis, tapi sangat mungkin orang yang menang pemil;u sama sekali tidak punya kebiasaan untuk bersikap demokratis.
Aneh juga, pemilih mau memberikan suara kepada orang yang sangat tidak jelas rencananya atau bahkan pikirannya mengenai suatu masalah. Di Amerika Serikat sekarang ini ada Stephen Colbert yang menjadi calon presiden. Dia adalah tokoh komedi dari Central Comedy dan Colbert News Report, tapi dalam wawancara televisi yang tidak sambut dengan semangat, dia bisa lebih terfokus pesannya dibandingkan dengan calon yang serius.
Kalau tidak, kekuasaan mengandung racun yang membuat orang serius menjadi kejam dan mengejar obsesi kekayaan dan kekuasaan mutlak. Satu dua calon yang tidak masuk akal, tidak apa-apa, asal dia orang baik yang bisa menertawakan dirinya sendiri. Jangan sampai dia merasa diri serius, tapi ditertawakan orang. Bisa-bisa muncul keadaan yang tidak lucu dimana kekuasaan dan uang dipakai menghilangkan rasa minder politikus yang tidak punya konsep.
Abstrak lain tentang Sirkus Kepresidenan 2009