Kaum Marxis, liberal
dan lain-lain mulai beradu argumen mengenai kegunaan Forum
Sosial Dunia, perannya
di India, masalah pendanaan bagi sesuatu sebesar itu dan masalah-masalah lain yang lebih besar mengenai hubungan antara sebuah perjuangan nasional dan solidaritas internasional.
Apa yang tadinya hanya kondisi kerja buruk yang dihadapi oleh serikat pekerja, kini
adalah kondisi lingkungan hidup buruk yang dihadapi oleh warga kota.” Pukulan yang kedua datang
dari partai fasis Shiv Sena. Partai ini didirikan di tahun 1966, dan ialah yang telah menyesatkan kelas pekerja. Partai ini menutupi kesalahan para pemilik modal dan menyalahkan para pekerja “asing” yang datang dari negara bagian India lainnya. Isu ini masih ada di atas meja, karena Shiv Sena menghabiskan sebagian waktunya di tahun 2003 untuk berkampanye menentang “orang luar” dan mendahulukan “putra daerah”. Partai ini menuntut agar lowongan untuk pekerjaan kasar dicadangkan untuk “orang setempat”.
Kepemimpinan itu berada di tangan beberapa shakha pramukh
dan Shiv Sena pramukh.” Penggunaan sayap-provokator kerusuhan telah menggeser Partai Kongres yang memang ideologinya tidak stabil itu dari pijakan semula yang semi-sosialistik ke arah neoliberal dan kekejaman kultural. Dengan demikian sosial-demokrasi telah tercoreng legitimasinya di tengah mereka yang tertindas secara sosial. Kaum Kiri tetap hadir dalam dua bentuk: sebagai gerakan Komunis dan gerakan sosial baru. Keduanya telah memainkan peranan yang aktif dan generatif dalam penentangan terhadap konfigurasi politik yang kini berkuasa – yakni terhadap politik neoliberal dan fundamentalis dari Shiv Sena, Bharatiya Janata dan Partai Kongres (yang selalu di pihak rakyat ketika tidak berkuasa tapi anti-rakyat ketika berkuasa).
Research Unit for Political Economy yang berbasis di Mumbai memiliki sebuah terbitan berjudul “The Economics and Politics of the World Social Forum”, dan di sinilah terdapat penjelasan paling tajam dari kritisisme yang dibangun oleh MR. Dokumen ini tersedia di http://www.rupe-india.org/index.html. Banyak yang dapat dipelajari dari dokumen ini. Namun secara keseluruhan saya berpendapat bahwa posisi yang diambil RUPE bersifat puritan.Mereka mengabaikan perkembangan situasi politik lokal dan dunia. Serbuan besar-besaran dari kaum Kanan global (di mana BJP hanyalah satu bagiannya) menuntut kita untuk melakukan pendekatan yang holistik terhadap pembangunan gerakan. Inilah yang dapat kita lakukan melalui Forum Sosial Dunia.
Seperti yang ditulis Merl Curti di tahun 1963 dalam buku klasiknya, American Philanthropy Abroad, Ford Foundation memilik bekerja di Asia Selatan dan Barat karena “kedekatan wilayah ini pada Uni Sovyet dan Cina Komunis dan kesempatan untuk menyalurkan nasionalisme yang sedang tumbuh pada tujuan-tujuan humanitarian konstruktif dalam kerangka kerja demokratik.” Mandat Ford di India adalah untuk memajukan ide kapitalisme pasar bebas, bukan saja berhadapan dengan komunisme melainkan juga dengan nasionalisme radikal (di tahun 1950-an, Nasserisme adalah salah satu target utama).
Sukethu Mehta, penulis Maximum City yang akan diterbitkan tahun depan oleh Knopf, menyataan bahwa Mumbai adalah kota terbesar di planet ini karena “semua masalah di dunia ada di kota ini.” Politik di sarang musuh adalah sebuah politik yang kaya, dan diharapkan bahwa para peserta Forum Sosial Dunia akan meluangkan waktu untuk memahami kota ini, untuk melihat “proses terjadinya bencana urban, tapi” seperti kata Mehta, “juga bagaimana kota ini, biar bagaimanapun, terus berada dalam keadaan segar-bugar.” Salah satu alasannya adalah ketegaran dari kaum Kiri yang terus beroposisi.
Abstrak lain tentang Politik di Sarang Musuh: Forum Sosial Dunia di Mumbai