Hari-hari ini, perhatian, perasaan,
dan pikiran bangsa
Indonesia tercurah pada kondisi mantan Presiden Soeharto yang sedang
terbaring sakit. Ada ekstra kesibukan di mana-mana.
Para dokter rumah sakit sibuk merawat
Pak Harto, para wartawan tak
henti memberitakan kondisi beliau, para kerabat silih berganti membesuk
ke rumah sakit, para politikus tak bosan-bosan memberikan komentar
politik, para simpatisan tak putus-putus memanjatkan doa, bahkan para
mistikus ambil bagian memberikan analisis gaib.Sakit itu kini menjadi ’imagologi kesakitan’
(imagology of sickness): keprihatinan, kedukaan, dan empati yang
dibangun melalui citra-citra media.
Sakit Pak
harto dimuati pula dengan tafsir-tafsir politik, ekonomi,
sosial, spiritual, bahkan mistis. Sakit itu kini dikaitkan dengan
kesalahan politik, dosa sosial, peristiwa mistik, bahkan
fenomena-fenomena spiritual. Sakit itu tidak saja membentuk opini
publik (pro-kontra antara diadili/dibebaskan, dihukum/diampuni), tetapi
juga ”histeria massa” (mass hysteria): gejolak keprihatinan, kedukaan,
dan empati mendalam.
akit itu pun kini menjadi sakit ”hiper-real”, di mana
organ-organ dalam tubuh Pak Harto (jantung, lambung, paru-paru, ginjal,
saluran pencernaan) dinarasikan menit per menit dalam format citra
virtual-digital di dalam aneka media elektronik, yang memperbesar
”efek” sakit dan kesakitan itu sendiri bagi publik—hyperreality of
sickness.
Publisitas
duka Realitas sakit Pak Harto kini menjadi citra duka publik di dalam layar
elektronik. Naik turun detak jantung Pak Harto seakan menjadi naik
turun detak jantung publik; harap-cemas para dokter seakan menjadi
harap-cemas publik; komat-kamit doa keluarga kini menjadi komat-kamit
doa publik. Sakit Pak Harto membangun sebuah ruang ”publisitas” duka, keprihatinan dan doa.Akan tetapi, teknologi informasi tidak saja mampu
memindahkan informasi dengan kecepatan tinggi dan secara real time,
tetapi juga mampu memberi ”pembesaran efek” (amplifier effect) sehingga
duka diri kini menjadi duka setiap orang.
Akan tetapi, citra visual itu tidak selalu merupakan cermin realitas.
Citra-citra ”dipilih” untuk satu tujuan tertentu. Mengambil foto
berarti membingkai (to frame) dan meminggirkan (exclusion), yaitu
menyembunyikan realitas-realitas lain dari mata publik.
Narasi visual Pak Harto yang terbaring sakit dibingkai bersama
narasi-narasi visual masa kecil, kegigihan, keberanian, dan
kepahlawanannya sehingga menggugah empati di hati publik.
Duka sebagai pelupaan
Agama-agama mengajarkan ”etika duka”, bahwa dalam suasana duka tidak
etis menyebutkan aib, kesalahan, dan keburukan seseorang, dan
dianjurkan menyebutkan kebaikan, jasa, dan prestasinya.
Duka memiliki dimensi pelupaan yang buruk dan pengingatan yang baik.
Duka adalah mistik pelupaan (forgetfulness) dan ”pemaafan”
(forgiveness). Adalah terpaan kabut duka yang menyebabkan seorang tokoh
besar dapat berbalik memaafkan musuh besarnya.
Namun, seperti dikatakan Richard Rorty dalam Achieving Our Country
(1998), pemaafan dan pelupaan dapat berujung pada penipuan sejarah
bangsa.Tetapi, di pihak lain tidak menghapus kesalahan dan
kejahatan itu dari lembar sejarah dan mata hukum, dengan menghargai
pula rasa keadilan para korban kejahatan, adalah sebuah situasi
dilematis paling pelik yang dihadapi bangsa ini, sebagai ”batu ujian”
bagi reformasi dan demokratisasi.
Abstrak lain tentang Imagologi Duka Pak Harto