Alan Greenspan Mendung hitam yang membayangi pasar finansial menebar kepanikan dan trauma ke seluruh dunia. Meski kondisi bursa global yang sempat rontok beranjak pulih, ketidakpastian terus menyelimuti. Dalam era globalisasi finansial, ekonomi saling terhubung satu sama lain secara kompleks dan sangat rentan. Pertemuan tahunan Masyarakat Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, yang gencar menyiarkan mantra globalisasi melalui integrasi ekonomi global pun dirundung cemas. Gonjang-ganjing finansial belum tampak berakhir. Tangan gaib Pasar finansial melesat dan mendunia ditopang fundamentalisme pasar sebagai ideologi dominan pada 1980.
Angka transaksi uang yang beredar di pasar modal jauh lebih besar ketimbang yang berputar di masyarakat. Padahal, aset finansial hanya klaim di atas kertas atas aset riil dan aset produktif. Akhir tahun 2004, menurut McKinsey Global Institute, jumlah aset finansial mencapai 334 persen dari total produk domestik bruto (GDP) global. Miliaran transaksi ekonomi antara konsumen dan investor di lantai bursa tak lagi terkontrol.
Bahkan, upaya mengatasi problema yang melanda sering dilakukan dengan data tidak lengkap, tidak akurat, tidak logis, dan tidak kuat secara hukum. Mantan Gubernur The Fed menambahkan, regulasi pemerintah atas pasar global tidak berdampak signifikan. AS pun tidak mampu melindungi warganya yang kehilangan rumah. Pasar bergerak di luar kendali, disusul munculnya aneka masalah. Dalam situasi yang cepat berubah, antisipasi sebuah kebijakan baru tidak efektif karena muncul masalah baru lainnya. Namun, Greenspan percaya, kekuatan terbesar ekonomi AS adalah kemampuan sekaligus daya tahan dalam menghadapi gejolak sambil melakukan pemulihan.
Untuk mengungkap kegembiraan, ketakutan, dan harapan, apakah warga negara dunia harus menanti keajaiban pasar? Bagaimanapun regulasi penting untuk menata pasar, mencegah kepanikan, dan menyediakan aturan kompetisi yang fair. Kerja sama regulasi global dibutuhkan sebagai upaya antisipasi dampak negatif
lalu lintas pasar global. Di sinilah urgensi peran pemerintah dan otoritas moneter guna memonitor dan mengendalikan pasar finansial global—seperti menetapkan capital control—untuk mendukung kebijakan ekonomi global.
Dugaan penyebab krisis umumnya volatilitas globalisasi finansial, kelemahan
fundamental sistem keuangan domestik, liberalisasi keuangan tanpa diikuti regulasi memadai, dan faktor-faktor lainnya. Krisis 1997
telah berlalu 10 tahun. PDB
regional tumbuh rata-rata 4-6 persen antara tahun 1999 dan 2005, lebih rendah dibanding sebelum krisis yang mencapai 7-9 persen (1991-1996). Depresiasi
mata uang belum sepenuhnya pulih. Won membaik 95 persen, baht dan ringgit mencapai 70 persen,
peso 50 persen, tetapi rupiah hanya 25 persen. Sejarah memang berulang. Awalnya Meksiko, menyusul Brasil, Argentina, lalu kembali ke Meksiko, disusul Thailand, Indonesia dan Argentina lagi, dan kini AS.
Abstrak lain tentang Misteri Globalisasi Finansial