(4) Anak-anak KeberuntunganSELAMA
bertahun-tahun, korupsi
di Indonesia adalah semacam bentuk pemberian
komisi dari pembelian, yang umum dijumpai di negara-negara berkembang.
Ada dua faktor yang menyebabkan Indonesia agak berbeda dari yang
lainnya.Pertama, posisi Indonesia sebagai bintang panggung baru
dalam keajaiban ekonomi Asia, yang membawa aliran dana yang mengalir
Ke sektor
bisnis dan real estate. Bank Dunia memperkirakan bahwa antara
tahun 1988 sampai tahun 1996, Indonesia telah menerima lebih dari $ 130
milyar dari investasi asing. Ini semua hanya mungkin di bawah pengaruh
Barat, yang telah mendukung Suharto selama 30 tahun, kata Carel Mohn,
juru bicara Transparansi Internasional, sebuah Organisasi
non-pemerintah (Ornop) yang berbasis di Berlin.Faktor kedua,
adalah anak-anak Suharto. Ke-enam anak-anak
tersebut masuk ke dalam
bisnis, panggilan hati yang telah ada semenjak usia dini mereka. Saya
ingat ketika kami masih remaja, saya dan Bambang dan teman-temannya
datang kerumah Oom Liem, kata seorang teman kecil
Anak Suharto yang
kedua. Oom Liem akan selalu memberi kami sepaket uang yang dibungkus
kertas koran. Paket itu, katanya, berisi cek senilai sekitar $ 1.000
atau lebih.Wati Abdulgani, seorang pengusaha perempuan yang
juga berhubungan dengan perusahaan keluarga Suharto di tahun 1980an
mengatakan: "Anak-anak ini mengamati apa saja yang diberikan oleh
Oom-nya tersebut, dan kemudian mereka berpikir, Bagaimana dengan kami
nanti bila kami sudah besar, apakah bisa seperti dia?"Sigit,
anak yang tertua, secara jelas dipaksa oleh ibunya untuk masuk ke
bisnis. Peran ibunya sebagai orang di belakang layar membuatnya
terkenal dengan sebutan "Madam Tien Percent".Seorang teman bu
Tien pernah berbicara dengannya pada saat pemerintah sedang membangun
bandara internasional Soekarno-Hatta. "Ia bilang pada saya, saya ingin
Sigit belajar tentang Bisnis", katanya. Saya katakan sebaiknya Sigit
menyelesaikan dulu universitas-nya. Jawab ibunya, "Jangan, jangan,
Sigit tidak bisa berpikir jelas".Dua narasumber yang bekerja
untuk proyek Bandara tersebut berkata bahwa ketika kedua terminal
bandara telah selesai di tahun 1984, sebanyak $78,2 juta harus
diserahkan ke Sigit dalam bentuk mark-up yang kelihatannya akan seperti
biaya berjalan. Sigit kemudian beranjak ke bisnis yang lebih besar lagi.Di
tahun 1988, Departemen Sosial menetapkan adanya karcis SDSB(Sumbangan
Dana Sosial Berhadiah), yang dipegang oleh perusahaannya. SDSB tersebut
dapat terus beroperasi sampai kemudian terpaksa harus dihapus karena
protes anti-judi dari kalangan Islam di tahun 1993. Pola judi tersebut
membuat Sigit dan perusahaannya mendapat jutaan dollar setiap
minggunya, kata Christianto Wibisono dari PDBI (Pusat Data Bisnis
Indonesia), yang telah mengumpulkan berbagai informasi diseputar bisnis
dan perusahaan-perusahaan yang terkait dengan Suharto semenjak tahun
1980.Anak keduanya, Bambang, mendirikan Group Bimantara di
tahun 1981 bersama dengan dua teman bekas anggota kelompok band
rock-nya. Mereka dibimbing masuk ke bisnis oleh Oom Liem. Dari tahun
1967 sampai tahun 1998, BULOG(Badan Urusan Logistik) mengimpor dan
mendistribusikan bahan-bahan pokok, seperti terigu, gula, kacang, dan
beras melalui perusahaan-perusahaan yang terkait dengan Suharto,
termasuk enam diantaranya milik Liem.Sesuai permintaan Bambang,
Liem memberikan sebagian bisnis kepadanya. Dari perdagangan gula saja,
Bambang mendapat keuntungan sebesar $ 70 juta setahunnya, hanya untuk
menstempel dokumen. Sistem itu berjalan dengan begitu baiknya, sehingga
setiap anak yang mau masuk ke bisnis diberi sebagian-sebagian dari
bisnis tersebut.Praktek tersebut terus berjalan sampai tahun
1998. Dari tahun 1997 sampai 1998, Liem mendapat kontrak dari BULOG
untuk mengimpor sekitar 2 juta ton beras yang bernilai $ 657 juta.
Sebagai bagian dari kontrak itu, disebutkan bahwa anak terkecil
Suharto, Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek) mengimpor 300.000 ton
ber
Abstrak lain tentang Soeharto Inc. (part 4)