(2) Harapan yang BesarBAGAIMANA
perusahaan keluarga Suharto mendapatkan kekayaan
dan kekuatannya; dan
memperpanjang impian jutaan
orang Indonesia lainnya? Ketika Suharto
menjadi Presiden pada
tahun 1967, gabungan yang unik antara kekuatan
dan kepintaran politik orang Jawa telah terwujud.Penyingkiran
kehidupan presiden Sukarno, nasionalis pendiri negara, terlaksana
selama dua tahun
dengan disertai pembersihan anti-komunis yang memakan
korban sebanyak lebih dari 500.000 orang. Namun Suharto, seorang
jenderal yang tidak dikenal dari sebuah desa
di pelosok Jawa Tengah,
mengawalinya dari sebuah kehidupan yang tampaknya sederhana.Ia
dan istrinya Siti Hartinah (Ibu Tien) pada awalnya hidup di rumah
peristirahatan yang sederhana di daerah Menteng, Jakarta dan biasa
mengendarai Ford Galaxy. Hal inilah yang menandai perbedaan yang
kontras antara dia dengan Sukarno, yang dengan gaya hidup bak seorang
raja, dengan istana megah kepresidenannya dan istri ketiganya yang
glamour Dewi, yang sebelumnya
sebagai penyanyi Jepang di night club
Cobacabana di Tokyo. Akan tetapi di balik topengnya, sesungguhnya
Suharto telah menunjukkan awal kesukaannya untuk menghasilkan uang.Di
tahun 1950an, ia diduga terlibat dengan sengaja dalam penyelundupan
gula dan kegiatan extra-militer lainnya di Jawa Tengah, yang
menyebabkannya kehilangan kedudukan sebagai panglima KODAM Diponegoro
ketika terjadi gerakan anti korupsi di tahun 1959.Dalam
otobiografinya, Suharto menegaskan bahwa ia menukar gula untuk
mendapatkan beras, dalam upaya mengatasi kekurangan pangan lokal dan
secara pribadi ia tidak mendapatkan keuntungan darinya. Pada akhirnya,
pihak militer memindahkan Suharto ke posisi yang tidak memiliki
pengaruh kuat yaitu di sekolah staf angkatan bersenjata di Bandung,
Jawa Barat.Pada tahun 1966, bisnis keluarga Suharto mulai
terbentuk. Ketika menjadi pejabat Presiden, Suharto mengeluarkan
Peraturan Pemerintah no. 8 untuk merampas dua konglomerasi yang
dikuasai Sukarno yang memiliki aset sebanyak $ 2 milyar. Konglomerasi
tersebut kemudian menjadi PT Pilot Project Berdikari, di mana Suharto
menempatkan pengelolaannya di bawah Achmad Tirtosudiro, seorang
pensiunan jenderal yang pada saat ini mengetuai sebuah organisasi
muslim yang kuat yang didirikan oleh Presiden Habibie. Perusahaan ini
menjadi salah satu jantung utama kerajaan bisnis Suharto.Keberuntungan
presiden mulai melambung bersama-sama dengan beberapa teman dekatnya,
yang paling terkenal adalah Liem Sioe Liong dan The Kian Seng, yang
lebih dikenal sebagai Mohammad "Bob" Hasan. Di akhir tahun 1969,
Suharto memberikan sebagian monopoli – yang pada akhirnya menjadi
monopoli penuh – pada barang-barang impor, pabrik penggilingan dan
distribusi gandum dan tepung pada PT Bogasari Flour Mills, yang
dikuasai oleh Kelompok Salim milik Liem.Bertahun-tahun Liem
dikenal sebagai Oom Liem pada keluarga Suharto dan Hasan menjadi orang
terpercaya Suharto dari luar kalangan keluarga, yang pada akhirnya
memperluas kerajaan bisnisnya sendiri dengan cepat.Dasar keberuntungan Suharto adalah yayasan kepresidenan. Lusinan yayasan telah didirikanseolah-olah
sebagai yayasan amal, dan yang membiayai sejumlah besar rumah sakit,
sekolah, dan mesjid. Tetapi yayasan-yayasan tersebut juga merupakan
dana raksasa yang tidak resmi untuk investasi proyek-proyek Suharto dan
kroninya, maupun untuk mesin politikpresiden, yaitu Golkar.Menurut
George Aditjondro, pengajar Sosiologi di Universitas Newcastle,
Australia, terdapat sekitar 79 yayasan yang dikuasai oleh Suharto,
istrinya (meninggal tahun 1996), saudara-saudara istrinya dari desa,
sepupunya dan saudara tirinya, enam anaknya, keluarga dan orang tua
pasangan anak-anak tersebut, orang-orang militer yang dipercaya, dan
teman-teman dekat lainnya seperti Habibie, Hasan dan Liem."Yayasan-yayasan
tersebut membeli berbagai saham, mendirikan berbagai perusahaan,
meminjamkan uang kepada para pengusaha," kata Adnan Buyung Nasution,
pengacara
Abstrak lain tentang Soeharto Inc. (part 2)