MARAKNYA kasus korupsi (juga dekadensi moral lainnya)
di Indonesia, agaknya bisa dikaitkan dengan rendahnya
apresiasi sastra (juga karya seni lainnya) di negeri ini. Misalnya saja, betapa siswa
sekolah menengah di
Malaysia, Filipina
dan Thailand telah akrab dengan novel-novel karya
Pramoedya Ananta Toer dan karya sastrawan-sastrawan besar dunia
lainnya, sedangkan rekan-rekannya di Indonesia hanya sedikit yang
mengenal sosok Pramoedya Ananta Toer.Kurikulum
Jika rendahnya tingkat apresiasi sastra di Indonesia memang dapat
dikaitkan dengan maraknya kasus korupsi dan dekadensi moral lainnya
(seperti penebangan liar yang menghancurkan ekosistem lingkungan), kita
harus berani menuduh dengan tegas bahwa
Kurikulum pendidikan yang
menjadi biangnya.Kurikulum
Jika rendahnya tingkat apresiasi sastra di Indonesia memang dapat
dikaitkan dengan maraknya kasus korupsi dan dekadensi moral lainnya
(seperti penebangan liar yang menghancurkan ekosistem lingkungan), kita
harus berani menuduh dengan tegas bahwa kurikulum pendidikan yang
menjadi biangnya.Dalam jeratan kurikulum pendidikan yang cenderung
memperbodoh anak didik di sekolah, khususnya yang berkaitan dengan
apresiasi sastra, bangsa kita benar-benar menjadi bangsa yang miskin
spiritualitas, sehingga mudah melakukan hal-hal nista tanpa rasa
bersalah atau malu.
Tanpa bermaksud membesar-besarkan pentingnya sastra bagi kehidupan
manusia, jika sejak kecil anak-anak kurang mendapatkan pendidikan
tentang apresiasi sastra, sangat sulit mengharapkan mereka tumbuh dan
berkembang menjadi manusia-manusia yang memiliki kekayaan spiritualitas
yang dapat membuatnya hidup terhormat. rus dibentuk, sering berawal dari gagasan-gagasan sastrawan yang tertuang dalam karya sastra mereka.
Sastra juga banyak memberikan informasi tentang masa lalu yang
berkaitan dengan sejarah suatu bangsa yang bisa menjadi spirit hidup
dan yang bisa dikembangkan oleh generasi-generasi selanjutnya di
abad-abad berikutnya, dan semua itu hanya bisa dimengerti jika dibaca
dengan seksama.
Oleh karenanya, pendidikan sastra di sekolah-sekolah kita harus
ditingkatkan dan difokuskan ke arah upaya meningkatkan apresiasi
sastra, sehingga anak-anak sejak kecil terdorong untuk bersemangat
mengenal karya-karya sastra dengan serius.Atau, tidak ada kasus tawuran antarpelajar di
negara-negara maju, karena hampir semua siswa di sekolah sudah memiliki
etika dan budi pekerti yang diserapnya dari karya-karya sastra yang
dibacanya.
Layak Ditingkatkan
Ketika agama dan berbagai perangkat hukum sudah layak dianggap gagal
mengatur kehidupan bangsa, dengan bukti semakin maraknya kasus korupsi
dan kejahatan lain yang berdampak buruk dan luas pada masa depan umat
manusia di negeri ini, apresiasi sastra sudah selayaknya ditingkatkan.Ini karena di balik deskripsi tersebut secara implisit terdapat rambu-rambu yang menjelaskan dua arah yang saling berlawanan.
Dalam hal ini, karya sastra seburuk apa pun bisa “mendidik” pembacanya
untuk bersikap kritis dalam memilih dan memihak nilai-nilai moral yang
ditawarkannya.
Dan untuk lebih amannya, jika memang ada niat baik untuk meningkatkan
apreasiasi sastra di sekolah-sekolah kita, pihak otoritas sekolah dapat
memilih karya-karya sastra klasik yang banyak memuat nilai-nilai
tentang ajaran moral dan spiritualitas hidup untuk menjadi kajian
siswa-siswanya.
Abstrak lain tentang Adakah Hubungan Sastra dan Korupsi?