Setelah menyelesaikan beberapa lembar tilawaah alquran dan alma’surat, maka pekerjaan favorit saya adalah pekerjaan membaca. Dengan ditemani secangkir kopi manis, sayapun melahap menu berita yang disuguhkan di koran tersebut. Hal
ini saya lakukan
untuk mengimbangi rasa haus saya
akan informasi yang biasa saya dapatkan dari media televisi.Dalam milis tersebut, topik yang paling menggairahkan untuk didiskusikan adalah tentang kedatangan Ahmadinejad ke Indonesia.
Salah satu usulan yang paling menarik dari salah seorang miliser adalah
agenda aksi untuk menyambut kedatangan presiden Iran tersebut. Eits...!. Tunggu dulu, anda jangan terburu-buru untuk mngambil kesimpulan.
Ini bukan aksi untuk menentang kedatangan Ahmadinejad, akan tetapi aksi
yang dimaksud adalah aksi pnyambutan selamat datang kepada sang
presiden, yang begitu lantang mengkampanyekan: Say no to Amerika.
Di halaman pertama koran tersebut tepampang gambar
Presiden Iran Ahmadinejad yang sedang mengakat tangannya, hampir
sejajar dengan mukanya. Pertanda keakraban sebagai seorang tamu
negara kepada tuan rumah (indonesia). Ya!, benar saja, presiden Iran
tersebut tiba di indonesia melalui bandara Halim Perdana Kusuma
pada rabu (10/5) pukul 00.00. Ahmadinejad datang ke indonesia dalam rangka
kunjungan kenegaraan sekaligus membawa agenda bisnis. Mereka ingin
bekerja sama dalam hal pengmbangan perminyakan.Yang lebih parah lagi, gaya kepemimpinan pemimpin kita justru tidak jauh beda dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya.
Mereka tidak berani mengambil jarak dengan negeri-negeri kapitalis,
terkecuali Soekarno yang secara terang-terangan menantang kapitalisme.
SBY yang mantan jenderal militer tersebut, sulit untuk menjauhkan
negeri ini dari negara-negara kapitalis terebut.
Berbeda halnya dengan Ahmadinejad, yang kahir-akhir ini begitu santer
menghiasi opini dunia lantaran proyek pengembangan tenaga nuklir di
negeri itu. Presiden Bolivia tersebut dengan berani mengusir
pemodal-pemodal asing yang mengelola industri-industri strategis negara
tersebut. Kebijakan Nasionalisasi Morales tersebut adalah
implementasi dari janji-janjinya selama masa kampanye. Sikap penolakan
terhadap intervensi asing juga ditunjukan oleh Presiden Venezuela Hugo
Chavez. Venezuela adalah negeri penghasil minyak terbesar di kawasan
Amerika latin. Kita juga mengenal Pimpinan Cuba yang
seangkatan dengan Ernesto Che Guevara, Fidel Castro yang dengan lantang
menolak intervensi Amerika, walaupun ia terkadang oportunis dan
kontroversial. Seorang anak muda yang cerdas dan kritis terhadap kemapanan ideology yang telah menyesatkan kaumnya.
Dalam usia muda ibrahim mampu mengkritisi tradisi dan keyakinan
masyarakat yang menyembah berhala, termasuk orang tuanya sendiri.
lebih dahsat dari
itu ibrahim muda menantang penguasa yang dzalim pada
waktu itu yakni Raja Namrud yang mengklaim menguasai hidup dan mati. Atau seperti keberanian Fidel Castro yang walaupun
usia tidak muda lagi, tetapi semangat mudanya serta semangat
perlawanannya terhadap kemapanan yang coba di tawarkan oleh
bangsa-bangsa kapitalis mampu ia kobarkan. Atau seperti Ismail Haniyyah sang perdana menteri Palestina.
Di tengah perkonomian bangsa yang terpuruk ini, justru berbanding
trbalik dengan pola hidup pejabat-pejabatnya yang masih sering (suka)
berbelanja di luar negeri.Sepertinya, bangsa ini butuh kearifan dan kecerdasan
untuk hidup sederhana dan tidak foya-foya serta tidak tergantung pada
negara-negara kapitalis. Seperti rakyat palestina yang siap makan daun-daunan jika saja negara itu dimbargo oleh Amerika dan sekutunya. Sepertinya bangsa ini butuh rasa kindonesiaan yang kental, agar negeri ini tidak mengalami
mental yang kollaps. Mungkin negeri ini butuh pemimpin-pmimpin muda yang berani dan bersmangat.
Negeri ini mungkin sudah kenyang dipimpin oleh pemimpin-pmimpian tua.
Tapi, kapankah negeri ini akan dipimpin oleh orang-orang muda?. Orang-orang muda yang cerdas, jujur, adil yang pada akhirnya menjadikanindonesia ini sejahtera. Kita tunggu saja pemilu 2009 nanti. Wallahualambishowaab.
Abstrak lain tentang Ahmadinejad, SBY dan (ke) Indonesia (an) Kita