Pihak
berwenang Kamboja mendakwa dua
mantan menteri rezim Khmer Merah dengan pasal
kejahatan terhadap kemanusiaan.
Mantan Menteri Luar Negeri Ieng Sary dan istrinya, Ieng Thirith, ditahan di ibukota
Kamboja, Phnom Penh. Ieng Thirith pernah menjabat sebagai menteri sosial.
Pasutri,
yang membantah bersalah, akan dihadapkan ke majelis hakim di mahkamah genosida
yang disponsori PBB, hari Rabu.
Rezim
berhaluan Maois, yang berkuasa di Kamboja antara tahun 1975 dan 1979,
dipersalahkan atas kematian lebih dari satu juta warga.
Mahkamah
khusus dibentuk tahun lalu untuk mengadili para tokoh Khmer Merah yang masih
hidup.
Koresponden
BBC Penh Guy de Launey melaporkan, Ieng Sary boleh dikatakan mantan
pemimpin terkemuka Khmer Merah yang diseret ke pengadilan.
Kerja paksa
Para
hakim penyidik memerintahkan penahananya atas kecurigaan kejahatan terhadap
kemanusiaan dan kejahatan perang.
Ieng
Sary dan istrinya, Ieng Thirith merupakan salah satu pasangan paling berkuasa
dalam hirarki Khmer Merah.
Mereka
belajar bersama di Paris pada tahun 1950an dan menjadi teman Pol Pot yang
kemudian menjadi pemimpin Khmer Merah.
Saudara
perempuan Ieng Thirith kemudian menikah dengan Pol Pot dan memperkuat status
keluarga itu dalam jajaran Khmer Merah.
Sebagai
pemimpin senior, pasangan yang ditangkap itu diyakini oleh jaksa ikut
bertanggungjawab atas kebijakan-kebijakan yang kemudian menyebabkan pengusiran,
kerjapaksa dan eksekusi warga Kamboja.