Halaman Utama Shvoong > Hukum & Politik > Pandangan Hidup Bangsa Terpinggirkan

.

Pandangan Hidup Bangsa Terpinggirkan

Summary rating: 2 stars 28 Tinjauan
Pengarang : Khayun Ahmad Noer
Ringkasan oleh : Wijayandaru
Kunjungan : 1265  kata: 900   Diterbitkan di: Nopember 09, 2007
 



Pandangan Hidup Bangsa Tersingkirkan 

Jika sejarah awal munculnya multikultur sebagai
sebuah gerakan yang hadir akibat dilantunkannya suara-suara minoritas atau
budaya-budaya yang terpinggirkan. Saat inipun multikultural dapat dikatakan masih
berkutat dengan isu-isu tersebut. Hak-hak budaya lokal dan kaum terpinggirkan
yang seringkali tidak diakui sebagai bagian dari budaya bangsa adalah wilayah
kerja utamanya. Meskipun demikian lingkup kerja gerakan ini semakin beragam
dengan semakin banyaknya suara-suara kecil yang ingin diperjuangkan. Budaya
sebagai budaya, tak lagi menjadi isu sentral dalam gerakan ini.



Sesuai perkembangan jaman, budaya yang sering
diartikan sebagai daya cipta, karsa, dan karya manusia—dalam artian positif—
mengalami dekandensi pemaknaan. Hampir semua yang dapat dihasilkan oleh
manusia, saat ini bisa diketegorikan sebagai budaya. Padahal hal ini tentu
mendistorsi nilai dasariah awal budaya itu sendiri. Budaya yang dahulu
diidentikkan sebagai pancaran dari nilai-nilai yang “baik” telah dirubah
menjadi sosok yang lebih beragam dan berwarna.



Hampir selalu, yang menjadi acuan untuk menilai
satu budaya yang baik itu seperti apa, subjektifitas dalam kelompok atau bangsa
akan selalu hadir. Baik dan buruk dapat dilihat dari kacamata masing-masing,
tergantung siapa yang melihat. Bisa saja baiknya nilai budaya satu kelompok itu
dianggap buruk nilai. Dan kebalikan dari itu, buruknya nilai budaya satu
kelompok bisa saja menjadi satu nilai yang baik menurut yang lain. Budaya seks
bebas misalnya, oleh mereka yang menganggap seks bebas sebagai sesuatu yang
biasa, tentu budaya seks bebas dapat menjadi baik. Padahal, pada umumnya budaya
seks bebas ini memiliki nilai hakiki buruk di dalam dirinya. Kenyataan inilah
yang akhirnya membawa nilai baik dalam budaya itu menjadi relatif.<1>



Kerelatifan nilai baik dalam budaya inipun tak
hanya bersinggungan dengan budaya dari hasil perilaku manusia pada umumnya.
Budaya sebagai satu pandangan hidup bersamapun tak mampu membendung gelombang
ini, tak terkecuali Pancasila sekalipun.



Bangsa ini pasti ingat betul bagaimana Pancasila
pada masa-masa pra-reformasi, dijunjung-junjung dan diagung-agungkan. Di masa
Soekarno—meskipun diduakan—Pancasila masih merupakan pandangan hidup bangsa,
sebagai satu kaidah dengan nilai-nilai baik yang dapat dijadikan pegangan.
Hampir semua setuju bahwa Pancasila adalah baik. Sedangkan di masa Soeharto,
Pancasila mendapatkan tempat suci di dalam diri bangsa ini. Tempat suci itu
menjadikannya sebagai satu pandangan hidup dengan nilai-nilai baik secara
“mutlak”. Hingga apa-apa yang tidak sesuai dengannya harus menjadi
entitas-entitas diri yang terbuang.





Paska reformasi, Pancasila mendapatkan dirinya
dalam kontraposisi dengan dirinya pada masa-masa sebelumnya. Pancasila pelan
tapi pasti, semakin menyingkir dari gegap gempita kehidupan bangsa Indonesia.
Disadari atau tidak, Pancasila mulai mati suri sejak reformasi bergulir. Bangsa
ini menjadi apatis terhadap Pancasila.Kevakuman pandangan hidup bersama ini membawa
dampak yang bisa dikatakan tidak baik. Pertama,
kekosongan ini menjadikan suara-suara minoritas yang dulunya terkekang,
mulai muncul kepermukaan. Padahal bila dibiarkan, suara-suara minoritas yang
semakin vokal akan menimbulkan kebebasan yang keblabasan. Setiap kelompok merasa berhak untuk melakukan apa yang
dirasa menjadi hak mereka. Hak-hak itu diumbar dengan tanpa melihat kewajiban
yang ada karena hak tersebut. Kebebasan inilah yang sekarang menjadi kebebasan
yang tak berarah. Dan tentunya ini sangat riskan dalam upaya menegakkan kembali
bangsa ini.

Kedua, dengan “tiadanya” Pancasila, maka benih-benih
perpecahanpun akan semakin nampak. Meskipun Pancasila sebagai hasil upaya
manusia, namun karena pengupayaannya didasarkan keragaman bangsa indonesia, di
dalam perbedaan itu posisi Pancasila sangatlah vital. Uniknya keberagaman di
dalam Indonesia memerlukan sesuatu yang dapat mengikat keberbedaan itu dengan
tanpa merendakan yang lain. Pancasila hadir bukan atas nama satu kelompok.
Pancasila ada karena menaungi keberagaman dalam bangsa ini.





Menghidupkan
PancasilaBanyak sekali upaya yang dilakukan untuk mencoba
mengangkat kembali Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa. Namun, hingga saat
ini upaya-upaya itu belum begitu menemukan hasilnya. Stigma buruk terlanjur
melumpuhkannya. Sehingga kepercayaan terhadapnyapun kian melemah.



Menemukan cara untuk menghidupkan Pancasila
sebagai pandangan hidup bangsa masih menjadi pekerjaan rumah yang rumit bagi
bangsa ini. Namun, karena pentingnya kehadiran Pancasila, akan lebih baik bila
jalan keluar itu segera ditemukan.



Pancasila tak boleh mati, apalagi menjadi sebuah
prasasti tanpa arti. Jangan biarkan Pancasila semakin beasik maksyuk dengan
kesendiriannya. Dan jangan biarkan Pancasila menjadi satu di antara berbagai
macam suara multikultur lain yang menjerit tanpa dapat didengar suaranya. Save
our nation, save our Pancasila.         









<1> Dari sini saya mempertanyakan adakah nilai baik secara universal.
Dalam artian nilai baik yang bisa diakui oleh semua laipisan dan kalangan.
Hampir dipastikan tidak ada jawaban, ya! Di situ. Yang perlu digarisbawahi,
“nilai” yang saya maksud di sini adalah bukan nilai universal secara hakiki.
Karena kalau membahas nilai universal ini secara hakiki, jelas nilai baik
budaya tak ada yang relatif. Nilai universal yang hakiki, akan menyatakan bahwa
nilai yang baik adalah nilai yang baik berdasar kebaikan dalam dirinya. Dan
saya pikir nilai semacam ini tak akan tersentuh oleh manusia.

Abstrak lain tentang Pandangan Hidup Bangsa Terpinggirkan
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Jumlah komentar dalam abstrak ini: 1

Komentar

Showing 1 out of 1   Tambahkan komentar Anda
  1. pancasila

    jimmy

    07 Januari 2008

    gimanapun juga pancasila adalah harga mati

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------