Senjata Perang, Antara Manfaat
dan Mudaratnya
Menteri Pertahanan Jepang menentang pelarangan
penggunaan
Senjata bom curah (Republika, 26/07). Penentangan ini terkait dengan
keinginan Jepang untuk menambah koleksi bom curah yang dimilikinya—saat ini
baru empat jenis bom curah yang dipunyai negara ini. Keinginan Jepang ini,
tentu diterima komunitas
dunia dengan pro dan kontra. Yang mendukung penggunaan
senjata ini, tentu akan mendukung keinginan Jepang, meskipun asumsi ini tak
seratus persen benar. Sebaliknya, mereka yang kontra dengan penggunaan senjata
ini mungkin akan mengutuk tindakan Jepang ini.
Pro dan kontra mengenai penggunaan bom curah
sempat menghangat beberapa bulan yang lalu, ketika Israel menyerang Hizbullah
di Jalur Gaza, Palestina. Ketertarikan dan kekhawatiran terhadap senjata ini menimbulkan
satu polemik yang tak akan habis dibahas. Dan polemik itu terus berkutat dengan
mengangkat isu perdamaian dunia,
dengan argumen masing-masing tentunya. Baik yang pro maupun kontra hampir pasti
menggunakan alasan ini untuk menguatkan pendapat masing-masing. Perdamaian dunia akan ada jika negara-negara di
dunia benar-benar mau menjaga perdamaian, inilah yang seharusnya dicamkan. Baik
dengan menggunakan senjata, maupun dengan jalan damai—bisa dengan pelarangan
penggunaan dan pemilikan senjata-senjata perang.Jalan untuk mewujudkan perdamaian dunia kategori
pertama (menggunakan senjata) adalah jalan yang mengisyaratkan bahwa penggunaan
senjata tipe berat atau bahkan
kategori ringan hanya digunakan jika memang situasi benar-benar
memerlukannya—lebih tepatnya, sekedar untuk pembelaan diri. Tak ada konsekuensi
lebih dari itu, dalam hal ini. Penggunaan senjata perang, tanpa alasan-alasan
ini adalah tindakan yang merusak upaya mewujudkan perdamaian dunia. Harusnya prinsip
ini ditanam dalam-dalam oleh semua negara. Pemilikan senjata
Perang dibolehkan sebagai
langkah antisipasi bila ada serangan dari musuh misalnya. Jadi dalam opsi
pertama ini, penekanannya terletak pada upaya pembelaan diri demi terciptanya
keamanan, tidak lebih dari itu.Namun, kategori pertama itu tak akan bisa
benar-benar bisa mewujudkan perdamaian dunia. Karena masing-masing negara memiliki
senjata-senjata perang yang moncongnya mengarah satu sama lain. Akan selalu ada
ketakutan akan serangan negara lain. Di titik inilah kemudian perlombaan untuk
membuat senjata perang benar-benar menemukan lajunya. Yang satu ingin membuat
senjata tercanggih, dan satunya lagi membuat senjata penangkal yang lebih canggih
lagi. Dan begitulah seterusnya, hingga perang benar-benar muncul.Kekhawatiran terhadap senjata perang itu, dari
sini nampak begitu relevan. Bagaimanapun dengan adanya senjata perang apalagi
senjata pemusnah masal di muka bumi ini, maka ketegangan di dunia ini akan
selalu ada. Ketegangan yang disalurkan melalui perlombaan pembuatan senjata
masal pada akhirnyapun akan membawa peperangan antar negara pemilik senjata
dengan mengorbankan negara-negara yang miskin senjata. Dengan alasan apapun, seharusnya kepemilikan
senjata perang tidak dapat diperbolehkan. Perdamaian dunia tak akan pernah
tercapai dengan senjata. Perdamaian dunia akan muncul bila masing-masing
negara-negara mau melucuti dan memusnakan senjata-senjata mereka—terutama
senjata pemusnah masal.Bayangkan bila semua negara tidak memiliki senjata
pemusnah masal misalnya, tentunya ketegangan antara Amerika dengan Korea Utara
yang membawa dunia pada kondisi kepanasan, tentu tak perlu ada. Korut yang
seharusnya tidak menginginkan memiliki senjata pemusnah masal, karena melihat
negara-negara besar memiliki senjata itu, maka keinginan untuk memilikinya pun
muncul. Upaya-upaya untuk memiliki senjata, seperti Jepang
yang menginginkan lebih banyak lagi bom curah, adalah indikasi awal terjadinya
sebuah perang. Di mana masing-masing negara berhasrat memiliki senjata yang
paling canggih. Senjata-senjata perang semakin menjadi phobia setiap negara. Ketakutan-ketakutan ini bukannya tak mungkin
mengarah pada penciptaan perang. Berawal dari perlombaan senjata, sebagai moda
unjuk gigi, kemudian berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi. Dan kemudian
ucapkan selamat datang pada Perang Dunia ke-III! Penciptaan senjata memunculkan peran-peran antagonis satu sama lain.
Yang kemudian berperan menjadi musuh-musuh yang seolah mengancam keamanana
negara. Ketakutan dicipta, teror ditebar, dari mereka, oleh mereka, dari mereka
sendiri. Tak ada aktor lain selain mereka yang berkutat pada penggunaan
senjata-senjata perang itu
Abstrak lain tentang Senjata Perang, Antara Manfaat dan Mudaratnya