Reformasi di Indonesia memunculkan gejala menarik.
Wartawan kembali berminat ke gelanggang
politik. Para kuli
ini tinta ini berminat sekali masuk ke parlemen. Bahkan, untuk posisi di eksekutif pemerintahan pun mau. Pemilihan umum yang menerapkan pemilihan langsung membuat sejumlah wartawan yakin bisa memperoleh suara banyak.
Dosen Jurnalistik Fikom Universitas Islam Bandung (UNISBA) ini, tidak mempersalahkan para wartawan yang
memiliki nafsu politik ini. Ia memberikan cuplikan sejarah lampau Indonesia. Ketika kongres pertama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) berlangsung, pembicaraan kongres tertuju bagaimana mengusir penjajah
dari bumi pertiwi. Ini salah satu bukti bahwa para wartawan di Indonesia memiliki akar historis dengan politik.
pers pada masa ini menjadi senjata para intelektual untuk mendengung-dengungkan kemerdekaan Indonesia. Pers sudah menjadi senjata perjuangan. Pers benar-benar digunakan untuk membentuk opini publik. Tokoh sebagai contoh ialah Abdul Rivai, Soewardi Soerjaningrat, R.M. Tirto Adhi Soerjo, Abdul Muis, Wahiddin Sudiro Husodo, HOS Tjokroaminoto, Agus Salim, Soetomo, Soekarno, Muhammad Hatta, Sutan Syahrir, Mr. Sartono, Muhammad Yamin, dan Amir Syarifuddin.
Pertanyaan Septiawan mengarah pada tugas kewartawanan dan nafsu politik. Wartawan, menurutnya, bekerja demi
kepentingan rakyat (pembaca). Wartawan yang baik ialah transparan, sistematis, memverifikasi berita, dan independen. Wartawan sebaiknya memiliki jarak personal dengan kepentingan politikus, birokrat, pengusaha ataupun anggota dewan rakyat. Dari sinilah akan terlihat, apakah seorang wartawan bisa mandiri dari pelbagai kepentingan atau malah mengutamakan kepentingan tertentu.
Abstrak lain tentang Wartawan Politis