Pemikir
Islam Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam
Liberal mengatakan, pemikiran baru
progresif Islam Indonesia di
tingkat makroskopik sudah diselesaikan oleh Nurcholish Madjid dengan dua
gagasan pentingnya, masing-masing ide tentang sekularisasi (1973) dan
ide Islam yang hanif (1992).Yang kini
ditunggu ke depan dari cendekiawan Muslim
setelah generasi Nurcholish, menurut Ulil pada hari kedua Simposium
Refleksi Pemikiran Prof Dr Nurcholish Madjid di Kampus Universitas
Paramadina, Jakarta, Jumat (18/3), adalah pemikiran-pemikiran progresif
mengenai Islam di tingkat
mikroskopik dari para spesialis di berbagai
bidang.
"Sampai sekarang kita belum mempunyai teolog Islam Indonesia atau
filsuf Islam Indonesia dalam pengertian yang benar tentang kata itu,"
kata Ulil dalam sesi Pandangan Keindonesiaan Cak Nur pada simposium
bertema "Menembus Batas Tradisi, Menuju Masa Depan yang Membebaskan"
itu. "Sarjana filsafat mungkin ada beberapa,
tetapi seorang filsuf Muslim yang lahir dari konteks pengalaman
Indonesia, saya kira kita belum punya," kata Ulil lagi.
Secara politis berdampak pada "desakralisasi"
lembaga-lembaga Islam, seperti partai Islam, yang selama ini dianggap
suci dan angker. "Bagi Nurcholish, setiap diskursus yang diproduksi
oleh manusia, Muslim, tentang agama, Islam, adalah relatif dan karena
itu harus dipisahkan dari agama itu sendiri yang sifatnya absolut," ujarnya.
Gagasan tentang relativitas wacana agama ini pernah dipakai Nurcholish
sebagai cara mengatasi perpecahan internal dalam tubuh umat Islam
melalui apa yang ia sebut relativisme internal. Yang ditunggu dari generasi setelah Nurcholish adalah
bagaimana memanfaatkan ruang intelektual yang sudah direlatifkan itu
untuk pengembangan gagasan-gagasan keislaman yang lebih baik di masa
depan untuk kemaslahatan umat," kata Ulil.
Motor utama dan pendiri Jaringan Islam Liberal ini menyatakan,
tantangan yang harus dijawab adalah bagaimana mengisi ruang intelektual
yang sudah direlatifkan itu. Ruang tersebut harus diisi dengan beragam gagasan baru yang muncul di permukaan dan terlibat dalam diskusi publik yang sehat.
Dalam situasi yang terbuka ini tantangan yang harus dihadapi adalah spesialisasi. Masing-masing orang harus masuk ke bidang khusus yang spesifik dan merumuskan gagasan Islam dari sana. "Sekarang kita tidak punya ahli-ahli Islam dalam
jumlah yang memadai dan kompeten dalam bidang spesifik, seperti
filsafat, mistik, teologi, sastra, ekonomi, politik," kata Ulil.
"Jika pemikiran Islam setelah Nurcholish hendak digerakkan makin maju,
maka spesialisasi dalam bidang-bidang khusus harus makin kuat. Bahtiar yang disodori tema "Sosialisme Religius:
Sebuah Tawaran Alternatif" oleh panitia mengatakan, dari sejumlah
tulisan Nurcholish yang terkumpul dan pernah ia baca, gagasan
sosialisme religius itu tidak pernah muncul.
Paling banter pernah dia temukan sepintas dalam transkripsi ceramah
Nurcholish yang berlompat dari satu pemikiran ke pemikiran lain.
Terhadap pernyataan Bahtiar tentang sosialisme religius ini, Ulil
menimpali bahwa ia pernah mendengar komentar Nurcholish mengenai
mekanisme penentuan harga dalam ekonomi. Ketika itu Nurcholish mengutip hadis yang berbunyi "sesungguhnya Allah-lah yang menentukan harga".
Kalau jawaban Nurcholish ini diterjemahkan dalam faham kapitalistik
Adam Smith, menurut Ulil, Tuhan di sini adalah apa yang dikatakan Smith
sebagai invisible hands. "Dalam pengertian itu, pandangan Nurcholish tentang ekonomi adalah kapitalistik," kata Ulil yang disambut tepuk riuh peserta simposium yang berjumlah sekitar 200 orang itu.
Abstrak lain tentang Setelah Nurcholish Madjid, Ditunggu Pemikir Progresif Islam di Tingkat Mikroskopik