Tulisan Nasrul Azwar di kolom ini (‘Sejarah
Pers Sumbar Dialih Orang Lalu”, Padang Ekspres online, 17-12-2007: Teras
Utama) menarik perhatian kita karena beberapa kritik yang
dilontarkannya, yang selama ini tidak pernah mendapat perhatian
kalangan peneliti dan masyarakat pada umumnya.Pilihan Taufik Rahzen dkk. itu secara tidak langsung
mengandung makna bahwa Medan Prijaji-lah pers pribumi yang paling
berjasa dalam menyemaikan perasaan
nasionalisme ke dalam dada kaum
pribumi di Zaman Kolonial, untuk tidak mengatakan paling ‘nasionalis’.Dalam tulisan Andreas itu juga terefleksi kekhawatiran
bahwa pilihan itu dapat mengecilkan arti dan sumbangan
surat kabar-surat
kabar dan editor-editor non pribumi dan editor-editor
pribumi lainnya dalam pembentukan nasionalisme bangsa Indonesia sejak
paruh kedua abad ke-19.
Dalam pengantarnya untuk rubrik “Seabad Pers Nasional”
di harian Jurnal Nasional, Taufik Rahzen mengatakan bahwa Medan Prijaji
adalah surat kabar pribumi yang pertama kali menyebarkan semangat rasa
mardika dalam bentuk pemberitaan dan advokasi.
Namun, sebenarnya jauh sebelum itu sudah banyak penulis pribumi, bahkan
juga berapa orang Belanda sendiri yang bersimpati kepada bangsa
Indonesia, yang telah mengguratkan pena tajamnya dalam tulisan-tulisan
mereka di surat-surat kabar berbahasa Melayu atau Belanda untuk
mengeritik kebijakan politik Pemerintah Kolonial Belanda dan membela
rakyat Indonesia, yang mengakibatkan mereka “terinjak duri tulisan”
(persdelict)– meminjam istilah Maisir Thaib (1992). Hal itu digambarkan oleh Ian Proudfoot dalam esainya yang terbaru,
“Room to Manoeuvre in the Nineteenth-Century Indies Malay Press: The
Story of A Javanese Lieutenant” (Indonesia and the Malay World Vol. 25,
No. 102, 2007: 155-82) yang menunjukkan sumbangan
surat kabar Bintang Timor yang terbit di Surabaya dalam menyemaikan
paham kebangsaan dalam diri kaum pribumi. Pada
tahun 1865 Bintang Timor menerbitkan “Hikayat Seorang Letnan Jawa”
dimana di dalamnya secara sembunyi, halus, dan terselubung diselipkan
‘perasaan nasionalisme’ dan kritik kepada Pemerintah Kolonial Belanda,
sehingga memungkinkan surat kabar itu lolos dari ranjau pers yang
dipasang melalui Press Ordonansi 1856.
Medan Prijaji yang lahir di awal abad ke-20 hanya
salah satu surat kabar pribumi yang lahir untuk menyirami dan
membesarkan benih nasionalisme keindonesiaan yang telah ‘disemaikan’
oleh banyak surat kabar pribumi berbahasa Melayu yang terbit sebelumnya
dan yang pada masa sesudahnya terus bergiliran tumbuh dan pergi
(berhenti terbit karena berbagai alasan).
Abstrak lain tentang Hari (Jadi) Pers Nasional: Meremehkan Peran Surat Kabar Lain