• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Hukum & Politik>Bendera Kita Tidak Lagi Berwarna

.

Bendera Kita Tidak Lagi Berwarna

oleh : Robinz     

Pengarang : Robinson
Selama kita masih tinggal di Negara ini dan masih menginjak tanah Negara ini, tidak kah kita pernah bertanya pada diri kita
sendiri “Apa yang sudah saya berikan buat negara ini?”,  kenapa saya harus melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi negara ini?, dalam bentuk apa saya harus membangun bangsa ini?, kapan saya harus memulai untuk membangun bangsa ini? dimana saya harus memulai untuk membangun bangsa ini? dan pertanyaan terakhir yang harus dipertanyakan adalah apakah saya mencintai negara ini?.   Secara tidak sadar kita telah melakukan tindakan Abandonment bagi negara ini, loyalitas kita untuk negara ini telah hilang, kita telah menghakimi negara ini sebagai negara yang tidak mempunyai nilai dan harga, dan tanggapan – tanggapan seperti inilah yang akhirnya menjadikan negara kita tidak dapat dimanfaatkan lagi, karena rasa kepercayaan kita terhadap negara ini telah dimanfaatkan oleh para pemeritah kita. Idiologi Pancasila yang dulunya kita banggakan sekarang hanya menjadi tulisan yang sekedar untuk dihafalkan saja di sekolah - sekolah, dan kita lupakan begitu saja setelah lulus sekolah.   Media massa seperti koran sangat penting sekali peranannya, yang dalam hal ini gunanya untuk dapat membuka lebar mata – mata kita yang selama ini telah dibutakan oleh sebagian orang – orang “Berdasi” yang tidak bertanggung jawab. Sudah terlalu banyak orang yang jahat di negara ini, dan ini kesempatan kita untuk melakukan suatu hal yang baik bagi negara ini, sesuatu yang bisa memajukan bangsa ini.   Tidakkah kita menyadari bahwa yang dapat menyelamatkan bangsa kita sekarang ini adalah diri kita sendiri, kita sendiri yang dapat menentukan kemana tujuan bangsa ini berlari dan bukan ditentukan oleh negara lain. Seharusnya rakyat dan pemerintah harus saling koordinasi untuk memajukan bangsa ini, namun dalam kenyataanya di dalam lapangan tidak demikian, yang terjadi malahan sering timbulnya diskriminasi antara SARA, dimana sering kita lihat dan dengar selalu saja terjadi perseteruan antara suku, kaum, umat dan pendapat. Ya memang negara ini adalah negara yang berdiri berdasarkan demokrasi, yang berdiri untuk memperjuangkan Hak Asasi Manusia Indonesia, namun kelihatannya kita seperti memakan demokrasi itu sendiri, menindas dan menipu yang lemah dengan diiming-imingi kemakmuran seperti disurga dan kalau  boleh dikatakan secara diam – diam kita telah memperkosa kehormatan negara ini. kemana negara ini akan menuntut? Adakah pengacara untuk negara ini? adakah saksi mata untuk negara ini?, tidakah kita semua memang hanya berpura – pura buta?
Diterbitkan di: September 03, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Komentar

Showing 1 out of 1   Tambahkan komentar Anda
  1. 0 Tinjauan 23 Juni 2009
    1

    Sawunggalih

    ideologi

    Ideologi dimulai dari pandangan hidup bangsa. Pandangan yang lahir dari kesamaan nasib, sejarah yang sama suatu bangsa dan menjadi "way of life". Tentu saja itu awalnya berangkat dari keberagaman nilai lokal (local genius). Pancasila lahir dari adanya hidup dalam kebersamaan nasib untuk mengubah nasib bangsa ke depan menjadi lebih baik. Memang harus diupayakan bersama, dengan pandangan positip, bangsa ini bisa menciptakan masa depan yang lebih baik dari kenistaannya sewaktu dijajah bangsa Barat (Belanda dll). Kalau secara sendiri-sendiri, ya muskil.

Bookmark & share this post

.