Mengubah Sampah menjadi Pupuk Ramah Lingkungan
Ketika revolusi hijau melanda dunia diawal abad ke 20, negara-negara
agraris berlomba-lomba meningkatkan produksi pertanian mereka dengan bantuan pupuk kimiawi, termasuk indonesia. Namun beberapa tahun kemudian diketahui kalau penggunaan pupuk kimiawi pada akhirnya bisa merusak struktur tanah dan banyak diantaranya yang juga bisa membahayakan kesehatan manusia yang mengkonsumsi produk pertanian tersebut
Kini masyarakat dunia kembali ke alam. Berbagai jenis makanan yang diperjualbelikan pun harus bebas dari berbagai unsur kimia berbahaya, sehingga mucul istilah makanan yang dikonsumsi itu harus aman dikonsumsi, bernutrisi tinggi dan ramah lingkungan.
Untuk memenuhi hal tersebut, maka salah satu unsur yang akan mempengaruhi dalam memproduksi makanan adalah pupuk yang digunakan untuk menyuburkan tanaman. Karena itu pupuk pun dibuat dari bahan organik, berupa sisa-sisa limbah rumah tangga, seperti sisa potongan sayur, buah-buahan, ikan, kertas dan lain-lain, kecuali bahan yang terbuat dari bahan sintetis yang sulit untuk diurai oleh bakteri pengurai seperti bahan yang terbuat dari plastik.
Cara membuat pupuk organik inipun tidak begitu sulit, hanya menggunakan teknologi yang sangat sederhana dengan bantuan berbagai jenis bakteri dan jamur, yang dipendam dalam suatu peralatan sederhana sehingga terjadi permentasi. Masa pemendamannya pun lebih kurang hanya lima hari. Hasil dari penguraian berbagai jenis bakteri itu adalah kompos atau pupuk padat dan pupuk cair.
Pengolah sampah sederhana yang bisa membuat pupuk organik tersebut kini sudah banyak dijual dalam sekala rumah tangga, dan harganya pun cukup terjangkau yaitu di bawah Rp 10 juta. Dan jika ini dimanfaatkan, maka persoalan sampah di perkotaan yang selama ini menjadi problema pemerintah dapat ditekan seminimal mungkin.